Figur ayah kerap berperan penting dalam karier golf seorang atlet. Dengan sebagian besar negara merayakan Hari Ayah pada bulan ini, mari melihat peranan sosok ayah bagi sejumlah bintang golf dunia.

Oleh Chuah Choo Chiang, Senior Director Commmunications PGA TOUR, berdomisili di Kuala Lumpur

Mendiang Earl Woods menegaskan peran seorang ayah memperkenalkan golf kepada putranya, Tiger, yang kemudian menjadi legenda hidup olahraga ini.

Earl sempat menjadi tentara infantri Amerika Serikat, yang pernah dua kali bertugas di Vietnam. Ketika ia menyadari bakat anaknya dalam usia dini, ia langsung memberikan putter ke tangan Tiger bahkan sebelum ia bisa berjalan. Woods Senior mencurahkan seluruh hidupnya mengasah bakat dan karakter putranya itu. Sepanjang sesi latihan, ia mengajarkan seni berkonsentrasi kepada Tiger, bahkan di tengah gangguan tak lazim yang diciptakan oleh sang ayah.

Usai menyamai rekor kemenangan PGA TOUR terbanyak lewat gelar ke-82 pada ZOZO CHAMPIONSHIP di Jepang, awal Oktober silam, Tiger berujar, ”Ayah saya selalu menjadi sosok yang menanamkan benih dan memberi dorongan. Dia sangat realistis dan dalam dalam berpikir. Dari begitu banyak bimbingannya, perannya sangat penting bagi saya sebelum beralih pro.

Dengan mayoritas negara di seluruh dunia merayakan Hari Ayah pada bulan Juni ini, bintang-bintang golf di Asia juga memiliki kisah tersendiri bagaimana para ayah membentuk mereka menjadi atlet-atlet yang sukses.

Hideki Matsuyama berkenalan dengan golf dalam usia 4 tahun ketika sang ayah membawanya ke driving range setempat. Ayah C.T. Pan bahkan begitu berdedikasi sampai ia menyetir untuk membawa Pan dan saudaranya berkeliling China Taipei dalam ”hotel berjalan” mereka untuk berkompetisi. Sementara Kiradech Aphibarnrat menyebut peran sang ayah memperkenalkannya pada golf untuk menjaganya agar berada di ”jalan yang benar”.

 

Sosok sang ayah, Mikio, turut berperan sebagai pelatih swing pada periode awal keterlibatan Hideki pada golf. Foto: Sam Greenwood/Getty Images.

 

An Byeonghun termasuk bintang baru PGA TOUR yang bersyukur atas peran ayahnya dalam memberi bimbingan dan mencurahkan cinta kasih yang hanya orangtua yang memahami bagaimana cara memberikannya. Sang ayah, Ahn Jaehyung adalah mantan peraih medali emas Olimpiade cabang tenis meja. Ia menjadi kedi bagi putranya dalam tahun-tahun awal dan memberikan masukan mengatasi tekanan kompetisi.

Rekan senegaranya, Kang Sung, juga menelepon sang ayah begitu meraih gelar PGA TOUR pada ajang AT&T Byron Nelson tahun lalu. Dengan berseru keras, ia berujar, ”Aku berhasil!” Adalah sang ayah yang mengirimnya ke AS ketika masih remaja untuk mengejar mimpinya dalam olahraga golf.

Matsuyama, yang kini telah memegang lima gelar PGA TOUR, mengenang kembali bagaimana sang ayah, Mikio, memengaruhi kariernya dengan perjalanan rutin ke driving range setempat. ”Meski saya mulai menonton golf, ayah menjadi inspirasi terbesar bagi saya. Dia pahlawan golf saya ketika masih kecil—mungkin dia ber-HCP 2+ ketika ia sering main dan saya bermimpi bisa semahir dia,” kenang Matsuyama, yang kini berusia 28. ”Sejak saya masih kecil, ayah menjadi pelatih swing saya sampai SMA. Setelah itu saya melatihnya sendiri.”

Sementara An tidak mengikuti langkah sang ayah dalam memilih raket ping pong. Saat masih 5 tahun, ia ikut ke driving range. Meskipun memainkan 1-iron, salah satu club tersulit untuk dimainkan, bocah ini langsung terpikat pada golf. Seperti Kang, ia pun dikirim ke Florida saat berusia 15 tahun untuk mengejar impian Amerikanya dan menjuarai ajang prestisius, U.S. Amateur 2009.

 

Sosok Panupong (kedua dari kiri) menjadi sosok penting dalam perkembangan karier Kiradech Aphibarnrat, terutama dalam upaya menjaga Kiradech berada dalam “jalan yang benar”. Foto: PGA TOUR.

 

”Ayah menjadi kedi saya ketika saya beralih pro dan bersama dia saja saya merasa terbantu. Anda bisa bayangkan kami kerap berselisih, tapi pengalaman ini sangat menyenangkan. Tak mudah memang dan kami kerap berargumen. Saya akan mendengar dia, atau pura-pura mendengarnya!” kenang An, yang kini berusia 28 tahun, sambil tertawa. Dan kini ia sendiri telah menjadi ayah bagi putranya, Sunwoo Stanley An, yang lahir bulan Februari lalu.

”Dia tak terlalu paham sisi teknis olahraga ini. Tapi mereka (sang ibu juga peraih medali Olimpiade cabang tenis meja) adalah atlet dan tahu jalan pikiran atlet dan apa yang dibutuhkan untuk menjadi juara. Hal terpentingnya ialah mereka tak memaksa saya dan mengingatkan bahwa saya mesti berlatih keras agar mahir di golf. Jadi, saya selalu mengingat pesan tersebut.”

Hotel Berjalan Keluarga Pan
Pan yang kini berstatus Juara PGA TOUR dan debutan pada Presidents Cup lalu, adalah anak paling kecil dari enam bersaudara. Dan ia merasa bangga pada mendiang ayahnya, yang dengan sabar mengemudi untuk dia dan saudaranya dalam van keluarga mereka ke berbagai turnamen golf junior.

Ia juga mengenang bagaimana sang ayah, yang berprofesi guru sekolah dasar, membuatkan mereka sarapan tiap pagi. ”Sebenarnya, ayah adalah pribadi yang kaku,” kenang Pan. ”Dia akan menurunkan kami sebelum waktu sarapan di gerbang, dan menyuruh kami berlari satu kilometer mendaki lurus. Dan ia akan menyuruh kami menuntaskan berlari sebelum bisa sarapan. Itulah cara untuk membuat saya lebih kuat secara fisik dan mental.”

 

C.T. Pan mengenang peran sang ayah yang membawa dia dan saudaranya dalam mobil van keluarga, berkeliling dari satu turnamen ke turnamen lain di China Taipei. Foto: Getty Images.

Setelah mengajarkan hal-hal mendasar, sang ayah akan membawa mereka ke perpustakaan umum untuk melihat tip-tip golf dari berbagai majalah golf. Mereka juga memukul bola dari atap van ke sawah dan ke pantai untuk melatih pukulan bunker. ”Ia mempelajari golf enam bulan sebelum saya dan mengajari grip, kuda-kuda, dan cara mengayun club. Lalu kami ke perpustakaan dan membaca sejumlah pelajaran dari majalah. Begitulah cara kami belajar,” ujar Pan, yang akan mempertahankan gelar RBC Heritage pada bulan Juni ini.

”Ada begitu banyak kenangan bagi kami bertiga, berkendara ke berbagai turnamen dalam mobil van itu. Kami tidur di dalamnya. Nyamuk pun banyak dan polisi bakal mengejar kami. Van itu menjadi hotel berjalan bagi kami.”

Bagi pegolf Thai pertama yang meraih kartu PGA TOUR, ayah Kiradech, Panupong, adalah seorang pebisnis. Sang ayah rajin duduk di driving range di Bangkok dan meneriakkan berbagai instruksi.

”Saya mulai main ketika berusia 8, sekadar ikut ayah ke driving range. Aayh selalu duduk di bangku yang sama dan akan berteriak, ’arahkan ke kiri, arahkan ke kanan’ dan ketika akhirnya kami ke lapangan, saya kaget sendiri. Dialah sosok terpenting dalam karier golf sayay. Ia selalu mendorong saya dan selalu mengatakan suatu saat kelak, akan tiba waktunya saya akan menang,” kenang Kiradech.

Pegolf Malaysia berusia 26 tahun, Gavin Green, mendapati sang ayah Gary, yang selalu berada di sampingnya pada tahun-tahun awal karier profesionalnya, bahkan ketika ia melompat dari Asian Tour ke European Tour. Kini ia membidik PGA TOUR sebgai tujuan utamanya.