Hideki Matsuyama masih menjadi pemain terbaik Asia pada ajang Major U.S. Open, namun performa para wakil Asia di Winged Foot menimbulkan pertanyaan.

Sebelas tahun sudah berlalu sejak Y.E. Yang menciptakan sejarah menjuarai ajang Major. Kemenangannya atas Tiger Woods untuk menjuarai PGA Championship 2009 itu membuktikan bahwa pegolf Asia bisa menjadi juara Major. Keyakinan bahwa gelombang juara dari Asia akan segera merambah Amerika mulai muncul.

Akan tetapi, sebelas tahun kemudian pada tahun 2020 ini, para pegolf Asia masih belum ada yang sanggup mengulangi prestasi fenomenal tersebut. Jangankan di level kejuaraan Major, pada kancah PGA TOUR harapan tersebut pun belum terbukti.

Sejumlah wakil Asia memang telah meraih kemenangan pada level PGA TOUR. Sejak tahun 2009 seusai Y.E. Yang menjuarai PGA Championship—pada tahun itu juga, pada bulan Maret, Yang menjuarai The Honda Classic, para pegolf Asia hanya menjuarai 11 turnamen berbeda pada total 16 kesempatan. Selain itu, hanya ada sepuluh nama yang tampil sebagai pemenang.

Arjun Atwal menjadi satu-satunya pegolf India yang mencatatkan gelar PGA TOUR. Kemenangan fenomenal ini ia raih pada bulan Agustus 2010 ketika menjuarai Wyndham Championship. Turnamen ini juga menjadi turnamen PGA TOUR yang dua kali dimenangkan oleh pegolf Asia sejak 2009. Kim Siwoo melakukannya pada tahun 2016.

 

Bersama Hideki Matsuyama, Im Sungjae masih akan menjadi wakil Asia terkuat dalam kompetisi PGA TOUR untuk musim 2020-2021. Foto: Getty Images.

 

Sementara itu, C.T, Pan menjadi satu-satunya pegolf China Taipei yang meraih prestasi serupa. Ia menjuarai ajang RBC Heritage pada tahun 2019, turnamen yang setahun sebelumnya dimenangkan oleh pegolf Jepang Satoshi Kodaira.

K.J. Choi dan Kim Siwoo juga menjadi dua wakil Asia yang tersukses pada ajang THE PLAYERS Championship. Keduanya meraih kemenangan pada ajang flagship PGA TOUR tersebut, masing-masing pada tahun 2011 dan 2017.

Namun, tidak ada yang menandingi kesuksesan Hideki Matsuyama. Sejak pertama kali meraih gelar PGA TOUR pada tahun 2014, Matsuyama telah mengoleksi empat gelar lagi. Ia berhasil mempertahankan gelar Waste Management Phoenix Open pada tahun 2017. Selain itu, ia juga dua kali menjuarai ajang World Golf Championships, kejuaraan yang kerap berada sebagai salah satu prioritas tertinggi bagi para pegolf profesional.

Hal serupa juga terjadi di level Major, seperti pada ajang U.S. Open. Sejak 2009 itu, praktis hanya dua kali pegolf Asia finis di jajaran sepuluh besar. Dua tahun setelah menjuarai PGA Championship, Y.E. Yang finis di posisi T3 pada tahun 2011. Enam tahun kemudian, Matsuyama memperbaiki catatan itu dengan finis T2, empat stroke di belakang Brooks Koepka.

 

Ryo Ishikawa masih belum berhasil memperbaiki prestasinya finis T30 ada U.S. Open 2011 setelah finis T51 pada edisi ke-120 di Winged Foot Golf Club. Foto: Getty Images.

Tahun ini hal serupa kembali terjadi. Memasuki putaran final dengan tertinggal lima stroke dari pimpinan klasemen, Matsuyama justru mendapat double bogey di hole 1, yaitu hole yang sehari sebelumnya memberi birdie. Setelah tiga bogey berturut-turut di tiga hole berikutnya, pegolf berusia 28 tahun ini akhirnya mencatatkan birdie pertamanya pada putaran final itu di hole 6. Sayangnya, itulah satu-satunya birdie yang bisa ia catatkan. Ia harus mendapat empat bogey lagi dan mengakhiri U.S. Open di posisi T17.

Sementara itu, Im Sungjae yang diharapkan bisa bersinar juga harus mengalami ganasnya Winged Foot. Selama empat putaran, skor terbaiknya hanyalah even par pada hari pertama. Ia mengakhiri U.S. Open edisi ke-120 ini dengan catatan 9-over 289 dan finis sendirian di peringkat 22. Meski gagal bersinar, catatan ini masih jauh lebih baik ketimbang debutnya dua tahun silam, ketika ia gagal lolos cut.

Rekan senegara Matsuyama, Ryo Ishikawa, yang disebut-sebut sebagai harta karun Jepang di dunia golf, juga masih belum bisa memperbaiki prestasi terbaiknya selama bermain pada U.S. Open pada tahun 2011, saat finis T30. Tahun ini Ishikawa harus finis di posisi T51 setelah menjadi satu dari tiga pemain yang finis dengan skor total 18-over.

Shugo Imahira bahkan harus menjadi juru kunci dengan torehan skor total 25-over. Walaupun ini menjadi prestasi Major terbaik bagi pemegang empat gelar Japan Golf Tour ini, bermain dengan skor sebesar itu jelas menyakitkan.

 

Shugo Imahira menuntaskan U.S. Open ke-120 sebagai juru kunci dengan skor total 25-over. Foto: GolfinStyle.

 

Kekuatan para wakil Asia di level tertinggi, khususnya untuk golf pria, tampaknya masih jauh dari harapan. Meskipun dua tahun terakhir ini sejumlah catatan penting ditorehkan—Im Sungjae, misalnya, menjadi pegolf Asia pertama yang meraih status Rookie of the Year PGA TOUR pada tahun 2019—oleh para pegolf Asia, dalam beberapa kesempatan mereka kerap gagal bersinar. Terakhir Matsuyama juga harus menunda gelar PGA TOUR keenamnya setelah sempat memimpin pada BMW Championship akhir musim lalu.

Melihat tren yang ada saat ini, sepertinya kita masih harus bersabar lebih lama lagi untuk menyaksikan kehadiran para juara Asia di Amerika, termasuk pada ajang Major. Dan sepertinya, harapan Asia masih akan diusung oleh Matsuyama dan Im, sebagai dua pegolf terbaik saat ini. Major

Misteri lainnya yang mungkin baru akan tersingkap kemudian adalah akankah nama-nama, seperti Kang Sung dan C.T. Pan, yang notabene telah mengemas satu gelar PGA TOUR akan kembali tampil sebagai pemenang pada musim 2020-2021 ini? Termasuk prospek lain, seperti Zhang Xinjun yang terlihat mulai terbiasa bermain di level PGA TOUR, plus kemungkinan bergabungnya Li Haotong.

Selain itu, ada pula pertanyaan soal apakah dengan demikian nama-nama, seperti Kiradech Aphibarnrat, Jazz Janewattananond, ataupun Anirban Lahiri akan tenggelam? Lagi-lagi waktu akan menjawabnya.