Phil Mickelson sukses meraih kemenangan bersejarah dengan menjuarai PGA Championship kedua dan gelar Major keenam dalam kariernya.

Phil Mickelson menulis ulang sejarah golf dengan menjadi pegolf tertua yang menjuarai ajang Major, menyusul keberhasilannya memastikan keunggulan dua stroke untuk memenangkan PGA Championship kemarin (23/5).

Dalam usia 50 tahun, 11 bulan, dan 7 hari bintang golf veteran Amerika ini meraih gelar Major keenam dan ajang PGA TOUR ke-45 dalam kariernya. Skor 1-over 73 pada putaran final itu sudah cukup untuk memupus harapan Louis Oosthuizen (73) dan Brooks Koepka (74), yang terpaksa harus puas finis di posisi kedua pada ajang Major yang dimainkan di Ocean Course Kiawah Island Golf Resort ini.

Mickelson, yang mengawali putaran final itu dengan keunggulan satu stroke, tampak mengalahkan waktu dan para pemain bintang lainnya untuk menggantikan Julian Boros (48 tahun, 4 bulan, dan 18 hari saat menjuarai PGA Championship 1968) sebagai pegolf tertua yang meraih gelar Major. Kemenangan ini turut menempatkannya bersama Sam Snead, Davis Love III, dan Raymond Floyd yang bisa meraih kemenangan dalam empat dekade karier mereka pada PGA TOUR.

”Ini perasaan yang luar biasa. Saya meyakini bahwa kemenangan ini masih memungkinkan, tapi semuanya berpendapat berbeda. Saya berharap keberhasilan ini memberi inspirasi bagi orang lain. Memang butuh sedikit latihan ekstra dan upaya yang sedikit lebih berat untuk mempertahankan fisik dan mempertahankan kemampuan, tapi pada akhirnya semua hal tersebut sepadan. Saya sangat menghargai bisa mengangkat Trofi Wannamaker ini lagi,” papar Mickelson, yang mengumpulkan skor total 6-under 282.

”Saya mencintai olahraga golf ini dan apa yang saya lakukan dan mencintai tantangan untuk bersaing menghadapi para pemain hebat. Saya pikir saya sudah memiliki pengalaman seperti itu.”

 

 

Koepka, yang mengincar gelar Major kelimanya, lekas melayangkan pujian usai duel yang mereka lakoni. ”Hanya saja putting saya begitu buruk dalam dua hari terakhir. Dalam tiga hari terakhir ini malahan. Saya rasa saya kehilangan beberapa tap-in putt. Sama sekali tidak terasa nyaman, dan Anda takkan bisa menang jika melakukan kegagalan tersebut,” ujarnya.

”Masalahnya, Phil bermain luar biasa. Rangkaian hole setelah kami menuntaskan hole 4 dan 5 dan memainkan hole-hole tersebut, posisinya jauh ke sisi kiri saya dan cukup sulit untuk pemain nonkidal. Dan situasi seperti itu malah cocok bagi Phil, dan menurut saya ia memainkan rangkaian hole dari hole 6 hingga 13 dengan sangat baik. Saya senang untuk kemenangannya, bagi Amy (istri Phil) dan Tim (saudara Phil, yang menjadi kedi). Sungguh menyenangkan bisa menyaksikannya, cuma sedikit mengecewakan buat saya.”

Tim Mickelson, yang sempat menikmati sukses sebagai pelatih pada Arizona State dan agen untuk Jon Rahm, memberikan gambaran mengapa saudaranya bisa bersinar dalam usia emas.

”Dia bermain sangat baik dalam empat atau lima bulan terakhir, hanya saja semua aspek permainannya tidak selalu bisa selaras. Satu hari putting-nya bisa mendadak buruk, besoknya mungkin chipping-nya, tapi semua aspek lainnya sudah ada. Sudah jelas kami memiliki putaran yang sangat bagus di Charlotte dan kemudian tumbang. Mungkin kalian tidak bisa menyaksikannya karena kami belum bisa menyatukan semuanya dalam lebih dari satu putaran. Malahan tiga pekan lalu ia sempat berkata kalau ia akan segera menang. Saya hanya bilang, pastikan saja kita dalam posisi bersaing padah hari Minggu,” papar Tim, yang mulai menjadi kedi bagi Mickelson empat setengah tahun lalu.

”Saya berusaha untuk meringankan suasana, tapi ia bilang ia bakal menang dalam waktu dekat!”

Sang juara juga lekas membenarkan klaim saudaranya itu ketika mengungkapkan, ”Sudah sejak lama saya yakin kalau saya bisa bermain di level (setinggi) ini. Saya tidak melihat alasan mengapa saya tak bisa melakukannya, tapi saya tidak mengeksekusinya sebagaimana saya meyakininya. Dan dengan bantuan dari banyak orang, istri saya terutama, Andrew Getson dan saudara saya Tim dan Steve Loy, saya bisa melakukan perkembangan dan memperoleh pekan (kemenangan) ini.

”Kemenangan ini sungguh membuat saya bersemangat karena saya mengalami beberapa terobosan untuk bisa berada pada momen yang saya hadapi, mampu untuk tetap fokus, dan secara fisik, saya memukul bola dan memainkannya sebaik yang pernah saya lakukan, ….” — Phil Mickelson.

Sepanjang pekan ini, Mickelson berkali-kali mengungkapkan betapa kali ini ia benar-benar berhasil fokus pada momen yang ada di hadapannya, sesuatu yang sejak lama sulit ia lakukan. Jelaslah hal ini menjadi kunci keberhasilannya pekan ini.

”Kemenangan ini sungguh membuat saya bersemangat karena saya mengalami beberapa terobosan untuk bisa berada pada momen yang saya hadapi, mampu untuk tetap fokus, dan secara fisik, saya memukul bola dan memainkannya sebaik yang pernah saya lakukan, hanya saja (sebelum ini) saya belum bisa melihat gambaran yang jelas,” sambungnya lagi.

Sukses kali ini turut menjadikannya pegolf PGA TOUR dengan rentang waktu terpanjang antara kemenangan pertamanya pada Northern Telecom Open 1991 sebagai pemain amatir dan PGA Championship 2021 ini, dengan total 30 tahun, 4 bulan, dan 10 hari. Catatan terbaik sebelumnya ditorehkan oleh Raymond Floyd dalam rentang 28 tahun, 11 bulan, dan 20 hari.

Sementara itu, pegolf Korea Im Sungjae berhasil menjadi pegolf Asia terbaik pada pekan ini. Ia menuntaskan kompetisi elite ini di peringkat T17 setelah bermain dengan skor 73 dan membukukan skor total 288. Baginya, posisi tersebut merupakan pencapaian terbaiknya selama empat keikutsertaannya pada ajang PGA Championship.

Sebulan setelah kemenangan Masters yang bersejarah, Hideki Matsuyama, membukukan skor even par 72 untuk menuntaskan ajang Major keduanya tahun ini. Ia harus puas berada di posisi T23.