Sulawesi Junior Open Golf Cup memberi pengalaman yang sudah lama tidak dinikmati oleh para pegolf junior. Apa yang menyebabkan kegiatan seperti ini tak hanya penting, tapi juga perlu didukung?

Sebagian kalangan golf mungkin mempertanyakan alasan di balik penyelenggaraan Sulawesi Junior Open Golf Cup 2019 yang dilakukan di Senayan National Golf Club, Sabtu (10/8) lalu. Pasalnya kegiatan satu hari ini dikemas sebagai turnamen night golf, yang memanfaatkan fasilitas yang dimiliki di lapangan tersebut.

Apa yang sesungguhnya ingin dicapai dan bisa didapatkan dari turnamen satu hari? Ketika Indonesia membutuhkan lebih banyak pegolf junior potensial, mengapa hanya menggelar kegiatan satu hari? Kenapa tidak melakukan minimal tiga hari agar bisa memberikan poin pada World Amateur Golf Ranking?

Meskipun keprihatinan terhadap golf nasional adalah sesuatu yang baik, tapi pada akhirnya hal ini sering kali melupakan aspek lain dari golf, yaitu bahwa golf harus menyenangkan. Kemasan yang menyenangkan itu jelas bisa bermacam-macam, dan turnamen satu hari, memanfaatkan fitur golf malam di Senayan National Golf Club, adalah salah satunya.

“Sudah lama sekali saya tidak bermain dalam turnamen satu hari seperti ini. Biasanya turnamen itu minimal dua hari dan maksimal empat hari,” tutur Almer Noreen Nurdaffa. “Ini juga pertama kalinya saya bermain golf pada malam hari seperti ini.”

Seorang peserta melakukan pukulan ke green. Para peserta Sulawesi Junior Open Golf Cup menikmati kegiatan yang dimulai dari sore hingga malam hari ini. Banyak di antara mereka menggunakan bola berwarna kuning untuk memudahkan melihat dan mencari bola. Foto: Golfin’STYLE.

“Saya jadi bisa having fun mengikuti turnamen ini. Tidak ada tekanan sama sekali, di lapangan bisa benar-benar happy.”

Komentar ini jelas bukan karena ia keluar sebagai pemain terbaik dengan membukukan skor 73. Tapi yang dituturkan atlet Jawa Barat ini memang benar. Sejak tuntutan sebuah turnamen harus dimainkan minimal tiga hari, tak lagi ada aktivitas satu putaran 18 hole. Anak-anak ini pun dituntut untuk memiliki stamina yang prima agar bermain maksimal dalam 36 hole pertama dan memastikan lolos cut, untuk kemudian main lebih baik lagi untuk meraih kemenangan pada putaran final. Suka tidak suka, semua itu menciptakan tekanan berlipat.

Konsep yang fun seperti ini menjadi sesuatu yang sengaja dikemas bagi para pegolf junior sebagai variasi dari aktivitas prestasi yang tak jarang penuh dengan tekanan dan tuntutan.

Darmawan Halim, pengelola jaringan Rumah Makan Sulawesi, menjadi sosok yang ada di belakang prakarsa ini. Pria yang akrab disapa Dave ini menuturkan, dirinya terinspirasi oleh turnamen fun satu hari yang kerap dilakukan oleh kaum dewasa.

Salah satu peserta dari Kelas D sedang melakukan tee off. Sulawesi Junior Open Golf Cup memberi sensasi golf yang menyenangkan bagi empat kelompok usia. Foto: Golfin’STYLE.

“Saya tahu bagaimana menariknya turnamen yang dilakukan para pegolf dewasa. Kenapa tidak mencoba melakukannya juga untuk anak-anak?” tuturnya.

Harapannya untuk memberikan turnamen yang jauh dari tuntutan prestasi itu tampaknya memang terwujud. Anak-anak yang ikut serta terlihat sangat menikmati aktivitas yang baru pertama kali dimainkan ini. Mereka menumpahkan ekspresi mereka ketika gagal melakukan pukulan dengan baik, tapi kemudian masih bisa bergurau dengan teman mainnya.

Dave menambahkan, faktor Senayan National Golf Club, yang dikelilingi pusat perbelanjaan menjadi salah satu alasan mengapa ia memilih aktivitas ini di lapangan yang menjalani renovasi di bawah pengawasan desainer kondang Bob Moore dari JMP Group ini.

“Golf itu permainan yang membutuhkan waktu yang cukup lama. Saya memilih di sini karena, selain tertarik dengan lapangan ini, ibu-ibu juga bisa berbelanja sejenak ke pusat perbelanjaan di sekitar sebelum kembali lagi melihat anaknya bermain,” jelasnya. “Selain itu, junior night golf seperti ini juga belum pernah diadakan.”

Total 78 anak bermain dalam empat kelompok umur dalam gelaran perdana Sulawesi Junior Open Golf Cup ini. Foto: Golfin’STYLE.

Ada beberapa alasan mengapa prakarsa Dave ini patut diapresiasi. Pertama, keterlibatannya dalam olahraga golf bahkan belum sampai setahun. Ia mengaku ketertarikan putranya terhadap golf ikut mendorongnya untuk mulai terlibat pada olahraga ini.

“Kami biasa berlibur ke daerah Rancamaya. Di sana anak saya melihat ada banyak orang yang bermain golf, dan tidak tahu kenapa, ia jadi tertarik dan meminta dibelikan stik, meskipun waktu itu belum bisa main sama sekali. Waktu itu usianya baru 8 tahun dan 6 bulan. Sekarang usianya 9 tahun dan 2 bulan, jadi baru 8 bulan belajar golf,” tutur Dave, yang kemudian mengikutsertakan anaknya ke sejumlah akademi golf untuk meningkatkan permainannya.

Hal kedua ialah ia mengeluarkan anggaran dari koceknya sendiri untuk mengadakan kegiatan ini. Meskipun kemudian mendapat dukungan dari beberapa pihak, jelas faktor biaya terbesar ialah lapangan. Dengan biaya peserta hanya Rp950.000, kegiatan ini terbilang cukup terjangkau untuk kemudian diikuti 78 peserta.

Satu-satunya hal yang jelas berat ialah mengunci lapangan agar menjadi arena khusus bagi para peserta turnamen. Elemen biaya ini jelas terlalu besar untuk ditanggung sendirian. Tak heran jika kemudian beberapa kali terlihat beberapa tamu reguler ikut menyelingi. Meskipun tidak ideal, toh hal ini tidak mengurangi makna kegiatan ini. Para peserta pun bisa menjalin persahabatan dengan rekan main mereka.

Darmawan Halim (kiri) dengan pemenang Sulawesi Junior Open Golf Cup, Almer Noreen Nurdaffa. Almer mengaku sangat menikmati bermain dalam turnamen yang membuatnya merasa bebas tekanan ini. Foto: Golfin’STYLE.

Ketika beberapa orangtua peserta mengharapkan kegiatan ini bisa diadakan lebih sering, Dave pun tidak serta-merta menolak. Ia sadar bahwa aktivitas yang bersifat rekreasi seperti ini tidak boleh ditiadakan, bahkan bagi para pegolf junior sekalipun.

Namun, ia juga mengaku bahwa tidak mungkin melakukan kegiatan seperti ini sendirian. Ia menyebut peran serta sejumlah akademi golf, seperti Pondok Indah Golf Academy (PIGA), Perkumpulan Akademi Golf Indonesia (PAGI), Indonesia Junior Golf (IJG), dan Jakarta Golf Academy (JGA) yang mengikutsertakan junior mereka menjadi sesuatu yang sangat berharga. Selain itu, sejumlah perusahaan yang berpartisipasi ikut memungkinkan penyelenggaraan ini berjalan dengan baik.

“Saya bersyukur memiliki tim internal yang kuat untuk membantu menyelenggarakan turnamen ini,” tuturnya memuji semua rekan kerjanya. “Dukungan mereka ikut membantu turnamen ini bisa berjalan, meskipun persiapannya hanya tiga minggu.”

Tantangan selanjutnya jelas bagaimana menciptakan aktivitas rekreatif lain bagi anak-anak. Golf yang menyenangkan bakal menjadi salah satu kunci penting untuk membawa lebih banyak lagi anak untuk belajar golf, entah untuk mengejar profesi di bidang olahraga ini, entah untuk sekadar menempa diri.

Jika pada aktivitas kali ini para peserta terpaksa pulang lebih larut, bisa jadi pada kesempatan berikutnya peserta hanya akan memainkan 9 hole, mengingat tujuan rekreatifnya. Bentuk kreativitas lainnya pun masih sangat mungkin digali demi keberlangsungan masa depan golf di Indonesia.

Leave a comment