Tiger Woods berpeluang menutup tahun 2019 yang sensasional ketika membawa Tim AS menuju Royal Melbourne Golf Club pekan ini

Oleh Chuah Choo Chiang, Senior Director Communications PGA TOUR

Para ahli bahasa, bersiaplah untuk memikirkan ungkapan kuno yang berbunyi ”Bangkit dari debu, layaknya seekor burung phoenix”! Terutama jika legenda golf Tiger Woods memberi penekanan pada tahun 2019 ini dengan memimpin Tim Amerika Serikat untuk memenangkan Presidents Cup di Royal Melbourne Golf Club bulan Desember 2019 ini.

Dalam 12 bulan terakhir, Woods telah mempermalukan para pencelanya, yang meragukan kemampuannya lantaran sejumlah cedera, dengan meraih dua kemenangan mengagumkan. Pertama, ia menjuarai gelar Major ke-15 dengan memenangkan Masters Tournament bulan April 2019. Terakhir, ia menyamai rekor kemenangan PGA TOUR ke-82 pada ZOZO CHAMPIONSHIP akhir Oktober 2019.

Konon, keberuntungan terjadi pada upaya ketiga. Setelah, sesuai dugaan banyak orang, memilih dirinya sendiri untuk Presidents Cup, Woods kini punya peluang emas untuk menutup tahun 2019 dengan fenomenal.

Menariknya, narasi terakhir yang membuat para penggemarnya makin mengagumi Woods, disajikan dengan skenario yang luar biasa. Persis pada Presidents Cup 2017 Woods, yang kala itu menjadi asisten kapten, mengungkapkan kemungkinan bahwa ia takkan pernah bermain golf secara kompetitif lagi. Kala itu ia telah melakoni operasi punggung yang keempat, termasuk penyambungan saraf tulang belakang.

”Saya tak tahu seperti apa masa depan buat saya,” ujarnya kepada segenap audiens, termasuk media dari seluruh dunia, yang terpaku mendengarkannya di Liberty National Golf Club, New Jersey kala itu.

Kemenangan pada ajang TOUR Championship menjadi momen kebangkitan Tiger Woods usai menjalani operasi. Beberapa bulan kemudian, ia menjuarai Major ke-15 pada Masters Tournament. Foto: Getty Images.

Kebangkitan Sensasional
Tapi seperti halnya kisah kebangkitan kembali dalam dunia olahraga, kemenangan sensasional Woods yang pertama terjadi pada ajang TOUR Championship 2018. Dari situ, ia kembali menemukan rasa percaya diri yang tak terkalahkan. Lalu ia meraih kemenangan yang rasanya mustahil di Augusta National, beberapa bulan kemudian. Sebelumnya, banyak yang mengira Woods mustahil mewujudkannya.

”Saya benar-benar ragu (bisa meraih kemenangan) setelah kejadian beberapa tahun lalu. Saya nyaris tak bisa berjalan. Duduk pun sulit. Berbaring pun sulit. Untungnya saya melakukan prosedur (operasi) di punggung saya, yang memberi peluang untuk kembali memiliki kehidupan normal. Tapi mendadak, saya sadar kalau saya bisa kembali mengayunkan club. Rasanya, kalau bisa melatihnya kembali, saya masih punya tangan yang bisa melakukannya. Tubuh saya mungkin tak lagi sama, seperti beberapa waktu silam, tapi tangan saya masih bagus,” tutur Woods.

Ia membatasi hanya bermain dalam enam turnamen lagi setelah kemenangan Masters tersebut. Lalu ketika gagal menembus ajang pamungkas tutup musim FedExCup, TOUR Championship, ia mendadak memberi pengumuman baru. Ia melakoni operasi lutut kelima untuk memperbaiki kerusakan minor pada tulang rawan di lutut kirinya. Publik kembali ragu, akankah operasi ini bakal kembali menghambatnya.

Meraih Gelar ke-82
Namun, dalam turnamen perdananya usai operasi tersebut, Woods kembali ke permainan terbaiknya. Ia memperbaiki catatan sejarah pada ajang ZOZO CHAMPIONSHIP dengan menang tiga stroke dari bintang asal tuan rumah, Hideki Matsuyama.

”Angka (82 kemenangan) itu adalah angka yang besar,” ujar Woods setelah memastikan gelar ke-82 pada ajang yang terpaksa berakhir hari Senin lantaran kondisi cuaca tersebut. ”Saya merasa sangat beruntung bisa mencapai karier yang saya peroleh sejauh ini. Bisa menjuarai turnamen ini di Jepang rasanya ironis karena saya selalu menjadi pemain global. Saya benar-benar tak mengira bisa bangkit kembali dan bermain pada level seperti ini. Dari sisi swing, kecepatan saya mulai pulih. Ironisnya lagi, rasa sakit di punggung mulai berkurang. Saya mulai bisa melakukan rotasi dengan lebih baik, tapi punggung saya akan tetap merasa sakit, meskipun rasa sakitnya lebih berkurang.”

Juara U.S. Open 2019 Gary Woodland, yang bermain bersama Woods dalam dua putaran terakhir di Jepang menjadi saksi terdekat. Ia harus angkat topi bagi ikon golf tersebut dan memprediksi bahwa publik akan melihat Woods meraih lebih banyak kemenangan lagi.

”Jumlah 82 itu jumlah yang benar-benar gila! Anda melihat ada pemain yang bisa menang 10 kali dan prestasi itu sudah spesial. Apalagi bisa main sampai saat ini dan menang 82 kali! Setelah bertarung dengan berbagai cedera yang ia alami, astaga, dia tampaka muda dan menampilkan permainan yang sulit dipercaya. Pertunjukan pukulan bola yang ia lakukan dalam dua hari terakhir benar-benar luar biasa. Saya yakin ia tak bakal berhenti dalam waktu dekat. Menurut saya, ia akan meraih lebih banyak kemenangan lagi,” jelas Woodland, yang bakal melakoni debutnya pada Presidents Cup.

Tiger Woods kini menjadi Kapten Tim AS Presidents Cup dan juga akan melakoni posisi sebagai pemain ketika ajang dua tahunan ini dimulai pekan ini. Foto: Getty Images.

Misi Presidents Cup
Kini misi Woods ialah memperpanjang dominasi AS pada Presidents Cup. Sejauh ini Tim AS telah menjuarai tujuh edisi terakhir. Ketika bermain di Royal Melbourne, tempat di mana Tim AS menderita satu-satunya kekalahan pada 1998, Woods bakal dibantu oleh Fred Couples, Zach Johnson, dan Steve Stricker.

Woods mengaku, memimpin tim sebagai kapten yang bermain akan menghadirkan beragam tantangan. Tapi ia yakin bisa mengikuti jejak Hale Irwin, yang meraih kemenangan pada tahun 1994.

”Menjadi kapten dan mewakili negara kami adalah sebuah kehormatan dan tanggung jawab yang sangat besar. Kami bakal memiliki tim yang cukup solid untuk menghadapi Tim Internasional,” ujar Woods.

”Saya akan mempersiapkan diri dan, pada saat yang sama, akan ada banyak hal yang mesti dikerjakan. Tapi ini sesuatu yang sudah sejak lama saya nantikan. Di atas kertas, kami jelas memiliki keunggulan dari segi ranking dunia. Tapi ketika pertandingan dimulai, seperti yang saya sampaikan kepada para pemain, saat keluar bermain pada hari Kamis, posisinya adalah 0-0. Kami harus bermain dan memenangkan Presidents Cup. Tak masalah berapa pun ranking dunianya. Anda harus bermain dan mengalahkan lawa, dan itulah yang berusaha kami lakukan dan kerjakan.”

Dan seandainya Woods melanjutkan kembali mencatat ulang sejarah dalam olahraga golf di Australia, rasanya sangat pas jika ungkapan di atas tadi diganti menjadi ”Bangkit dari debu-debu, layaknya Tiger”.