Apa yang bisa diharapkan dari Masters Tournament, yang dimulai malam ini? GolfinStyle kembali berdiskusi dengan sejumlah pengamat untuk membahas beberapa hal seputar ajang Major ini.

Sekali lagi GolfinStyle berkesempatan berdiskusi dengan dua komentator golf Anthony Kang dan Daniel Chopra, serta presenter kondang Fox Sports Jason de la Peña untuk menyambut sebuah gelaran Major. Dari membahas peluang siapa pemain yang bakal menang, sampai bagaimana pemain seperti Jazz Janewattananond bakal lebih menginspirasi generasi muda di Asia Tenggara.

 

Tak kunjung tampil solid, peluang Tiger Woods pada The Masters kali ini pun diragukan. Foto: Getty Images.

 

Tiger Woods Bakal Kesulitan?
Pembahasan paling hangat tentunya adalah siapa yang bakal meraih Jaket Hijau pada hari Minggu (15/11) nanti. Tiger Woods berniat melampaui rekor 82 kemenangan PGA TOUR Sam Snead, sekaligus meraih Major ke-16 dan Jaket Hijau keenamnya. Namun, di sisi lain banyak juga yang berharap Rory McIlroy bisa menggenapi karier grand slam dengan menjuarai Masters Tournament pekan ini. Sementara itu, pemain seperti Bryson DeChambeau juga tengah bersiap meluluhlantakkan Augusta National.

Bagi para penggemar Woods, kami punya pandangan senada dengan dua komentator ini. Augusta termasuk salah satu lapangan yang menjadi teritorial baginya, namun ketika ia bermain di Sherwood Country Club, lapangan yang juga menjadi teritorial selama bertahun-tahun baginya, Woods mengalami kesulitan sehingga akhirnya harus melepas gelar ZOZO CHAMPIONSHIP pada bulan Oktober lalu.

”Saya pikir Tiger Woods tidak berada dalam performa yang dibutuhkan, khususnya dari segi fisik. Kecepatan club-nya menurun dan tidak memukul sejauh tahun lalu, sementara Augusta National pekan ini diperkirakan akan dimainkan sebagai lapangan yang panjang (mengingat kondisi cuaca),” ujar Daniel Chopra, yang juga bertanding pada The Masters 2008, dan telah mengoleksi dua gelar PGA TOUR.

Pendapat senada dilontarkan juga oleh Anthony Kang, pegolf profesional yang kini juga berprofesi sebagai komentator. ”Peluang Tiger mungkin tidak cukup bagus. Ia belum menunjukkan performa yang ia tunjukkan ketika menuju The Masters tahun lalu ketika ia dalam beberapa pekan menunjukkan performa yang makin bagus. Namun, tahun ini hal tersebut tidak terlihat. Pada hari Selasa yang lalu ia lebih sekadar chipping dan putting dan sepertinya mengistirahatkan tubuhnya saat putaran latihan.

”Tiger jelas sudah mengenal Augusta dengan sangat baik. Jadi, tinggal masalah apakah dalam dua pekan setelah ZOZO CHAMPIONSHIP itu ia melakukan persiapan yang matang? Dan apakah ia memiliki kepercayaan diri dan main maksimal selama empat putaran? Sejauh ini ia belum menunjukkan permainan solid selama empat hari.”

Peluang yang cukup besar justru ada pada para pemukul jauh, mengingat pekan ini Augusta National diprediksi bakal menjadi lapangan yang lebih basah. Kans pemain, seperti Dustin Johnson, Rory McIlroy, Jon Rahm tampaknya akan menjadi lebih besar. Hal ini digarisbawahi oleh Chopra, yang menilai ketiga nama tersebut bisa menjadi pesaing terbaik untuk menjuarai Masters pekan ini.

”Rory McIlroy sebenarnya juga tidak bermain terlalu istimewa belakangan ini. Namun, Anda tahu Rory bisa mendapatkan momentum kapan saja, terutama ketika ia mulai merasa bermain dengan baik. Satu-satunya yang saya khawatirkan dari permainannya ialah terkadang ia terlalu agresif. Permainan seperti ini di Augusta National terkadang bisa menjadi batu sandungan dan akan menentukan apakah ia menang atau kalah,” Kang melanjutkan.

 

Bryson DeChambeau punya peluang paling bagus untuk meraih Jaket Hijau. Foto: Getty Images.

 

Lalu bagaimana peluang Bryson DeChambeau? Dengan viralnya eksperimen driver dengan shaft panjang yang ia lakukan, banyak yang memperkirakan ia bakal mengulangi apa yang ia lakukan di Winged Foot kala menjuarai U.S. Open.

”Bryson DeChambeau belum mengikuti turnamen lagi sejak ia melakukan eksperimen driver dengan shaft yang lebih panjang. Belakangan ini fokusnya ia curahkan untuk memukul bola sejauh-jauhnya, namun ini mungkin memengaruhi aspek permainan lainnya, yang justru dibutuhkan di Augusta National. Jelas akan sulit untuk memenangkan Major secara berturut-turut. Saya pikir, meskipun pukulannya saat ini sangat bagus dan selalu punya peluang bersaing, rasanya akan sulit,” ujar Chopra, yang sempat mengemas dua gelar PGA TOUR.

”Dari tiga nama, Tiger, Rory, dan Bryson, saya pikir Bryson menjadi pilihan terbaik untuk menjuarai Masters, dengan catatan permainan driver-nya bisa jitu, sesuatu yang sejauh ini terlihat. Pada Rabu (10/11) kemarin ia memukul driver-nya di hole 1 dan jalur pukulannya persis ke arah bunker fairway di sisi kanan dan ia memukul melewati pepohonan. Itu jalur yang tidak pernah kita saksikan sebelumnya. Kalau driver-nya tetap seperti itu, dan lebih penting lagi, ia bisa fokus pada chipping dan putting dengan baik, ia memiliki peluang terbaik,” jelas Kang.

Seberapa berbeda pemandangan di Augusta?
Anda mungkin sudah menyaksikan di berbagai media sosial bagaimana pemandangan Augusta National pada bulan November ini. Dengan absennya para penonton yang kerap menjejali lapangan, Masters pekan ini juga bakal kehilangan keindahan warna merah jambu dari bunga azalea, yang biasa mewarnai di sekitar green dan fairway.

”Bunga itu tidak mekar pada musim dingin dan berubah warna menjadi cokelat. Buat saya, pemandangan seperti ini, selain aksi golf yang seru, akan sangat menarik untuk disaksikan. Jelas bukan melihat set-up lapangannya, melainkan bagaimana untuk pertama kalinya Augusta menunjukkan wajah yang berbeda daripada biasanya. Masters Tournament menjadi satu-satunya ajang Major yang selalu dimainkan di lapangan yang sama setiap tahun sejak 1934. Jadi, kali ini tidak akan ada warna merah jambu yang indah, kita akan lebih banyak menyaksikan warna-warna cokelat musim gugur, dan tidak ada penonton. Yang terakhir sudah bukan hal aneh bagi para pemain,” papar de la Peña.

Lalu apakah absennya penonton bisa memberi perbedaan dan memberi keuntungan bagi para pemain? ”Saya pikir ya, terutama pada The Masters. Saya pikir faktor intimidasi dari pemain bernama besar, yang membuat eagle di hole 13, atau birdie di hole 15 dan 16, dan disusul sorakan riuh penonton yang terdengar di seluruh lapangan, pemain lain akan mengetahuinya dari sorakan itu. Sorakan itu bisa memberi tekanan tambahan, yang bisa membuat pemain lain merasa dirinya terkejar atau berhasil mengungguli pemain lain. Hal tersebut tidak akan ada tahun ini sehingga mereka harus lebih mengamati papan klasemen, meskipun memang ini sesuatu yang kerap Anda lakukan pada turnamen mana pun,” tutur Chopra.

”Namun, pada sisi yang lain, sorakan seperti itu justru bisa memberi dampak positif bagi para pemain, seperti Tiger atau Rory. Mungkin bisa disamakan dengan grup musik rock yang melakukan konser di depan ribuan penonton. Untuk para penonton itulah mereka tampil. Saya pikir sorakan riuh begitu bisa meningkatkan performa pemain, seperti Tiger. Dan saya pikir mungkin justru dialah yang paling terdampak dengan kondisi tanpa penonton saat ini,” imbuh Kang.

Yang menarik adalah kondisi yang lebih senyap ini tampaknya juga akan memberi nilai tambah bagi DeChambeau. ”Situasi senyap seperti ini bisa membantu mereka yang introvert, seseorang yang bukan seperti Tiger atau Rory. Salah seorang komentator pada ajang tenis U.S. Open sempat menyinggung bahwa periode pandemi yang memaksa absennya penonton bisa membuat pemain yang introvert tampil bagus. Mungkin introvert kurang tepat untuk menggambarkan Bryson, tapi kira-kira begitulah,” sambung de la Peña.

”Saya setuju, situasi ini bakal membantu Bryson. Saya ingat ketika bertugas langsung pada PGA TOUR Live, saya mengikuti dia dan dia sempat mengomeli saya karena saya selalu berjalan 60 yard darinya dan dia mendengar langkah saya. Dia itu ibarat Bubba Watson modern yang mudah mendengar banyak hal. Dia kerap menyalahkan sesuatu jika tidak berjalan sesuai harapannya, jadi situasi yang lebih senyap akan membantu pemain seperti dia,” tegas Chopra.

 

Hideki Matsuyama mungkin masih menjadi andalan Asia, tapi Kim Siwoo berpeluang jadi kuda hitam di Augusta National. Foto: Getty Images.

 

Kans Pemain Asia
Pekan ini akan ada sembilan pegolf Asia yang tampil. Mereka adalah duo Jepang Hideki Matsuyama dan Shugo Imahira, kuartet Korea Im Sungjae, An Byeonghun, Kim Siwoo, dan Kang Sung, pegolf China Taipei C.T. Pan, pegolf Thailand Jazz Janewattananond, serta Juara Asia-Pacific Amateur Championship dari China, Lin Yuxin. Terkait peluang dari para pemain Asia pekan ini, kami sama-sama sepakat bahwa Matsuyama memiliki peluang paling besar untuk memimpin para pemain Asia.

”Anda tidak bisa menghilangkan Matsuyama. Ia akan selalu menjadi pesaing tangguh mewakili Asia. Pengalamannya lebih banyak, pukulannya juga lebih jauh daripada yang lain. Dia juga telah bermain beberapa kali di Augusta. Peluang lainnya bisa dimiliki pemain Jepang lainnya (Shugo Imahira). Alasannya, mereka lebih terbiasa dengan kecepatan green yang serupa karena di Jepang mereka memiliki green yang sama (bentgrass),” ujar Chopra.

”Saya sepakat. Minggu lalu dia main di Houston dan mencatatkan skor terbaik pada akhir pekan dari seluruh pemain. Yang mengherankan justru Im Sungjae. Performanya memukau pada awal tahun, tapi belakangan pukulannya cenderung meleset daripada biasanya dan hasilnya juga mengejutkan,” imbuh Kang. ”Namun, pemain Asia yang bisa memberi kejutan, saya pikir, adalah Kim Siwoo. Dia punya kemampuan up-and-down yang sangat bagus, terutama di sembilan hole terakhir ketika ia menjuarai THE PLAYERS. Tidak mudah melakukan up-and-down di Augusta karena Anda wajib memiliki permainan short game yang tangguh. Kim Siwoo bisa menjadi kuda hitam!”

”Singkat saja tentang Hideki, saya juga sepakat. Saat ini ia tengah memiliki tren ke arah yang positif dan bersaing pada putaran final. Ia juga hanya lima stroke di belakang Matthew Wolff di Winged Foot ketika menuju putaran final. Dia juga hanya gagal lolos cut sekali dari delapan Peñampilannya di Augusta,” de la Peña menimpali.

Namun, hal serupa tampaknya takkan kita saksikan dari wakil amatir Asia, Lin Yuxin. ”Hanya ada enam pemain amatir pekan ini dan tidak satu pun yang menunjukkan sensasi yang luar biasa. Saya pikir kemungkinannya ada pada Andy Ogletree. Namun, saya pikir medali amatir kali ini tidak akan dimenangkan siapa-siapa,” Chopra menilai.

”Saya pikir juga bagi Lin Yuxin, untuk bisa lolos cut akan sangat sulit. Namun, jika bisa melakukannya ia berpeluang untuk menyabet Low Amateur. Dan prestasi ini prestasi luar biasa yang akan selalu dicatat! Ada pengakuan dari prestasi seperti ini!” tambah Kang.

 

Jazz Janewattananond berpeluang menjadi inspirasi bagi generasi baru di Asia Tenggara. Foto: Asian Tour/Khalid Redza.

 

Memicu inspirasi
Sementara itu, Jazz Janewattananond akan mewakili Asia Tenggara pada Masters Tournament pekan ini. Meskipun pada U.S. Open lalu ia gagal lolos cut, upayanya untuk mengikuti langkah Kiradech Aphibarnrat bermain pada PGA TOUR bisa menjadi pemicu baginya untuk tampil bagus pekan ini. Dan yang jelas makin bersinar dirinya, makin besar pula peluang Jazz menjadi inspirasi baru bagi generasi muda di Asia Tenggara.

”Tentu saja! Tidaklah nyaman meninggalkan Thailand atau Asia Tenggara dengan kenyamanannya, terutama ketika bahasa menjadi rintangan. Jazz jelas fasih berbahasa Inggris dan punya kepercayaan diri untuk bertanding di seluruh dunia. Ini faktor yang sangat besar. Para pemain top di Thailand dan Indonesia, juga Filipina tak banyak yang bermain di luar Asia Tenggara. Mereka mungkin ke Jepang, tapi cenderung hanya sejauh itu, meskipun banyak di antara mereka yang berkapasitas bermain di Amerika dan Eropa. Namun, sekarang kita mulai melihat perubahan ini, terutama para pemain dari Korea yang mulai ke Amerika Serikat,” jelas Chopra.

Kang menambahkan bahwa K.J. Choi menjadi contoh yang paling tepat. Choi menjadi salah satu pendobrak kebiasaan ini dengan memutuskan ke Amerika. ”Pemikiran konvensional pegolf profesional Korea pada masa itu ialah kalau merasa bisa main bagus, mereka akan ke Jepang. Tidak satu pun yang berani memutuskan ke Amerika karena, alasan utama seperti yang diungkapan Daniel, mereka tidak bisa berbahasa Inggris, tapi K.J. mengambil peluang itu. Lalu ketika ia sukses, hal itu sangat membantu dan menginspirasi generasi berikutnya,” jelas Kang.

Jelas kita berharap Jazz bisa tampil maksimal dan bermain penuh selama empat putaran di Augusta pekan ini. Lagi pula, ia menciptakan ikatan yang sangat baik dengan Indonesia, terlebih setelah menjuarai Indonesian Masters tahun 2019 lalu.

Jadwal Tayang Masters Tournament
Kamis, 12 Nov.: 20:30-21.30 (Primetime Preview)
Jumat, 13 Nov.: 01:00-05:30
Jumat, 13 Nov.: 20:35-21:35 (Primetime Preview)
Sabtu, 14 Nov.: 01:00-05:30
Minggu, 15 Nov.: 01:00-5:00
Minggu, 15 Nov.: 22:00-03:00

Semua waktu adalah Waktu Indonesia bagian Barat.

Saluran yang Menayangkan
FOX Sports
MNC Vision: CH 301 (SD) | CH 421 (HD)
First Media: CH 157 (SD) | CH 314 (HD)
TransVision: CH 911 (HD)
Indihome: CH 705 (SD) | CH 973 (HD)
BizNet: CH 241 (HD)
MyRepublic: CH 301 (HD)