Sosok Seve Ballesteros takkan pernah sirna dari momen spesialnya di Muirfield Village, lebih dari satu dekade silam.

Oleh Jim McCabe

Mustahil merasa kedinginan pada ajang Memorial Tournament di Muirfield Village. Apalagi pada bulan Juni ketika kelembapan yang tinggi menyelimuti wilayah Midwest.

Namun, bagaimana dengan sebuah kenangan yang berhasil direkam oleh waktu? Peristiwa itu terjadi persis di klub Jack Nicklaus yang terkenal itu, meskipun suhu udara berada konstan di kisaran 30-an derajat Celsius. Dan keringat mengucur dari beberapa pemain yang berlatih jauh di fasilitas latihan. Sampai mereka berhenti. Serentak. Ketika itulah kenangan ini terekam, desahan tak terlupakan yang menghormati aura Seve Ballesteros.

Saat itu bulan Juni 2010 dan Ballesteros, yang kala itu berusia 53 tahun dan tengah berjuang menghadapi kanker, memberikan ucapan terima kasihnya kepada Nicklaus dan komite turnamennya yang menjadikannya penerima penghargaan pada Memorial Tournament tahun itu. Meskipun tak bisa menghadiri secara langsung, sosok pegolf Spanyolyang gagah itu terlihat melalui video yang ditayangkan di layar raksasa, salah satunya ditempatkan di dekat fasilitas latihan.

Persis di sanalah para pemain berhenti berlatih dan menyaksikannya dalam senyap. Beberapa di antara mereka pernah bertanding menghadapi Ballesteros, banyak di antaranya yang beralih profesional setelah karier pegolf besar itu berakhir. Dan semua mereka memetik manfaat dari keajaiban yang ia bawa bagi olahraga ini.

”Ia seorang seniman. Permainan ini memainkannya,” David Feherty suatu ketika berujar. ”Dia luar biasa alami. Saya selalu merasa dia masih mengendalikan bola bahkan ketika bolanya sudah sejauh 180 meter darinya.”

Feherty yang lebih muda setahun dari Ballesteros merasa bersyukur bisa bermain pada European Tour ketika pegolf Spanyol itu membantu mengangkat Tour itu untuk menjadi Tour yang kuat. Sosok Ballesteros bagi Eropa setara dengan Arnold Palmer bagi Amerika melalui PGA TOUR-nya. Ia sosok mistis yang dikagumi oleh para penggemar, dan para sponsor sampai harus antri untuk mendapatkan tanda tangannya.

Sebelum Ballesteros, European Tour ”hanyalah sekelompok tukang kebun,” ujar Feherty.

”Dia akan memegang club dengan lembut, seperti memegang burung yang baru berusia sehari.” — David Feherty.

Namun, kharisma dan kemampuannya yang luar biasa dalam memukul bola yang keluar arena permainan, dan menemukannya, dan mencari tahu bagaimana memukul bola dari posisi yang mustahil, Ballesteros menjadi mesin penggerak yang mendorong European Tour untuk mencapai posisi yang kuat pada era 1980-an dan 1990-an.

Ballesteros tak hanya menciptakan sihirnya dengan memenangkan tiga gelar Open Championship dan dua ajang Masters. Praktis ia juga menemukan kembali Ryder Cup ketika Tim Eropa akhirnya merekrutnya untuk bergabung dengan para pemain dari Britania Raya dan Irlandia. Ia menjadi sosok yang sulit diabaikan.

Sederhananya, ”ia seorang yang jenius,” ujar Padraig Harrington. ”Dan dia mencintai golf.”

”Ada sihir magnetis dalam dirinya. Berada bersama dia serasa tengah bersama seekor kucing besar; ada semacam karakter kucing dalam gerakannya.”

Ballesteros belajar bermain golf di pantai, dekat rumahnya di Pedrena, Spanyol. Ia diasuh dengan porsi yang ajaib, bagaimana ia tak bisa membeli club golf sampai abangnya, Manuel, memberinya 3-iron. Dan Ballesteros belajar menggunakan satu club itu untuk melakukan beragam pukulan.

Rendah, tinggi, meliuk ke kiri, slice ke kanan. Ballesteros menyukai tantangan, membayangkan rute-rute pukulan, menemukan cara yang tak terbayangkan.

Rahasianya ada pada sepasang tangan terlembut yang pernah dikenal dalam olahraga ini. ”Dia akan memegang club dengan lembut,” ujar Feherty, ”seperti memegang burung yang baru berusia sehari.”

 

Penghormatan luar biasa bagi Seve Ballesteros pada Memorial Tournament 2010
Penghormatan luar biasa bagi Seve Ballesteros pada Memorial Tournament tahun 2010. Foto: Chris Condon/PGA TOUR/Getty Images.

 

Ia beralih profesional saat berusia 16 tahun, menjadi pemain debutan European Tour dalam usia 17 tahun, juara Order of Merrit saat berusia 19 tahun, usia yang sama ketika ia memperkenalkan dirinya ke seluruh dunia dengan finis T2 bersama Jack Nicklaus di belakang Johnny Miller pada Open Championship.

Itulah pertama kalinya Nicklaus bertemu dengannya, dan jelas bukan menjadi yang terakhir. Pegolf berjulukan The Golden Bear itu langsung menyatakan dirinya sebagai penggemar Ballesteros. ”Rekornya, kharismanya, hasratnya. Sosoknya luar biasa bagi golf,” ujar Nicklaus.

Tahun 1979, dalam usia 22 tahun, Ballesteros menjuarai Open Championship di Royal Lytham dengan gaya yang menjadi ciri khasnya. Ia menyalip Nicklaus, Hale Irwin, dan Ben Crenshaw dan memimpin tatkala bolanya melayang jauh di hole 17 par 4. Bolanya memantul ke arah parkiran mobil, yang memberinya free drop.

Dari area parkiran itulah Ballesteros menggunakan wedge untuk mengantarkan bola hingga berjarak kurang dari lima meter dan membuat birdie. ”Dewa-dewa golf”, penyiar BBC berkomentar kala itu, ”menyertai pegolf Spanyol yang murah senyum itu hari ini.”

Tahun berikutnya, ia menjuarai Masters. Dan tahun 1984, pada turnamen yang kerap disebut menuntaskan pendakiannya ke puncak kesuksesan, pada Open Championship yang digelar di rumah golf, St. Andrews, Ballesteros menciptakan sebuah citra yang takkan mungkin terlupakan.

”Selebrasi terhebat sepanjang masa,” Feherty menjelaskan aksi Ballesteros, yang meninju ke udara dengan penuh semangat, sambil memperlihatkan senyuman lebar, dan wajahnya yang terlihat sangat ceria.

Empat tahun kemudian, lagi-lagi di Lytham, Ballesteros tampil cemerlang. Pada putaran final itu ia menorehkan skor 65 dan dalam rentang 11 hole ia membuat eagle, enam birdie, dua par, dan dua bogey yang sudah cukup baginya untuk merenggut Claret Jug dari genggaman Nick Price.

”Menurut saya Ballesteros tak pernah memahami bagaimana ia bisa bermain begitu luar biasa.” — David Feherty.

Pegolf Spanyol yang baru berusia 31 tahun, dan sedang berada dalam kekuatan terbaiknya, itu menjadi pemegang lima gelar Major. Tak pernah terbayangkan bahwa ia takkan pernah menjuarai Major lagi, dan sulit dicerna pula bahwa permainannya pun ikut sirna. Memang ada sejumlah momen ajaib setelah peristiwa di Lytham tahun 1988 itu, mayoritas terjadi pada Ryder Cup, terutama episode konfrontasinya dengan Paul Azinger tahun 1991 di Kiawah Island.

Namun, perlahan-lahan dan secara mengejutkan, permainannya meninggalkan dirinya. Saat berusia 38 tahun pada tahun 1995, ia menjuarai turnamen terakhirnya dan kisah yang lebih sering berputar di sekitarnya ialah bagaimana ia tampak terhilang dalam upayanya menemukan kembali keajaiban yang pernah ia miliki.

”Menurut saya ia tak pernah memahami bagaimana ia bisa bermain begitu luar biasa,” tutur Feherty lagi. ”Namun, ketika mencoba memahaminya, upayanya justru tidak membuahkan hasil.”

Tanpa permainannya yang ajaib, Ballesteros segera bergeser ke belakang layar. Namun, patut diingat bahwa ia tidak serta-merta menghilang karena ia selalu menghargai kekuatan yang sepertinya masih ia miliki atas orang banyak. Toh Ballesteros lekas terbiasa dengan kehidupan yang jauh dari sorotan.

Ketika misi dalam hidupnya tak lagi untuk melakukan manuver dengan bola dari rerumputan lapangan di antara kedua bunker dan mengantarkannya mendekati lubang (seperti pada pukulan gemilang yang ia lakukan di Birkdale pada The Open 1976), tapi melawan kanker yang menggerogoti tubuhnya, Ballesteros berusaha untuk menampilkan kebanggaan dan kehormatan yang telah menyelimuti karier golfnya.

Dalam beragam kesempatan ia berbicara dengan penuh wibawa, dan yang paling berkesan ialah dalam sambutannya kepada para penggemar yang berkerumun di Muirfield Village tahun 2010 itu. Kekuatan magis yang ia bawa ke berbagai lapangan golf selama hampir 20 tahun terlintas untuk terakhir kalinya, sebab apa yang Ballesteros lakukan sungguh tak terbayangkan.Ia membuat para pemain berhenti memukul bola dan terpaku pada tiap perkataannya.

Ia meninggal dunia setahun kemudian, pada bulan Mei 2011. Namun, legendanya akan terus hidup.