Menyambut U.S. Open pekan ini, GolfinStyle berbincang singkat dengan Anthony Kang dan Daniel Chopra, serta presenter Fox Sports Jason de la Peña mengenai kans wakil Asia pada ajang Major kedua pada tahun ini.

Hari Kamis (17/9) mendatang, para penggemar golf dunia, termasuk Indonesia, akan menikmati aksi-aksi para pegolf tangguh dunia dari Winged Foot Golf Club di Mamaroneck, New York. Pekan ini ada sepuluh pegolf yang mewakili Asia dengan dua di antaranya ialah pegolf amatir. Mereka yang bakal tampil pekan ini ialah Hideki Matsuyama (No. 18 Dunia), Im Sungjae (24), An Byeonghun (57), Jazz Janewattananond (63), Shugo Imahira (65), Kang Sunghoon (68), Kim Siwoo (90), Ryo Ishikawa (114), dan dua pegolf amatir Takumi Kanaya (No.1 WAGR) dan Yu Chun An (No.3 WAGR).

U.S. Open edisi ke-120 pekan ini jelas menjadi ajang Major pria yang kedua, yang dimainkan dalam suasana pandemi COVID-19. Ini berarti, seperti halnya PGA Championship awal Agustus 2020 lalu, kita tidak akan menyaksikan kerumunan penonton di lapangan. Pandemi COVID-19 yang melanda dunia sejak awal tahun 2020 ini masih membatasi kehadiran penonton demi kelangsungan turnamen, termasuk memaksa penyelenggaraan U.S. Open digeser ke bulan September ini.

Meski demikian, U.S. Open pekan ini dipastikan akan menyuguhkan aksi yang tak terlupakan, termasuk gelaran terbaik dari para pegolf terbaik yang mewakili olahraga golf pada saat ini. Melihat para pemain yang masuk dalam daftar prioritas kualifikasi, kualitas mereka tergambar dalam performa pada Official World Golf Ranking, termasuk para pegolf amatir peringkat tertinggi dunia, juga pemain teratas European Tour. Jadi, bisa dibilang mereka yang tampil pekan ini adalah para pemain terbaik saat ini,” jelas Anthony Kang, yang telah mengoleksi tiga gelar Asian Tour.

”Saya pikir, inilah U.S. Open dengan kualitas peserta terkuat,” timpal Daniel Chopra, pemegang dua gelar PGA TOUR dan satu gelar Asian Tour. ”Kualitas pesertanya adalah yang terkuat yang bisa kita dapatkan. Meskipun dua pemain—Scott Schaffler, yang baru saja dianugerahi Rookie of the Year PGA TOUR, dan Sam Horsefield—terpaksa mundur karena positif COVID-19, pemain yang menggantikan juga sama bagusnya. Pat Perez—yang menggantikan Horsefield—bahkan sempat ikut meramaikan persaingan pekan lalu pada Safeway Open. Jadi, menurut saya, inilah para pegolf tertangguh di dunia golf saat ini.”

 

Winged Foot Golf Club di Mamaroneck, New York disebut-sebut sebagai lapangan yang paling mewakili U.S. Open dalam hal menguji seluruh aspek permainan para pegolf. Foto: Winged Foot Golf Club.

 

”Quintessential of U.S. Open”
Ketangguhan 144 pegolf ini jelas akan diuji oleh Winged Foot. Lapangan ini disebut-sebut Mike Davis, CEO USGA, sebagai ”lapangan yang paling mewakili U.S. Open”. Faktanya, dari lima penyelenggaraan U.S. Open yang digelar di sini (2006, 1984, 1974, 1959, dan 1929), hanya pada tahun 1984 saja sang juara meraih kemenangan dengan bermain under. Kala itu Fuzzy Zoeller berduel 18 hole dengan Greg Norman dalam babak play-off setelah keduanya menuntaskan empat putaran dengan skor total 4-under. Bahkan ketika Geoff Ogilvy menjadi juara terakhir di Winged Foot, 14 tahun silam, ia menuntaskan pekan itu dengan skor 1-over 285.

”Saya sempat menyaksikan pertandingan tenis U.S. Open pekan lalu dan mendengar komentar yang menyebut para pemain terbaik bermain buruk seihngga menyimpulkan, siapa pun yang menang, pastilah pemain yang bermain tidak seburuk yang lain. Ungkapan ini rasaanya cukup lucu dan saya pikir di satu sisi sangat cocok untuk U.S. Open pekan ini,” jelas Chopra, yang sempat tinggal dan menjadi pegolf junior di Indonesia.

”Rasanya tidak akan ada pemain yang menampilkan permainan golf yang luar biasa, tapi akan ada pemain yang bertahan agar bermain tidak lebih buruk daripada pemain lainnya, mengingat lapangan ini menjadi lapangan golf tersulit.”

Menurut Chopra, absennya penonton juga akan menambah sulit lapangan. Kehadiran penonton biasanya akan membuat area rumput tebal di luar garis pembatas terinjak-injak. Hal ini biasanya justru membantu mereka yang pukulannya meleset dari fairway sehingga bisa mengembalikan bola ke area permainan, atau bahkan langsung mengarahkannya ke green.

”Tapi kali ini tidak akan ada penonton yang berjalan. Rough-nya akan menjadi sangat tebal sehingga pukulan yang meleset akan mendapat penalti yang lebih berat lagi sepanjang pekan ini,” imbuhnya.

Kang menambahkan, Winged Foot, seperti halnya Oakmont Country Club, jelas menjadi lapangan yang sangat sulit dari berbagai aspek. Seorang pemain bisa bermain dengan baik di lapangan ini, tapi hasil pukulan yang bagus dan yang buruk bisa berakhir di tempat yang sulit. ”Anda bisa memukul bola dan jalur pukulan Anda meleset sekitar 2 meter, dan bola mungkin mendarat di area fairway yang keras sehingga memantul dan membuat bola masuk ke rough,” ujarnya.

”Saya pikir lapangan ini akan menguji semua aspek permainan Anda. Mungkin Anda harus melakukan up-and-down dari jarak 90 atau 45 meter dan berusaha memiliki strategi menempatkan bola dan mengeksekusi pukulan lagi dari sana. Jadi, lapangan kali ini akan menjadi salah satu lapangan U.S. Open yang paling berat. Para pemain akan berjuang hanya untuk mendapatkan par di tiap hole dan tak bakal banyak birdie yang tercipta. Dan inilah yang harus dipahamai oleh para penonton bahwa para pegolf ini bermain sangat bagus untuk bisa berada di jajaran atas klasemen.”

 

Jazz Janewattananond bakal melakoni debut U.S. Open pekan ini, namun pengalamannya bertanding pada sejumlah ajang PGA TOUR terakhir menunjukkan ia masih harus menyesuaikan diri dengan set-up lapangan di Amerika. Foto: Asian Tour/Khalid Redza.

 

Siapa Wakil Asia yang Bakal Menonjol?
Melihat sepuluh nama yang mewakili Asia pekan ini, rasanya sangatlah lumrah jika harapan ditaruhkan ke pundak para pemain, seperti Hideki Matsuyama, Im Sungjae, dan An Byeonghun. Matsuyama dianggap memiliki permainan yang kuat dari tee ke green, karakter yang juga sangat dibutuhkan untuk bermain di Winged Foot pekan ini. Salah satu kelemahannya mungkin adalah kecenderungannya yang mudah frustrasi. ”Beberapa tahun terakhir kita melihat dia sedikit frustrasi. Dan ini sesuatu yang bakal terjadi pada ajang seperti U.S. Open,” ujar Chopra. ”Saya juga tidak berpikir pemain, seperti Jon Rahm punya peluang besar, mungkin saya salah, dia pemain yang hebat, tapi , apakah dia akan tetap tenang dan cukup sabar untuk menjuarai U.S. Open adalah sesuatu yang masih harus kita lihat.”

Sebaliknya, Im dianggap memiliki karakter yang dibutuhkan untuk menjuarai U.S. Open. Kualitas pukulan yang solid, kemampuan short game dan scramble yang mumpuni, plus ketajaman putting-nya. Tapi salah satu modal terbesarnya ialah bahwa Im tidak mudah emosi dan bermain acak-acakan.

”Di lapangan seperti Winged Foot ini, Anda membutuhkan pemain yang memiliki kekuatan dari tee ke green dan Hideki jelas memilikinya. Begitu juga Sungjae. An Byeonghun juga sebenarnya punya peluang. Menurut saya tiga pegolf ini patut Anda simak perkembangannya saat ini,” ujar Kang.

Jazz Janewattananond, pegolf Asian Tour nomor satu pada tahun 2019 lalu juga akan ikut tampil pekan ini. Juara Indonesian Masters ini sempat menumpang di rumah Chopra selama pandemi dan berlatih dengan pegolf asal Swedia tersebut. Namun, Chopra menyebut satu kelemahan terbesar Jazz ialah minimnya pengalamannya bermain pada set-up lapangan di Amerika.

”Saya pikir Jazz punya bekal yang bagus untuk U.S. Open. Pukulannya bagus, permainan iron-nya juga sangat bagus. Satu-satunya kesulitan yang ia alami di Amerika ini ialah pengalamannya bermain dengan set-up lapangan di sini, ketimbang yang biasa ia mainkan, khususnya di Asia, di mana Anda bisa langsung memukul bole ke pin dan bermain lebih agresif,” jelas Chopra yang sempat menjadi kedi bagi Jazz dalam dua ajang PGA TOUR yang ia ikuti.

”Ketika berada di bawah tekanan, Anda biasanya akan kembali kepada karakter alami Anda dan bagi Jazz ialah main agresif, meskipun semestinya tidak perlu. Ganjaran yang didapatkan akibat pukulan yang meleset pada ajang Asian Tour tidak seberat pada ajang PGA TOUR. Saya pikir Jazz butuh waktu sekitar setahun untuk bisa terbiasa bermain dengan lapangan di sini.”

 

Takumi Kanaya mungkin menjadi pegolf amatir terbaik dunia saat ini, namun pengalamannya yang minim di Amerika bisa memberinya tantangan berat bermain di Winged Foot pekan ini. Foto: AAC.

 

Kans Pemain Amatir
Hal menarik lainnya datang dari kubu amatir. Dari total 13 pegolf amatir papan atas dunia yang bertanding, dua di antaranya adalah pegolf amatir dari Asia. Takumi Kanaya saat ini menempati peringkat teratas WAGR, sedangkan Yu Chun An menempati peringkat ketiga. Kanaya akan melakoni debutnya bermain pada U.S. Open pekan ini. Juara Asia-Pacific Amateur Championship 2018 ini bermain pada Masters Tournament dan The Open Championship. Meski gagal lolos cut di Royal Portrush, Kanaya finis di peringkat 58 di Augusta National. Selain itu, ia juga nyaris mempertahankan gelar Asia-Pacific Amateur Championship pada tahun 2019. Dan pada tahun yang sama menjuarai ajang Japan Golf Tour, Mitsui Sumitomo VISA Taiheiyo Masters.

”Saya berharap dia bisa main bagus, tapi kalau melihat karier jangka panjangnya, saya tidak yakin kalau dia akan pergi ke AS untuk mengejar karier profesionalnya di sana, mengingat ia tidak memiliki status, sementara sangat sulit bagi pemain seperti dia untuk pergi-pulang tanpa tahu akan main di mana. Tapi jelas ia menunjukkan punya performa untuk main bagus di Jepang,” jelas Kang.

”Sebaliknya dengan Yu karena dia kuliah di Arizona State University (ASU)dalam tiga tahun terakhir. Saya pikir dia lebih cocok mengejar kariernya di sini karena sudah berdomisili di sini dan bisa mengikuti Tour yang lebih kecil tanpa menempuh perjalanan jauh.”

Yu sendiri telah menampilkan performa yang tak kalah meyakinkannya. Sebagai pemain amatir, ia telah mencatatkan sejumlah hasil memukau, termasuk ketika menjuarai Australian Master of the Amateurs pada awal tahun 2019 lalu. Dalam turnamen ketiganya mengusung bendera Sun Devil ASU ia meraih kemenangan.

Terlepas dari kapasitas yang dimiliki Kanaya dan Yu, Chopra menilai keduanya bakal memberi kejutan jika berhasil lolos cut di Winged Foot.

 

Bermain bersama Arizona State University dalam tiga tahun terakhir memberi Yu Chun An pengalaman bertanding dalam set-up lapangan di Amerika. Foto: AAC.

 

Bagaimana Menyaksikan U.S. Open Edisi ke-120 pekan ini?
Sebagai presenter kondang, de la Peña menyebut prospek U.S. Open pada pekan ini bakal sangat menarik. ”Pemain terbaik akan selalu menang dan kalau melihat para pemain dari jajaran empat-lima besar dunia, pemain seperti DJ dan Jon Rahm, dan saya juga setuju dengan bagaimana USGA juga memberikan spot kepada para pemain lainnya, pemain terbaik lain dari seluruh dunia. Dari prespektif presenter saya pikir U.S. Open kali ini akan sangat menarik,” ujarnya.

Bersama Daniel Chopra dan Anthony Kang, de la Peña akan memberikan ulasan dan komentar yang akan ikut menambah wawasan ketika para penggemar golf di Indonesia menyaksikan U.S. Open pada 18-21 September pekan ini. FOX Sports 2 akan menayangkannya secara langsung.

Para penggemar golf di Indonesia juga bisa ikut menyaksikan U.S. Open pekan ini melalui empat kanal berbeda.

MNC Vision: CH 302 (SD) dan CH 422 (HD)
First Media: CH 158 (SD) dan CH 315 (HD)
TransVision: CH 912 (HD)
Indihome: CH 706 (SD) dan CH 974 (HD)