Harapan menjadi tekanan, tapi tekanan bisa menjadi motivasi. Minwoo Lee mewujudkan harapan meraih gelar profesional pertama dengan mengikuti jejak sang kakak, Minjee Lee.

Menjalani karier profesional bersama kakak kandung sendiri terkadang bisa memberi tekanan tersendiri. Terutama jika semasa amatir sama-sama menuai sukses. Dan kakak-beradik Lee—Minjee dan Minwoo—mendapat sorotan publik, lantaran memiliki latar belakang yang demikian.

Dari kedua kakak-beradik tersebut, kiprah Minjee memang paling sukses. Sejak beralih profesional pada tahun 2014, Minjee, yang lebih tua dua tahun daripada Minwoo, meraih gelar mempertamanya pada tahun kedua sebagai profesional. Dan hingga saat ini ia telah merengkuh lima gelar LPGA. Hanya pada tahun 2017 ia tak meraih kemenangan apa pun.

Pada satu sisi, sebenarnya kurang adil jika membandingkan sang adik dengan sang kakak. Terutama mengingat Minwoo sendiri baru setahun melakoni karier profesional. Dan tahun 2019 lalu, ia sendiri meraih sejumlah hasil yang solid, meskipun belum meraih kemenangan. Lima kali ia finis di jajaran sepuluh besar dengan empat di antaranya berada di zona lima besar. Ia mencatatkan prestasi awal tahun yang solid dengan finis di peringkat 4 ajang European Tour, Saudi International powered by SBIA, dan menutup tahun dengan finis T3 pada Australian PGA Championship.

Jadi, jika melihat rangkaian catatan tersebut, sebenarnya sukses bagi Minwoo hanya tinggal menunggu waktu. Lalu terbukti bahwa waktu tersebut ialah hari Minggu (9/2) ini.

Bermain pada ajang ISPS Handa Vic Open, tekanan bagi Minwoo kembali hadir lewat fakta bahwa sang kakak telah dua kali menjuarai ajang ini untuk kelompok wanita. Kala itu turnamen ini juga belum menjadi kalender LPGA. Kemenangan pertama Minjee sebagai amatir tahun 2014 dan tahun 2018 menciptakan harapan agar sang adik bisa melengkapi keberhasilan sang kakak.

 

Sejak 2019 lalu, ISPS Handa Vic Open menjadi salah satu bukti kolaborasi yang menarik dari LPGA dan European Tour. Ajang ini mempertandingkan turnamen yang sama bagi pria dan wanita di lokasi yang sama, juga dengan memperebutkan hadiah uang yang sama. Artinya, kedua kakak-beradik ini sama-sama bertanding pada ajang yang sama.

“Bisa bersama keluarga di sini jelas menjadi suatu hal yang positif,” ujar Minwoo. “Artinya, ada masakan rumah, dan saya tak banyak menikmati masakan rumahan dalam beberapa tahun terakhir, jadi rasanya menyenangkan sekali.”

Terlepas dari persaingan untuk berlomba menjadi yang terbaik, kekuatan keluarga itulah yang menjadi bekal penting Minwoo untuk bermain cemerlang pekan tersebut. Setelah terpaut hanya tiga stroke dari pimpinan klasemen hari kedua, Minwoo mengambil kendali klasemen setelah pada hari ketiga membukukan skor 4-under 68 dan menyimpan bekal tiga stroke dari dua rekan senegaranya, Marcus Fraser dan Travis Smyth dengan skor total 15-under 201.

Dari Tekanan Menjadi Motivasi
Harapan bisa menjadi tekanan, dan tekanan bisa menjadi motivasi. Bagaimana Minwoo bisa melakukannya?

“Kakak saya menang dua kali di sini dan pasti menyenangkan bisa menjuarai sebuah turnamen. Saya pikir (kalau bisa memenangkannya), turnamen ini akan menjadi satu-satunya turnamen dengan kakak dan adik bisa menjuarainya. Pasti keren sekali kalau bisa mewujudkannya!” ujar Minwoo.

Minwoo Lee menilai kegagalannya untuk menembus putaran akhir pekan di Arab Saudi menjadi berkat tersendiri yang memberinya kemenangan pertama justru di negeri sendiri. Foto: Golf Australia.

 

Meski memulai putaran final dengan keunggulan tiga stroke, tekanan justru hadir dari pegolf Selandia Baru, Ryan Fox yang secara mengagumkan membukukan skor terendah pada putaran final, 8-under 64. Mengagumkan, namun tak cukup menghentikan langkah Minwoo untuk mewujudkan gelar profesional pertamanya, sekaligus menjawab harapan dirinya sendiri untuk bisa menuntaskan pekan ini dengan kemenangan.

“Saya hanya tidur enam setengah jam, yang sebenarnya tidak bagus juga, tapi saya sangat bersemangat untuk bermain. Bukan karena merasa gugup, sebaliknya saya ingin melakukan pukulan-pukulan (solid seperti putaran sebelumnya) lagi dan lagi,” tutur Minwoo yang disambut sang kakak usai kemenangannya.

“Saya melakukan pukulan demi pukulan (pada putaran final ini). Kedengarannya memang klise sih, tapi begitulah adanya. Anda tak boleh mengkhawatirkan hal lainnya. Lagipula pukulan saya juga sedang bagus, jadi untuk urusan pukulan saya pikir saya memberi nilai 9 buat diri sendiri.”

Minwoo jelas menganggap kemenangannya ini menjadi kemenangan besar dalam kariernya. Tidak hanya lantaran ia meraih kemenangan pertama dan mengikuti langkah sukses sang kakak, tapi juga lantaran tak banyak turnamen besar di Australia.

Satu-satunya yang mungkin terasa kurang bagi Minwoo ialah bahwa sang kakak harus finis di posisi T6. Pegolf Korea Park Heeyoung meraih kemenangan usai melakoni empat hole play-off, menyingkirkan Ryu Soyeon dan Choi Hyejin.