Bank BRI Indonesia Open pekan ini selayaknya menjadi sebuah festival, mengingat dua hal penting yang perlu dikomunikasikan kepada publik.

Ada kegembiraan tersendiri ketika PGI mengumumkan bahwa mereka akan kembali menggelar Indonesia Open, sebagai bagian dari agenda Asian Tour pada 29 Agustus-1 September 2019 ini. Sebagai satu-satunya turnamen dengan sejarah terkaya di Indonesia, tiap penyelenggaraan turnamen ini jelas menjadi sesuatu yang layak disambut dan dirayakan.

Sayangnya, semangat ini tidak disertai dengan perhatian yang menyeluruh terhadap sejumlah aspek penting seputar Indonesia Open.

Hal pertama justru terkait dengan edisi penyelenggaraan Indonesia Open ini sendiri. Dalam jumpa pers yang dilakukan dua pekan yang lalu, PGI mengumumkan turnamen kali ini sebagai edisi ke-39 sejak diselenggarakan pertama kalinya pada 1974. Pengumuman yang sangat keliru ini berdampak pada pemberitaan yang jelas keliru oleh berbagai media massa di Indonesia.

Sejak pertama kali diselenggarakan pada 1974, setidaknya ada tiga periode ketika turnamen ini tidak bisa diselenggarakan. Entah karena minimnya sponsor, entah karena faktor kerusuhan, entah karena faktor kebakaran hutan.

Periode pertama terjadi pada tahun 1992, yang disusul dengan periode panjang 1998-2004. Terakhir Indonesia Open tidak digelar pada 2015, sebagai satu-satunya Indonesia Open yang tidak terselenggara pada periode pertama kepengurusan Murdaya Widyawimarta di PGI.

Dengan mempertimbangkan ketiga periode tersebut, berarti Indonesia Open pekan ini sebenarnya merupakan edisi ke-37, bukan ke-39. Redaksi lain yang layak diterima ialah bahwa Indonesia Open genap berusia 45 tahun pada tahun 2019 ini.

Sosok Kasiadi, yang layak menyandang status legenda, menjadi sosok yang justru terabaikan oleh asosiasi. Padahal 30 tahun silam, Kasiadi, menjuarai Indonesia Open, prestasi yang belum sanggup diikuti pegolf Indonesia lainnya. Foto: Taufik Dwilesmana.

Kesalahan fatal ini jelas menimbulkan dampak, terutama kekeliruan promosi, branding, dan konstruksi. Tak heran jika Anda berkunjung untuk menyaksikan aksi para pegolf profesional dan top amatir pada pekan ini, Anda akan mendapati kesalahan tersebut di beberapa titik.

Melihat dari sejarahnya, penyelenggaraan tahun ini seharusnya menjadi sebuah festival perayaan yang meriah. Bukan hanya karena tahun ini menjadi ulang tahun ke-45 turnamen ini, tapi juga karena 30 tahun silam seorang putra bangsa bernama Kasiadi berhasil menjuarai turnamen ini.

Kelalaian dalam mengingat sosok Kasiadi, sampai sama sekali tak menyinggung nama pegolf asal Surabaya ini, kian menunjukkan kelemahan PGI sebagai asosiasi yang menaungi olahraga golf di Indonesia.

Kelalaian ini juga jelas sangat fatal, mengingat selama ini PGI mengampanyekan pentingnya untuk memiliki pahlawan di bidang olahraga ini, yang harapannya bisa mengangkat profil golf Indonesia ke kancah internasional. Patut disayangkan, mengingat upaya ini pada akhirnya malah mengabaikan sosok pahlawan yang sesungguhnya sangat layak menyandang status legendaris, yaitu Kasiadi.

Tiga puluh tahun silam, Kasiadi menjuarai Indonesia Open dengan catatan skor 68-68-67-66. Meski kala itu ia mengaku dinaungi keberuntungan, prestasi ini merupakan buah dari etos kerja tinggi yang tak dimiliki oleh siapa pun.

Kasiadi beralih profesional pada tahun 1984. Sadar bahwa hidup dan matinya ada di golf, tanpa ada pelatih yang mengajari, ia berlatih habis-habisan.

”Selama sembilan tahun hingga 1993 saya selalu berlatih hingga malam-malam di Yani Golf. Sampai memukul 50 meter saja masih terlihat karena sudah terbiasa.” – Kasiadi

”Pagi hari saya memomong anak hingga jam delapan, baru saya berangkat latihan. Jam 12:00 pulang dan momong anak lagi, jam satu siang kembali latihan hingga malam hari. Bahkan tak jarang saya akhirnya tidur di shelter di tengah lapangan,” tutur Kasiadi mengenang masa mudanya.

”Selama sembilan tahun hingga 1993 saya selalu berlatih hingga malam-malam di Yani Golf. Sampai memukul 50 meter saja masih terlihat karena sudah terbiasa.”

Ketangguhan Kasiadi kemudian sempat mendapat pengakuan dari Wilson Golf. Selama dua tahun, produsen perangkat golf asal Amerika ini mengontrak Kasiadi dengan nilai kontrak per tahun mencapai US$20.000. Ia pun bertualang mengikuti berbagai turnamen di luar negeri, sebagai bagian dari kontrak tersebut, meskipun tak bisa berbahasa Inggris.

Tiga dekade berlalu, namun pada momen ketika semestinya ia layak mendapatkan penghargaan, asosiasi golf Indonesia pada akhirnya mengabaikan sosoknya.

Kecenderungan kepengurusan asosiasi yang tidak memiliki pengarsipan yang baik mungkin bisa menjadi alasan kelalaian fatal perihal edisi penyelenggaraan Indonesia Open. Namun, ketika fakta bahwa sosok yang mengharumkan nama bangsa 30 tahun itu masih ada dan sehat, jelas sulit dibayangkan.

Harapan agar generasi masa kini bisa mengenal sosok Kasiadi memang sempat mengemuka pada jumpa pers dua pekan lalu. Sayangnya, seperti lagu lama, janji tinggal janji.

Terlepas dari dua kelalaian ini, jelas bukan berarti bahwa kita tidak perlu meramaikan Bank BRI Indonesia Open pekan ini. Sebaliknya, kita perlu menunjukkan dukungan maksimal kepada 29 pegolf Indonesia yang berlaga. Pekan ini kita akan diwakili oleh 11 pegolf amatir dan 18 pegolf profesional. Dukungan dan doa kita semua akan sangat mereka hargai! Dan pada akhirnya, kita pun bisa berharap pada hari Minggu (1/9) kita bisa menyambut salah satu dari mereka ini bisa mengikuti jejak Kasiadi.

Leave a comment