Hideki Matsuyama siap untuk kembali bersaing dalam perebutan gelar THE PLAYERS Championship pekan ini.

Rasanya Hideki Matsuyama bakal bersedia melakukan apa saja untuk bisa mengembalikan waktu. Dua belas bulan silam, bintang golf asal Jepang ini menorehkan skor terendahnya selama bermain di The Stadium Course TPC Sawgrass. Ia menorehkan skor 9-under 63 untuk memimpin klasemen pada akhir putaran pertama. Sampai akhirnya PGA TOUR memutuskan membatalkan turnamen ini beberapa jam kemudian lantaran COVID-19.

Pegolf berusia 29 tahun ini mengaku menyesal tidak memanfaatkan waktu lebih baik di rumahnya setelah PGA TOUR menghentikan jadwal mereka selama tiga bulan. Ia menyebut perkembangan yang dilakukan Bryson DeChambeau, yang tampil lebih berotot, sebelum akhirnya meraih dua kemenangan mengangumkan, termasuk U.S. Open dan Arnold Palmer Invitational presented by Mastercard pekan lalu.

Meski demikian, Matsuyama jelas masih memiliki peluang untuk sekali lagi menciptakan momennya tersendiri pada ajang yang menyediakan total hadiah sebesar US$15 juta ini. Meskipun persaingan akan jauh lebih berat, mengingat inilah ajang dengan peserta terkuat dari seluruh turnamen golf yang ada.

”Tahun lalu saya bisa main bagus, namun semua kami berada pada posisi yang sulit saat itu. Saya hanya berharap mendapatkan kesempatan lain untuk bisa main bagus dan bersaing,” ujar pegolf yang sejauh ini menjadi pegolf Jepang tersukses pada PGA TOUR.

 

 

”Saya sangat senang bisa finis di sepuluh besar selama dua kali berturut-turut (pada The Genesis Invitational dan WGC-Mexico Championship tahun lalu), namun justru main buruk pada Arnold Palmer (Invitational) sehingga tak bisa berharap banyak pada THE PLAYERS. Namun, saya justru main sangat bagus pada putaran pertama. Saya ingat melakukan putting dengan putter yang baru pekan itu. Saya sendiri sudah beberapa kali mengganti putter dan putter yang saya miliki waktu itu berfungsi dengan sangat baik. Saya hanya melakukan sedikit penyesuaian dengan pukulan putting saya dan berharap bisa mempertahankan performa saya.”

Catatan penampilan Matsuyama pada lapangan yang disebut-sebut sebagai ujian tersulit golf ini sebenarnya menunjukkan ia berpeluang untuk bersaing. Tahun 2019 lalu ia finis T8, dan tiga tahun sebelumnya finis T7. Dalam enam penampilan lainnya, ia juga berhasil tiga kali finis di jajaran 25 besar. Ia membukukan eagle, delapan birdie, dan sebuah bogey untuk membukukan skor 63 pada tahun lalu.

Partisipasi tahunannya pada ajang flagship PGA TOUR ini, plus tujuh kali berturut-turut mengikuti TOUR Championship, ajang pamungkas dari FedExCup Playoff, menunjukkan konsistensinya. Selama musim ini, ia juga telah meraih satu finis di sepuluh besar dengan lima kali berada di jajaran 25 besar. Ia telah mencatatkan satu finis di tempat kedua pada ajang Houston Open untuk musim ini. Namun, ia berharap bisa segera menuntaskan puasa gelarnya selama empat tahun.

”Rasanya sangat berarti tiap kali bisa bermain. Jelas untuk THE PLAYERS, kalau tidak masuk 125 besar pada klasemen FedExCup, Anda takkan bisa main. Hal ini menunjukkan betapa konsistennya saya dan sudah menjadi target saya untuk suatu hari nanti menjadi Juara THE PLAYERS. Ajang ini ada dalam daftar turnamen yang saya harap bisa menangkan suatu hari nanti dan jika bisa mewujudkannya, saya akan merasa sangat senang,” sambung Matsuyama.

”Seharusnya saya membuat rencana yang detail dan berfokus untuk meningkatkan bagian-bagian tertentu dari permainan saya.”

”Permainan saya kian meningkat hari demi hari dan rasanya saya berpeluang untuk bisa menang tahun ini. Yang terpenting ialah menyatukan semua aspek permainan pada saat yang sama dan merasa memiliki peluang yang baik.”

Menyusul dihentikannya kompetisi pada tahun lalu, Matsuyama juga mengaku ia seharusnya bisa lebih memaksimalkan waktunya selama berada di rumahnya. ”Ketika pembatalan itu diumumkan, rasanya saya bisa memahami situasinya. Saya tidak merasa kecewa. Saya sadar kalau kita semua akan menghadapi masa-masa yang berat. Saat itu, saya mendapat kabar kalau The Masters masih akan dilangsungkan sehingga memutuskan untuk tetap berada di Amerika Serikat dan berlatih di rumah (di Orlando), bersaing pada Masters sebelum kemudian pulang ke Jepang,” kenang Matsuyama.

”Lalu ketika berita (pandemi) mulai memburuk, saya sadar bahwa jauh lebih aman kalau saya pulang ke jepang. Saya tak punya gambaran kapan musim itu bakal dilanjutkan dan tidak mudah untuk menentukan jadwal. Bahkan kalau pun bisa, saya tak yakin kalau jadwal itu bakal berdampak baik buat saya. Mengingat jeda tersebut, saya menyesal tidak memanfaatkan waktu dengan sedikit lebih baik. Seharusnya saya membuat rencana yang detail dan berfokus untuk meningkatkan bagian-bagian tertentu dari permainan saya.

”Anda bisa melihat pertumbuhan dari DeChambeau. Kalau melihat dia, saya merasa telah menyia-nyiakan waktu. Saya tak membandingkan diri saya dengan orang lain, tapi kalau melihat ke belakang, saya pikir seharusnya seaya melakukan latihan atau melatih bagian tertentu permainan saya. Memang tidak ada gunanya menyesali yang sudah terjadi, tapi saya pikir sangat penting untuk mengingat perasaan (kecewa) ini.”