Para penggemar golf di seluruh dunia bisa berharap menyaksikan putaran final paling menarik dalam sejarah The Masters Tournament, di antaranya dengan prospek Major ke-15 dan Jaket Hijau ke-5 bagi Tiger Woods.

Media sosial dipenuhi oleh foto-foto dari periode 13 tahun silam. Kala itu, Francesco Molinari menjadi kedi bagi sang kakak, Edoardo Molinari. Edoardo sendiri mendapat undangan bermain pada The Masters 2006 setelah menjuarai U.S. Amateur 2005. Selama dua putaran, kakak-beradik Molinari ini bermain bersama Tiger Woods.

Hari ini, Molinari akan kembali bermain bersama Woods, yang telah menginspirasi begitu banyak orang untuk bermain golf, termasuk Tony Finau, yang juga akan bermain dalam grup pamungkas di Augusta National Golf Club.

Dalam konteks pertandingan, bukan kali ini saja Molinari bermain bersama Woods. Pertemuan pertama mereka terjadi pada Ryder Cup 2010, di mana Woods kala itu menaklukkan Molinari dengan skor 4-3. Tapi dalam konteks masa kini, Molinari sendiri telah mengungguli Woods, ketika menampilkan permainan luar biasa di Carnoustie untuk meraih gelar Major pertamanya pada The Open Championship. Kala itu, ketika mayoritas orang berharap Woods akan menang, Molinari memberi kejutan dan memaksa Woods menunda merayakan gelar Major ke-15.

Prospek Molinari untuk menjuarai The Masters jelas sangatlah terbuka, mengingat ia kini memiliki keunggulan dua stroke dari Woods dan Finau. Permainannya pada hari kedua saja sudah bisa dianggap mengagumkan, mencatatkan lima birdie dengan tanpa satu bogey pun. Lalu pada hari ketiga kemarin (13/4), Molinari memperbaiki performanya selangkah lebih baik dan menorehkan enam birdie, lagi-lagi tanpa bogey.

Ia mungkin hanya bermain 2-under di sembilan hole pertamanya, dan harus menunggu hingga hole ke-6 sampai bisa mendapat birdie. Tapi di sembilan hole kedua, ia mendapat empat birdie berturut-turut, mulai dari hole 12.

Bagi para penggemar golf, kualitas permainan yang bermutu sering kali diterjemahkan sebagai skor yang rendah. Namun, logika di golf memang sedikit berbeda. Molinari sendiri mengakui hal ini.

“Sekali lagi saya merasa sangat, sangat gembira. Saya pikir, saya mungkin bermain sedikit lebih baik kemarin (putaran kedua), tapi hari ini, kondisi mental saya sangatlah bagus,” ujar Molinari. “Saya berhasil melakukan putt dari jauh di hole 4 dan hole 5 untuk mengamankan par, dan kemudian dari situ arah permainan saya mulai berubah.”

Setelah mendapat momentum di kedua hole tersebut, Molinari pun mulai menggulirkan birdie, meskipun sorotan dalam permainannya pada hari ketiga itu adalah empat birdie berturut-turut di hole 12, 13, 14, dan 15.

“Mungkin permainan saya di sembilan hole terakhir (hari ini) adalah yang terbaik selama saya bermain di sini. Jadi, saya merasa sangat puas. Dan belum lagi saya mengamankan par di hole 18. Menyenangkan bisa memiliki kartu skor yang bersih (dari bogey),” sambung Molinari lagi.

“Rencana saya untuk besok (putaran final) adalah melakukan hal yang sama, tapi saya pikir akan ada beberapa pemain yang bakal berusaha mengacaukan rencana saya ini.”

Tony Finau jelas salah satunya. Tahun lalu ia menorehkan hasil yang positif, meskipun pergelangan kakinya sempat cedera akibat meluapkan emosi usai mencatatkan hole-in-one pada Kontes Par 3. Kala itu ia finis di peringkat T10. Kini ia hanya berjarak dua stroke dari Molinari dengan skor total 11-under 205.

Molinari

Finau sendiri merupakan produk golf yang turut dihasilkan oleh hegemoni Tiger Woods. Ia tidak akan pernah melupakan sensasi yang ia saksikan saat menyaksikan Woods menjuarai The Masters 1997 dengan keunggulan 12 stroke, skor kemenangan yang belum terpecahkan hingga sekarang.

Pada putaran ketiga kemarin, Finau merupakan salah satu dari tiga pemain yang berhasil membukukan skor 64 pada hari yang sama. Tiga birdie berturut-turut pada awal putaran ketiga membantunya untuk menambah tiga birdie lagi dengan eagle di hole 8. Birdie di hole-hole awal itu membantunya “masuk ke dalam zona” yang ia butuhkan untuk mewujudkan impiannya menjuarai ajang Major paling prestisius ini. Sebab bukankah pesona Tiger Woods dan The Masters yang mendorongnya untuk mulai menggeluti golf?

“Pukulan drive saya bagus. Di lapangan ini, saya hanya bisa bermain agresif kalau memukul driver saya dengan baik, dan sejauh ini saya berhasil melakukannya. Jelang memainkan putaran ketiga, saya merasa tenang dan nyaman, dan rasanya skor saya menunjukkannya,” papar Finau.

“Saya melirik ke papan klasemen, dan saya tahu kalau saya harus terus membuat birdie karena saya tahu mereka akan memiliki banyak peluang, mereka bermain dengan sangat baik. Saya senang bisa membukukan skor yang saya dapatkan ini, tapi lebih dari itu, saya hanya tetap mempertahankan laju permainan. Kini saya ada dalam persaingan meraih gelar dan saya senang akan fakta ini.”

Sebelumnya, Webb Simpson sukses mematok target terendah hari itu usai menorehkan tujuh birdie, sebuah bogey, dan sebuah eagle, yang menempatkan juara U.S. Open 2012 berada di puncak klasemen, sampai akhirnya harus puas untuk berada di peringkat 5 bersama Ian Poulter. Satu pemain lain yang membukukan skor 8-under 64 ialah Patrick Cantlay. Pegolf Amerika ini menorehkan delapan birdie dan tanpa bogey.

Sementara itu, Woods kian dekat dengan gelar Major ke-15 dan Jaket Hijau kelima. Enam birdie dan sebuah bogey membawanya ke peringkat 2 bersama Finau. Sejak 2018 lalu ketika ia akhirnya bisa bermain penuh tanpa khawatir cederanya akan kambuh, Woods telah membuktikan bahwa ia masih memiliki kualitas permainan yang cukup untuk bersaing dengan para pemain muda.

Jelang The Masters pekan ini, Woods sudah menegaskan keyakinannya bahwa ia masih bisa menang. Setelah persaingan dengan Molinari pada The Open menempatkannya di peringkat kedua, dan harus mengakui keunggulan Brooks Koepka pada U.S. PGA Championship, Woods meraih gelar PGA TOUR ke-80 dengan menjuarai TOUR Championship. Kemenangan yang seakan kembali membangkitkan demam Tiger Mania itu menjadi bukti kuat bahwa ia bakal kembali merengkuh gelar Major.

Jelas para penggemarnya berharap Woods bisa kembali menang pada hari Minggu ini.

“Saya berhasil melakukan segalanya (dengan baik). Drive saya bagus, pukulan iron saya juga bagus. Saya juga berhasil memasukkan beberapa putt. Saya hanya bersabar dan membangun momentum. Dan saya juga tidak mesti menyerang tiap pin,” ujar Woods.

Woods mengaku kalau ia merasakan tekanan, sesuatu yang jelas sangat wajar. Ini merupakan Major ketiga baginya di mana ia masuk dalam mode persaingan meraih kemenangan.

“Memang sudah lama saya tidak bersaing di sini. Tapi sekali lagi, dua Major terakhir jelas bisa masuk hitungan. Saya sudah beberapa kali berpeluang menjuarai ajang Major dalam dua tahun terakhir. Dan pengalaman itu jelas membantu,” ujarnya.

“Biasanya ganjaran dari berjuang keras dan melakukan segalanya dengan tepat ialah menikmati tidur yang nyenyak pada malam menjelang Minggu, tapi kali ini takkan bisa seperti itu. Kami harus bangun lebih awal.”

Woods tidak mengada-ada. Keputusan komite untuk memajukan waktu tee off pada The Masters kali ini menimbulkan perubahan yang tidak terduga. Prakiraan cuaca yang menyebutkan badai yang mungkin menghampiri Augusta National pada sore hari, membuat komite tak hanya memajukan waktu tee off, dengan menetapkan tee off pertama dilakukan pada pukul 7:30 waktu setempat atau pukul 18:30 WIB, tapi juga menetapkan bahwa putaran final akan dimainkan dari hole 1 dan hole 10, dengan tiap grup akan terdiri dari tiga pemain.

Itulah sebabnya, Molinari, Finau, dan Woods akan berada dalam grup yang sama, sekaligus mengulangi apa yang terjadi pada The Open tahun 2018 lalu. Mereka akan mulai bermain pada pukul 9:20 atau 20:20 WIB.

Melihat hasil akhir hari ketiga pada The Masters, putaran final kali ini mungkin menjadi putaran final yang paling menarik. Setelah papan klasemen pada akhir putaran kedua menampilkan para pemegang Major mendominasi jajaran atas, putaran final pun akan memberi peluang banyak kepada tak hanya para pemegang Major, tapi juga mereka yang berusaha untuk meraih Major pertamanya. Dari 11 pemain yang berada di zona sepuluh besar, hanya lima nama saja yang belum pernah menikmati Major. Selain Finau, Ian Poulter, Matt Kuchar, Justin Harding, dan Xander Schauffele mengincar kemenangan Major pertama mereka.

Leave a comment