Sejumlah pegolf papan atas siap bersaing dalam ajang Leopalace21 Myanmar Open yang segera digelar hari Kamis besok (26/1). Salah satu di antaranya ialah pegolf asal Filipina, Miguel Tabuena.

Pegolf berusia 22 tahun ini meyakini dirinya belum mencapai performa terbaiknya, Ia sempat bermain solid dalam dua turnamen sebelumnya, namun belum dapat memaksimalkan kesempatan yang ia peroleh. Kali ini ia berniat untuk tidak melakukan kesalahan yang sama ketika Leopalace21 Myanmar Open ini diadakan, kali ini, di Pun Hlaing Golf Club.

”Saya mesti menghilangkan ’karat’ lantaran jeda liburan Natal. Saya main bagus dalam dua hari pertama, tapi malah tergelincir pada dua putaran terakhir. Saya mesti main bagus dalam empat putaran dan (dengan begitu) saya bisa ada di puncak klasemen,” tutur Tabuena.

”Saya mesti segera kembali dalam nuansa kompetitif dan bukan bermain golf secara kasual. Anda mesti memosisikan diri dalam situasi menantang untuk meraih trofi pada hari Minggu,” sambungnya lagi.

Tentu saja perjuangan Tabuena takkan mudah. Pekan ini Shaun Norris dari Afrika Selatan, yang juga merupakan juara bertahan juga berniat mempertahankan gelarnya, meskipun turnamen kali ini dimainkan di lapangan yang berbeda.

”Saya merasa agak kaku, tapi permainan saya rasanya bagus dan senang rasanya bisa kembali (ke Myanmar). Lapangannya tampak luar biasa dan saya tak sabar menikmati tahun baru,” ujar Norris yang menyambut positif kolaborasi Asian Tour dan Japan Golf Tour ini.

Norris bakal bermain dengan putter yang berbeda dengan yang ia gunakan tahun lalu lantaran kerusakan yang terjadi di pesawat. Meski akhirnya mendapatkan putter dengan feel yang serupa, ia harus menunggu sampai kembali ke Afrika Selatan.

Adapun dua pegolf top India, Jeev Milkha Singh dan Gaganjeet Bhullar akan menyuguhkan tontonan yang menarik pada turnamen kali ini. Penampilan Singh kali ini merupakan yang pertama setelah 12 tahun lalu.

”Secara fisik saya sangat prima. Makin banyak saya main, makin bagus pula permainan saya. Saya amat gembira bisa kembali tahun ini karena saya telah berlatih keras dari segi fisik. Saya banyak berlatih dengan pelatih dan fisioterapis. Dan saat Anda berlatih, Anda akan merasa siap untuk bermain golf,” tutur Singh.

Bagi Bhullar, ini bukan pertama kalinya ia bermain di lapangan ini. Tahun 2010 lalu ia bermain di sini dan finis di peringkat T43. Baginya, kemitraan dengan Japan Golf Tour merupakan salah satu cara yang sangat baik bagi para pegolf Asia untuk mengembangkan karier mereka.

”Atmosfernya selalu luar biasa di Myanmar. Ini lapangan yang menantang dengan banyak angin. Sebelumnya saya melihat daftar pemain yang akan berpartisipasi dan ada banya pemenang turnamen Asian Tour dan Japan Golf Tour. Jadi, bakal ada persaingan yang ketat di antara pemain kedua Tour,” ujar Bhullar.

Adapun pegolf tuan rumah Ye Htet Aung berniat untuk menjadi pemain Myanmar pertama yang meraih gelar Nasional terbuka negaranya ini.

”Saya sangat bangga (bisa mewaklil negara saya) dan permainan saya kian hari kian bagus. Saya memenangkan dua turnamen lokal tahun lalu, jadi saya punya banyak percaya diri,” ujar Aung yang turut bermain pula pada Q-School Asian Tour tahun ini.

”Saya tidak sedih sebab saya mendapat banyak pengalaman. Saya bermain dengan sejumlah pemain yang bagus dan melihat cara bermain mereka, bagaimana mereka merencanakan pukulan mereka. Itu pengalaman yang sangat berharga buat saya,” tutupnya.