Indonesian Masters tahun ini menjadi edisi paling istimewa sepanjang tujuh tahun penyelenggaraannya. Selain variasi pemain bintang yang hadir kali ini lebih banyak ketimbang tahun sebelumnya, turnamen ini sendiri berhasil mendapat status sebagai turnamen premium Asian Tour, di mana untuk pertama kalinya Indonesian Masters akan memberi 20 poin pada Official World Golf Ranking.

Status istimewa tersebut berarti Indonesian Masters sangat patut untuk diikuti. Plus waktu penyelenggaraan pada penghujung tahun, di mana inilah satu-satunya turnamen golf tersisa pada tahun 2017 pada Tour profesional dunia, mata dunia akan tertuju pada turnamen ini. Artinya, mereka yang ingin mengamankan tempat di Augusta National untuk mengikuti The Masters perlu memperjuangkannya.

Mari mengenali beberapa pemain bintang yang patut Anda tonton langsung pekan ini!


JUSTIN ROSE
Salah satu pegolf paling berkomitmen untuk golf. Di tengah penolakan beberapa bintang untuk bermain pada Olimpiade 2016, Rose malah ikut bermain dan berhasil menyabet medali emas. Mengawali pekan Indonesian Masters sebagai peringkat 6 dunia, pegolf asal Inggris ini telah menjuarai dua turnamen European Tour berturut-turut—WGC-HSBC Champions dan Turkish Airlines Open. Keduanya bahkan ia menangkan dalam kondisi tertinggal. Ia juga nyaris menjuarai The Masters 2017, dan mencatatkan prestasi runner-up pada dua turnamen lainnya. Selain itu, ia juga sembilan kali finis di sepuluh besar pada berbagai ajang PGA TOUR, Asian Tour, dan European Tour. Terakhir ia finis T5 pada Hero World Challenge. Prestasinya dalam dua tahun terakhir ini jelas membuatnya lebih populer dibandingkan Lee Westwood—meskipun Westwood telah tiga kali menjuarai Indonesian Masters.

Mengapa layak ditonton: Peraih medali emas Olimpiade, jawara US Open 2013. Kapan terakhir Anda melihat pemenang Major bermain di Jakarta? Ini jelas kesempatan langka sebab belum tentu ia kembali ke Jakarta!


BRANDT SNEDEKER
Namanya mulai melambung dengan keberhasilannya menjuarai FedEx Cup 2012. Ia menjadi salah satu instrument penting ketika Tim Amerika Serikat berhasil mengalahkan Tim Eropa dalam Ryder Cup 2016 lalu, dan juga menjadi satu-satunya pemain yang tak terkalahkan dalam tiga partai yang ia mainkan. Ia juga ikut serta dalam tim yang menjuarai Presidents Cup 2013. Tahun ini Snedeker hanya memainkan 15 turnamen dan mesti rehat lantaran mengalami cedera rusuk. Bergabung pada PGA TOUR tahun 2007 dan langsung menyabet Rookie of the Year, ia membukukan 8 kemenangan PGA TOUR hingga sejauh ini, plus 2 gelar Web.com Tour. Pada pekan ini, ia berperingkat 50 dunia. Prestasi bagus di Jakarta akan memberinya tempat untuk berlaga pada  The Masters 2018.

Mengapa layak ditonton: Seperti halnya Justin Rose, Snedeker merupakan wajah yang lebih sering disaksikan di layar TV. Pemenang FedExCup 2012 ini memang belum meraih Major, tapi ia menjadi salah  satu pemain terbaik Tim AS saat menjuarai Ryder Cup 2016. Indonesian Masters memang bukan turnamen matchplay, tapi performa pemain PGA TOUR ini patut mendapat waktu dari Anda.

YUSAKU MIYAZATO
Pegolf Jepang ini menjalani musim yang luar biasa pada tahun ini. Pada awal tahun, ia sempat berpeluang memenangkan Leopalace21 Myanmar Open. Namun, gagal dari sana tak membuat sinarnya meredup. Miyazato bahkan menjalani salah satu musim terbaik dalam karier profesionalnya. Tahun ini ia menjuarai empat gelar di Jepang, yang membawanya ke peringkat 58 dunia. Prestasinya itu sekaligus membawa kakak mantan pegolf LPGA Ai Miyazato ini menjuarai Order of Merit Japan Golf Tour musim ini. Keikutsertaannya pada Indonesian Masters edisi ketujuh ini menjadi debut bagi Miyazato di Royale Jakarta Golf Club. Hasil bagus, apalagi menang bakal melambungkan peringkatnya untuk bisa melakoni debut di Augusta National.

Mengapa layak ditonton: Yusaku merupakan pegolf Jepang terbaik saat ini setelah Hideki Matsuyama. Meski belum berprestasi maksimal di luar negeri, permainan pegolf berusia 37 tahun ini menarik untuk disimak, terutama melihat bagaimana ia memainkan Royale Jakarta Golf Club.


GAVIN GREEN
Gavin mencatatkan sejarah sebagai pegolf Malaysia pertama yang menjuarai Order of Merit Asian Tour. Meksipun finis di peringkat T19 pada Joburg Open, koleksi hadiah uang yang ia kumpulkan, US$583.813 sudah tidak mungkin dikejar siapa pun—juara pertama Indonesian Masters mendapatkan US$135.000 –termasuk David Lipsky yang mengumpulkan US$461.179. Gavin telah mencatatkan sejarah sebelumnya ketika menjadi pegolf amatir pertama yang menjuarai ajang Asian Development Tour , PGM Vascory Templer Park Championship 2014. Setelah beberapa kali nyaris juara, ia akhirnya menjuarai Mercuries Taiwan Masters. (Foto: Paul Lakatos/Asian Tour)

Mengapa layak ditonton: bintang muda asal negara tetangga ini baru saja mencatatkan sejarah dengan menjadi pegolf Malaysia pertama yang menjuarai Order of Merit Asian Tour musim 2017. Permainannya eksplosif dan merupakan salah satu pemukul jauh. Ikuti permainannya dan cari tahu bagaimana ia bisa memukul rata-rata 312,80 yard!

SCOTT HEND
Pegolf non-Asia tersukses dalam sejarah Asian Tour dengan sembilan gelar. Seperti halnya Gaganjeet Bhullar, Indonesia punya tempat tersendiri bagi pegolf Australia yang juga menjuarai Order of Merit Asian Tour 2016 ini. Gelar Asian Tour pertamanya ia menangkan di Indonesia, yaitu Pertamina Indonesia President Invitational 2008. Berkat keanggotaannya pada European Tour, dalam dua tahun terakhir ia tidak bermain pada Indonesian Masters.

Mengapa layak ditonton: Prestasinya selama bermain di Royale Jakarta Golf Club mungkin tidak seistimewa beberapa pemain lainnya. Aneh juga lantaran sebagai pemukul jauh ia bisa memaksimalkan fairway di sini. Tapi jelas seorang pemukul jauh akan sangat menarik untuk disaksikan.

Rekor pada Indonesian Masters
2011: T29, 72-71-70-73, 2-under 286
2012: T43, 74-70-72-73, 1-over 289
2013: T28, 66-72-73-74, 3-under 285
2014: MC, 73-73
2015: Tidak bermain
2016: Tidak bermain

GAGANJEET BHULLAR
Bhullar selalu main di Indonesia. Kemenangan profesional pertamanya di panggung besar ia raih pada Indonesia President Invitational. Ia juga dua kali menjuara Indonesia Open (2013 dan 2016). Tahun ini performanya memang tidak seistimewa tahun lalu, namun ia berhasil menjuarai Macao Open bulan Oktober lalu. Catatan permainannya di Royale Jakarta Golf Club juga tidak jelek, meski prestasi terbaik ia torehkan pada edisi 2012. Meskipun termasuk salah satu pemain top Asian Tour, Bhullar belum pernah main bagus pada ajang Major. Ia malah hanya sekali bermain pada The Open 2009 dan itu juga tidak lolos cut. (Foto: Arep Kulal/Asian Tour)

Mengapa layak ditonton: Damai Indah Golf PIK Course dan BSD Course, Royale Jakarta Golf Club, Pondok Indah Golf Course, Bhullar selalu main prima di Indonesia. Kalau Anda ingin bermain di lapangan-lapangan tersebut dengan baik, Anda patut melihat permainan Bhullar. Sepanjang tahun ini, Bhullar termasuk salah satu pemain dengan akurasi driving terbaik—peringkat kedua dengan rata-rata 78,27 dari 856 hole yang ia mainkan pada Asian Tour musim ini.

Rekor pada Indonesian Masters
2011: T20, 71-72-68-72, 5-under 283
2012: T3, 72-70-65-69, 14-under 274
2013: Tidak bermain
2014: Tidak bermain
2015: Tidak bermain
2016: #5, 66-73-70-67, 12-under 276


THONGCHAI JAIDEE
Kecuali pada edisi 2015, Thongchai selalu berpartisipasi pada turnamen paling prestisius di Indonesia ini. Prestasi terburuknya ialah pada 2012 ketika finis T29. Selebihnya ia selalu masuk sepuluh besar dan beberapa kali berpeluang menjadi juara. Saat ini ia menjadi pria Thailand tersukses berkat tiga kali kemenangan Order of Merit Asian Tour. Ia juga menjadi pegolf Thailand dengan gelar European Tour terbanyak, yaitu 8 gelar. Meskipun tahun ini belum mencatatkan kemenangan sekali pun—terakhir ia menjuarai Open de France bulan Juli 2016—rekornya membuatnya untuk setidaknya kembali meraih posisi yang bagus. Tapi jelas ia ingin menang! (Foto: Asian Tour)

Mengapa layak ditonton: Thongchai merupakan salah satu pemain legendaris, dan merupakan rival terbesar almarhum Sukamdi—semasa amatir permainannya ia hampir selalu kalah dari Sukamdi. Mantan tentara penerjun payung ini merupakan salah satu pemain dengan permainan yang cukup komplit.

Rekor pada Indonesian Masters
2011: #2, 67-70-70-65, 16-under 272
2012: T29, 75-69-68-74, 2-under 286
2013: #4, 69-65-75-69, 10-under 278
2014: T5, 71-72-67-64, 14-under 274
2015: Tidak bermain
2016: T8, 68-69-69-72, 10-under 278

KIRADECH APHIBARNRAT
Setelah menjuarai Maybank Malaysian Open pada 2013, Kiradech menjadi pegolf Thailand ketiga setelah Thongchai Jaidee dan Thaworn Wiratchant yang menjuarai Order of Merit Asian Tour. Sejak itu kiprahnya merebak ke Eropa, dan belakangan mulai bermain pada PGA Tour. Setelah menjuarai Saltire Energy Paul Lawrie Matchplay 2015—pada tahun yang sama ia menjuarai Shenzen International—ajang European Tour, dan menambah satu pada Thongchai Jaidee Foundation, Kiradech belum mendapat kemenangannya lagi. Tapi persis beberapa hari sebelum Indonesian Masters, Kiradech kembali ke jalur kemenangan setelah kembali memenangkan Thongchai Jaidee Foundation untuk kedua kalinya. Bekal ini penting, meski kemenangan itu ia dapat di level Asian Development Tour, dan bakal memberinya semangat. Selain itu, catatan rekornya di Royale Jakarta Golf Club juga cukup bagus. T7 pada 2011 dan peringkat 4 pada 2014. (Foto: Arep Kulal/Asian Tour).

Mengapa patut ditonton: “Grip it and rip it!” Itulah slogan yang akrab dengan nama John Daly. Permainannya itu bisa kita saksikan dalam diri Kiradech. Tak heran jika kemudian ia juga mendapat julukan “John Daly Asia”. Permainannya ini tidak hanya menghibur, tapi juga bakal memberi pelajaran penting bagaimana badan yang besar bisa maksimal berotasi untuk menghasilkan pukulan yang jauh dan bertenaga.

Rekor pada Indonesian Masters
2011: T7, 69-68-71-69, 11-under 277
2012: Tidak bermain
2013: Tidak bermain
2014: #4, 71-69-65-68, 15-under 273
2015: Tidak bermain
2016: Tidak bermain


PRAYAD MARKSAENG
Usianya sudah 51 tahun, namun Marksaeng, bersama Thaworn Wiratchant masih menjadi pemain yang sangat bugar untuk bersaing dengan para pemain yang lebih muda. Marksaeng mencatatkan prestasi yang sangat bagus mengawali tahun ini ketika menjuarai SMBC Singapore Open. Sementara karier seniornya juga berjalan dengan sangat baik ketika mencatatkan empat turnamen tahun ini. Bahkan ia sukses mempertahankan gelar Japan Senior Open Golf Championship. Dari tiga kali keikutsertaannya di Royale Jakarta Golf Club, ia hanya sekali gagal lolos cut, yaitu pada 2014. (Foto: Paul Lakatos/Lagardère Sports)

Mengapa layak ditonton: Marksaeng salah satu pemain paling fit untuk usianya. Seperti halnya Thaworn Wiratchant, ia masih sangat kompetitif bahkan di antara para pemain yang lebih muda. Dengan menyaksikan permainannya, Anda bisa melihat bagaimana ia mengatasi perbedaan usia dan stamina dengan pemain lainnya.

Rekor pada Indonesian Masters
2011: T7, 67-70-69-71, 11-under 277
2012: Tidak bermain
2013: Tidak bermain
2014: MC, 77-69
2015: T8, 73-72-72-69, 2-under 286
2016: Tidak bermain