Dari Shanxi menuju PGA TOUR, Zhang Xinjun menempuh jalan yang unik untuk menuju Tour impian.

Oleh Chuah Choo Chiang, Senior Director Communications PGA TOUR, berdomisili di Kuala Lumpur.

Belakangan ini Zhang Xinjun mencubit dirinya sendiri. Ia ingin memastikan bahwa dirinya tak sedang bermimpi.

Tumbuh di Shanxi, China, di mana kedua orangtuanya bertani di pedesaan, Zhang menjalani kehidupan kesehariannya yang sederhana sebagai seorang anak. Sehari-harinya ia menempuh perjalanan ke sekolah melewati bukit, serta membantu orangtuanya mengerjakan beberapa tugas.

Tapi ketika berusia 17 tahun, Zhang meninggalkan kenyamanan di kampung halamannya itu dan bekerja sebagai petugas keamanan di lapangan golf di Xian. Tak lama kemudian peluang untuk bekerja di driving range datang sendiri, dan Zhang lekas mengambil peran ini tanpa ragu.

Tak masalah kalau golf masih terkesan asing baginya. Setelah beberapa kali mencoba memukul bola, berkat dorongan rekan kerjanya, kisah selanjutnya pun menjadi catatan tersendiri.

Zhang, kini berusia 33 tahun, menjadi pegolf China Daratan pertama yang menembus FedExCup Playoff pada PGA TOUR, yang akan mencapai puncaknya pada ajang TOUR Championship pada 4-7 September mendatang. Bisa mengikuti Playoff berarti ia berpeluang meraih hadiah utama senilai US$15 juta. Tapi terlepas dari hasil yang ia peroleh pada Playoff tersebut, perjalanannya dari Shanxi menuju PGA TOUR jelas menjadi perjalanan yang luar biasa.

 

Zhang Xinjun mengadakan kamp golf di Shanxi, kampung halamannya. Foto: Dok. Pribadi Zhang Xinjun.

 

”Saya jatuh cinta pada olahraga ini,” ujar Zhang. ”Saya berkembang menjadi pemain yang tangguh dan mendapat dukungan dari China Golf Association. Banyak orang yang memberi tahu kalau kisah saya ini bisa menginspirasi lebih banyak anak lagi untuk bermain golf. Kalau benar demikian, saya akan berlatih lebih keras dan lebih keras lagi untuk menjadi anutan yang lebih baik lagi!”

Perjalanan golf Zhang yang tak disengaja ini telah membawanya mengalami pasang-surut. Setelah meraih sejumlah kesuksesan pada PGA TOUR Series-China, ia melakukan lompatan ke Amerika Serikat dengan berkompetisi pada Korn Ferry Tour. Pada tahun 2017, ia finis di peringkat 20 pada daftar peraih poin dan memastikan meraih kartu PGA TOUR, sesuatu yang ia sebut sebagai sebuah ”mimpi”.

Namun, musim debutnya pada PGA TOUR terbukti sangat berat.

”Kesalahan-kesalahan mendasar dan suasana hati yang sulit terkendali terbukti merugikan saya,” ujarnya. ”Ketika tak bermain dengan baik, saya menjadi makin dan makin mudah kesal sehingga akhirnya performa saya menjadi buruk. Saya terlalu berfokus pada hasil dan kegagalan pun terjadi seketika itu juga. Ketika harus kembali ke Korn Ferry Tour (tahun 2019), saya bertekad mengubah pola pikir dan mentalitas.”

Dua kemenangan pada sirkuit batu loncatan itu pun memberi kesempatan kedua bagi Zhang. Dan sejauh ini, ia bermain dengan baik dalam sejumlah penampilan terakhirnya. Sebanyak tiga kali ia berhasil finis di 10 besar, dan tiga kali berada di luar 20 besar sehingga ia bisa menempati peringkat 70 ketika memasuki FedExCup Playoff. Pencapaiannya ini jelas jauh dari yang ia alami pada debutnya ketika ia 16 kali gagal lolos cut dalam 28 turnamen yang ia ikuti.

 

Kamp golf yang Zhang lakukan menjadi salah satu cara yang ia tempuh untuk mendorong lebih banyak generasi muda untuk mencintai golf. Dok. Pribadi Zhang Xinjun.

 

Sebagian dari kebangkitannya ini bersumber pada kerja keras klasik, didikan dan pengalaman yang ia peroleh di berbagai tempat. ”Saya sama sekali tak bisa berbahasa Inggris (ketika tiba di AS), jadi saya tak bisa berkomunikasi ketika berada di luar,” ujar Zhang. ”Saya merindukan kampung halaman, rasanya sendirian. Tapi setelah berpikir lebih jauh, saya sadar bahwa problem terbesar saya ada dalam pikiran saya. Ada banyak hal yang mesti saya tingkatkan, tapi tantangan terbesar saya ialah pola pikir. Target saya tiap turnamen ialah tak memikirkan hasil, fokus pada momen dan pukulan yang ada di depan saya. Saya juga perlu menyesuaikan teknik dan harus melatih fisik secara ekstra.

”Saya tumbuh di kampung yang memaksa saya melintasi gunung dan berlari untuk bersekolah. Pengalaman itu membuat saya menjadi sangat tangguh dan gigih. Saya berhasil kembali ke PGA TOUR karena merasa akhirnya siap dalam banyak hal. Tentu ada bantuan dari para pelatih saya, baik dari sisi permainan maupun dari sisi mental, dan akhirnya saya mulai terbiasa dengan gaya hidup Amerika. Saya pikir golf merupakan olahraga yang menguji ketekunan seseorang. Saya sendiri jenis orang yang tidak pernah menyerah.”

Sepuluh tahun sudah berlalu sejak Zhang beralih profesional. Tapi tuntutan untuk bermain konsisten tiap pekan terus menjadi tantangan baginya. Ketika golf akhirnya kembali dipertandingkan menyusul penundaan tiga bulan lantaran pandemi COVID-19, Zhang gagal lolos cut dalam empat turnamen berturut-turut sehingga ia mulai kembali merasa gugup.

”Saya harus menemukan kembali sensasi swing saya. Saya mulai khawatir dan ketika pemikiran seperti ini muncul dan mulai terlalu memikirkan hasilnya, saya jadi tak bisa fokus,” sambungnya. ”Setelah empat turnamen, saya mengingatkan diri sendiri untuk fokus pada tiap swing, tiap hole, dan tak lagi memikirkan hasilnya. Pada ajang Memorial Tournament (ketika ia finis T10), saya berhasil mengikuti strategi ini dan menemukan kembali sensasi dan percaya diri itu. Saya merasa puas dengan performa musim ini. Saya meningkatkan mentalitas saya dan berlatih lebih banyak yang hasilnya terlihat dari skor yang lebih baik dan membuat saya bisa bermain pada Major pertama (PGA Championship) dan FedExCup Playoff pertama saya. Saya telah mencapai hingga sejauh itu.”

 

Zhang Xinjun beserta para pegolf cilik yang mengikuti kamp golfnya di Shanxi, China. Foto: Dok. Pribadi Zhang Xinjun.

 

Seperti para pegolf lainnya, Zhang juga bersemangat pada peluang menjadi penantang untuk meraih hadiah terbesar PGA TOUR, yaitu rangkaian FedExCup Playoff, yang terdiri dari tiga turnamen besar. Diawali dengan THE NORTHERN TRUST yang diikuti 125 pegolf, lalu BMW Championship bagi 70 pegolf teratas, dan TOUR Championship yang dikhususkan bagi 30 peserta dengan hadiah sebesar US$15 juta di East Lake Golf Club, di luar Atlanta, Georgia.

”Saya merasa bersemangat bisa bersaing dengan para pegolf terbaik dan mengumpulkan pengalaman sebanyak mungkin. Semua ini sangat berarti buat saya,” tutur Zhang. ”Berusaha menjadi juara (pada sebuah turnamen) menjadi target bagi tiap pemain, termasuk saya. Satu langkah membawa kita pada ribuan mil dan yang bisa saya lakukan ialah tetap fokus pada tiap turnamen dan tiap swing. Saya makin dekat untuk menjadi juara PGA TOUR.”

Penggemar terbesar Zhang di kampungnya tentulah kedua orangtua dan keluarganya. Ia menyebut mereka ini telah banyak berkorban ketika ia mengejar impiannya. ”Meraih hasil terbaik adalah cara saya membalas pengorbanan mereka,” tuturnya. ”Kedua orangtua saya sangat memahami dan mendukung saya sehingga saya makin fokus dan mencurahkan diri saya sepenuhnya untuk golf.”

Ia sadar bahwa golf telah memberikan kesempatan untuk menciptakan kehidupan yang baru baginya dan keluarganya. Itulah sebabnya Zhang meluncurkan program amal golf junior di kampung halamannya sebagai cara untuk memberi sumbangsih bagi masyarakatnya.

”Golf merupakan olahraga yang luar biasa. Saya berharap ada lebih banyak lagi generasi muda yang mencintai golf,” tuturnya. ”Saya juga berharap orang-orang yang menyukai golf bisa terus bertahan dan bermain dengan baik. Saya ingin membagikan pengalaman hidup saya, pengalaman profesional dan kemampuan golf saya dengan banyak junior dan melatih mereka satu demi satu. Saya akan terus melanjutkan program ini untuk mendukung pengembangan dan partisipasi golf junior.

1 Comment

Comments are closed.