Kemenangan emosional. Penantian yang penuh perjuangan. Sergio Garcia mewujudkannya dengan emosional sebagaimana dilaporkan oleh Cameron Morfitt dari PGATOUR.com.

Sepanjang pekan di Jackson, Mississippi itu, semua fokus menatap matanya.

Tiap kali Sergio Garcia melakukan putting, kamera menunjukkan sosok pria berusia 40 tahun yang penuh luka, yang telah gagal memasukkan begitu banyak putt dalam kariernya. Mungkin, ia menilai, masalahnya justru karena melihat putting-nya. Jadi, buat apa menyaksikannya? Tidak ada untungnya. Ia menutup matanya, mempercayai pukulannya, dan ketika putt terakhir itu berhasil masuk, sebuah birdie yang ia peroleh di hole 18 itu membawanya mengalahkan Peter Malnati dengan satu stroke. Dan matanya kini berlinangan air mata.

Inilah kemenangan PGA TOUR pertama baginya sejak menjuarai Masters Tournament 2017. Gelar ini juga menjadi yang pertama sejak ia menjadi seorang ayah, gelar pertama bagi Azalea yang berusia 2 tahun dan Enzo yang baru berumur 6 bulan. Dan melebihi problem pada putting-nya, atau yang ia sebut ”slump C” kala menjuarai gelar European Tour setahun lalu, ia memikirkan keluarganya.

Secara khusus Garcia mengenang dua pamannya yang harus berpulang akibat pandemi virus corona.

”Keluarga ayah saya banyak yang berada di Madrid,” ujarnya. ”Dia satu dari sembilan bersaudara dan sayangnya, kami kehilangan dua saudaranya karena COVID, yang pertama, Paman Paco, meninggal pada awal pandemi, sedangkan yang kedua, Paman Angel, baru meninggal Sabtu dua pekan lalu. Dan ini menyedihkan,” sambungnya. ”Sedih. Dan saya tahu ada banyak keluarga yang kehilangan lebih banyak anggotanya, tapi kita tidak pernah ingin kehilangan seseorang dengan cara seperti ini, dan saya sangat ingin menang bagi mereka.”

Terkadang golf itu menjadi susah karena memang susah. Dan terkadang kehidupan menyusup di antaranya.

Garcia tak pernah mengikuti ajang Sanderson Farms ini, dan sulit memprediksi hasilnya, terutama karena matanya yang kerap terpejam. Ia memang telah sepuluh kali menjuarai ajang PGA TOUR, tapi tak pernah menang lagi sejak Masters 2017. Ia juga sudah tiga kali gagal lolos cut dari empat turnamen PGA TOUR sebelumnya, terlempar dari 50 besar dunia, dan mengakhiri musim lalu dengan hanya sekali finis di peringkat 25 besar.

Sebagai gambaran, Garcia tidak pernah mencatatkan hasil lebih sedikit daripada empat kali finis di 25 besar dalam musim-musim PGA TOUR sebelumnya. Dan ia juga hanya dua kali tidak berhasil menembus FedExCup Playoff sejak era FedExCup dimulai.

 

 

Pada hari Minggu (4/10) kemarin, dua pukulannya layak menjadi sorotan: pukulan keduanya dengan 5-wood yang mengantarkan bola hingga empat sekitar semeter dari pin yang memberinya eagle, dan approach dengan 8-iron di hole 18, yang memberinya birdie dari jarak 30 inchi. Pukulan yang menentikan kariernya telah mengambil panggung utama di Country Club of Jackson. Ia menjadi yang terbaik untuk kategori Strokes Gained: Off the Tee, Strokes Gained: Tee to Green, dan jarak pukul.

Garcia mungkin hanya berada di peringkat 28 untuk kategori Strokes Gained: Putting. Namun, ia selalu mencatatkan skor yang positif selama empat hari di sana.

Putting-nya yang tak lazim itu terbukti bermanfaat. Meskipun ia sendiri mengakui sesekali melakukannya dalam lebih dari tiga tahun terakhir ini.

”Sepanjang pekan ini saya meyakini diri sendiri,” ujar Garcia, yang dengan kemenangan ini berada di peringkat 4 klasemen FedExCup. ”Memang di hole 6 itu putting saya buruk, tapi saya mempertahankan performa dan terus yakin, terus mengingatkan diri saya kalau saya bermain dengan baik sehingga harus terus mempertahankan apa yang sudah saya lakukan sejauh ini. Anda takkan bisa selalu memasukkan tiap putt.”

Sudah pasti ia pun dihadapkan pada pertanyaan soal matanya yang terpejam, bagaimana hal tersebut malah makin mudah membuatnya ragu. Salah seorang reporter malah sempat menyebut bahwa tindakannya itu tak hanya membuatnya aneh, tapi membuatnya terlihat seperti orang yang putus asa. Namun, Garcia dan Angela, sang istri, sudah membahas hal ini dan keduanya sepakat. Jika ia tidak berkomitmen pada sesuatu dan sepenuhnya memberi kesempatan, peluangnya juga akan lebih kecil untuk bisa menaklukkan green.

Pengalamannya untuk mengabaikan mereka yang meragukan kemampuannya, termasuk semua yang menudingnya tak sanggup menjuarai Major, jelas membantunya kali ini. Kini ia berada di puncak performanya dengan ajang Masters yang tinggal sebulan lagi.

”Sudah pasti hal ini akan meningkatkan percaya diri,” ujar Garcia. ”Bahkan kalaupun saya tidak menang, performa kali ini bakal memberi dampak yang luar biasa buat saya. Rasanya sangat berarti sekali bisa melakukan semua yang saya kerjakan ini. Hasilnya menunjukkan ada banyak hal yang masih saya miliki dan bisa saya lakukan.”