Sudah sejak 2017 tak menikmati gelar juara, Hideki Matsuyama memilih bersabar untuk mewujudkan semua impiannya, termasuk menjuarai Major.

Oleh Chuah Choo Chiang, Senior Director Communications PGA TOUR, berdomisili d Kuala Lumpur

Ketenaran di bidang olahraga sering kali diraih dengan berbagai cara. Beberapa atlet terlahir dengan bakat alami sehingga kerap tampil maksimal di level tertinggi. Sementara yang lain menggunakan kegigihan, dorongan, dan determinasi untuk menguasai bidangnya sampai melambungkan namanya sendiri.

Dengan kata lain, ketenaran diraih sebagai bagian dari takdir.

Bintang Jepang Hideki Matsuyama menjadi salah satu yang akan melihat perjalanan kariernya yang cemerlang dan mengakui kariernya yang melejit pada PGA TOUR melibatkan nasib baik dan keberuntungan.

Sekitar 10 tahun lalu, ia menikmati terobosan besar dalam kariernya lantaran akhirnya bisa mengikuti Asia-Pacific Amateur Championship (AAC) di Jepang. Tuan rumah kala itu mendapat empat spot tambahan selain enam pemain teratas Jepang menurut World Amateur Golf Ranking.

Turnamen amatir tersebut diluncurkan setahun sebelumnya sebagai inisiatif pengembangan golf yang digagas oleh Asia Pacific Golf Confederation, Masters Tournament, dan The R&A. Kalaulah ajang itu dimainkan di negara lain, nama Matsuyama mungkin takkan terlalu akrab di lingkungan golf masa kini.

Sebagaimana hasilnya, Matsuyama memanfaatkan peluang tersebut dan memastikan kemenangan lima stroke di Kasumigaseki Country Club. Ia mendapat undangan bermain pada Masters Tournament 2011 dan segera menjadi pemain amatir terbaik di Augusta National, yang sekaligus memberinya Silver Cup. Dengan cara beginilah ia menegaskan kehadirannya di panggung dunia.

Matsuyama mengakui keberhasilannya pada AAC dan Masters Tournament mengubah kehidupannya.

 

 

”Menjuarai Asia-Pacific Amateur Championship memberi peluang untuk bermain pada Masters Tournament. Tapi lolos cut pada pekan itulah yang menyadarkan bahwa saya bisa memiliki karier sebagai pegolf,” ujarnya.

”Saya sangat beruntung bisa menerima salah satu undangan tambahan untuk bermain (pada AAC) tahun 2010 itu. Waktu itu saya masih 18 tahun dan sangat ingin bermain pada turnamen besar. Saya merasa gugup memainkan putaran final, tapi berhasil fokus untuk melakukan pukulan demi pukulan. Saya merasa kaget juga melihat permainan saya cukup baik untuk memenangkan ajang tersebut.”

Dominic Wall, Direktur R&A Asia Pasifik menjadi direktur turnamen ketika Jepang menyambut bintang baru mereka ini. ”Sepanjang pekan itu Hideki bermain sangat bagus dan mempertahankan nyalinya di sembilan hole terakhir. Sungguh mengagumkan menyaksikan pemain tuan rumah bisa menang. Dan kemenangannya setahun kemudian di Singapura menyoroti bakat dan potensinya,” ujar Wall.

”Jepang memiliki enam pemain teratas yang diundang berdasarkan peringkatnya pada World Amateur Golf Ranking. Mereka adalah Yoshinori Fujimoto, Yosuke Asaji, Keisuke Otawa, Yuki Usami, Masamichi Ito, dan Masahiro Kawamura. Sebagai tuan rumah, mereka juga mendapat empat undangan tambahan dan Hideki menjadi salah satu dari keempatnya. Jika kami menggelar AAC di negara lain pada tahun itu, Hideki takkan bermain. Sisanya pun bisa Anda tebak!”

Ketika sejumlah pegolf butuh waktu seumur hidupnya untuk mendapatkan hak bermain di kancah PGA TOUR, transisi Matsuyama ke level profesional berjalan dengan mulus. Dalam tujuh turnamen pada 2013, enam di antaranya ia akhiri dengan finis di 25 besar, termasuk T6 pada The Open Championship, cukup untuk memberinya kartu PGA TOUR melalui kategori non-member.

”Saya sangat senang bisa meraih kartu hanya dengan memainkan tujuh turnamen. Apa saya terkejut akan hasil tersebut? Sejujurnya, lolos cut pada Masters 2011 dan 2012 menjadi kunci yang memberi kepercayaan diri yang saya butuhkan bahwa suatu saat nanti saya sanggup berkompetisi di PGA TOUR,” tekannya.

”Saya berutang banyak pada Augusta National dan akan selamanya bersyukur untuk kesempatan bermain pada The Masters sebagai amtir dan membantu saya meraih mimpi bermain sebagai pegolf profesional. Menjuarai AAC 2010 menjadi titik balik yang mengubah hidup saya.”

 

Finis T2 pada U.S. Open 2017 menjadi prestasi terbaik Matsuyama pada ajang Major. Foto: Rolex.

 

Tak kalah signifikannya, gelar PGA TOUR perdana Matsuyama ia raih di rumah dari sang legenda, Jack Nicklaus. Pegolf Jepang ini mengalahkan Kevin Na pada ajang The Memorial Tournament 2014 lewat partai play-off. Dan setelah itu ia meraih empat gelar lain hingga 2017, termasuk dua gelar World Golf Championships, yang menjadikan pegolf Asia pertama yang meraih prestasi tersebut. Ia pun menjadi pegolf Jepang yang paling sering menjuarai ajang PGA TOUR dengan lima kemenangan hingga saat ini.

Nicklaus pun membandingkan bintang muda asal Jepang ini dengan pemain generasi terdahulu, Isao Aoki dan Jumbo Ozaki. ”Hideki pemain yang kuat. Dia semacam kombinasi antara Aoki dan Jumbo, dalam arti bahwa dia pemuda yang besar, kuat, dengan sentuhan putting yang mengagumkan. Permainan golfnya juga luar biasa. Pemuda ini bakal menjuarai banyak turnamen,” ujar sang pemegang 18 gelar Major tersebut.

Matsuyama mencapai peringkat 2 pada Official World Golf Ranking bulan Juni 2017 setelah menjadi runner-up pada U.S. Open. Itulah prestasi Major terbaiknya sejauh ini. Meskipun kini ia tak kunjung meraih kemenangan lagi, Matsuyama telah menampilkan permainan yang solid dalam beberapa waktu belakangan. Tak heran jika ia segera meraih gelar ke-6 dalam waktu dekat. Hingga kompetisi terpaksa dihentikan, Matsuyama telah lima kali finis di sepuluh besar pada PGA TOUR musim 2019-2020 dan menempatkannya pada posisi 10 klasemen FedExCup.

C.T. Pan yang berpasangan dengan Matsuyama dalam menyumbangkan dua partai pada Presidents Cup bulan Desember lalu, mengingat bahwa nama Matsuyama sudah menjadi bahan perbincangan ketika masih amatir. ”Kesan pertama saya tentang Hideki ialah bahwa ia pemain hebat dengan begitu banyak potensi,” tutur Pan, yang sebaya dengan Matsuyama. ”Jauh lebih baik lagi bisa mengenal dia secara langsung saat Presidents Cup. Ketenangan dan fokusnya yang luar biasa sangat mengagumkan. Saya yakin dia bisa menjuarai Major suatu waktu nanti … segera.”

Seperti swing-nya yang ditandai dengan jeda pada puncak backswing, Matsuyama tak berniat terburu-buru untuk meraih lebih banyak kemenangan lagi, meskipun sudah lama ia tak menang.

”Saya masih harus belajar banyak dan berlatih keras untuk mencapai target-target yang telah saya tentukan, termasuk bermain pada TOUR Championship tiap tahun, menjuarai PGA TOUR, dan tentu saja menjuarai turnamen Major.”

Dengan keberuntungan, Matsuyama bakal meraih banyak kemenangan lagi.