Pahlawan Tim Internasional Presidents Cup Shigeki Maruyama meyakini potensi tim yang dipimpin Kapten Ernie Els untuk meraih kemenangan.

Sudah 21 tahun berlalu sejak Shigeki Maruyama memukau dunia pada ajang Presidents Cup. Kini ia menyerukan semangat agar Tim Internasional bisa menaklukkan Tim Amerika Serikat yang dipimpin Tiger Woods di Royal Melbourne Golf Club ketika ajang dua tahunan ini dimulai Kamis (12/12) mendatang.

Maruyama merupakan pemain debutan pada Presidents Cup 1998, yang kala itu juga dimainkan di Royal Melbourne. Ia kemudian menjelma sebagai pahlawan dengan rekor 5-0-0 yang membantu Tim Internasional meraih satu-satunya kemenangan sepanjang sejarah penyelenggaraan ajang ini.

Pria yang kini berusia 50 tahun dan telah mengemas tiga gelar PGA TOUR ini mengingat bagaimana almarhum Kapten Tim Internasional Peter Thomson menginspirasi dirinya dan 11 rekannya.

“Dia (Thomson) berkata, ‘Kau pasti bisa melakukannya!'” ujar Maruyama. “Ia seperti sosok seorang ayah. Dia selalu bersikap ramah dan menyambut saya setelah berusaha keras.

“Waktu itu saya pemain debutan dan tiap pemain Amerika adalah megabintang. Tapi saya tidak takut menghadapi tiap partai. Saya sudah membulatkan tekad dan berpikir tak masalah kalaupun kalah. Jadi, saya tidak takut. Satu-satunya hal yang terpatri dalam hati saya ialah mengalahkan Tim Amerika.”

Maruyama membentuk tim juara pada sesi fourball dan foursome, masing-masing dengan pegolf Australia Craig Parry dan rekan senegaranya Joe Ozaki. Salah satu kemenangan yang ia persembahkan ialah keunggulan 1-up mengalahkan pasangan Woods dan Fred Couples, saat berpasangan dengan Parry pada sesi foursome hari kedua. Kala itu Woods juga melakoni debutnya.

Shigeki Maruyama bersama Hideki Matsuyama, yang melakoni debutnya untuk Tim Internasional pada Presidents Cup 2013. Maruyama berharap ajang dua tahunan ini bisa digelar di Jepang dalam waktu dekat. Foto: Getty Images.

Bintang Jepang tersebut mengisahkan bagaimana Thomson membuat para pemain Tim Internasional merasa rileks sepanjang pekan itu.

“Ia ingin membuat atmosfer tim yang lebih baik. Itu alasan mengapa saya bisa tampil cemerlang dan saya sendiri sebenarnya bersikap kurang serius dan ingin menyemangati semua orang. Saya pikir waktu itu saya terpengaruh oleh Peter. Jadi, saya banyak tersenyum dan berseru ‘Wow!’ untuk menginspirasi tim,” tutur Maruyama, yang mendapat julukan “Smiling Assassin” berkat aksi heroiknya di Royal Melbourne.

Meskipun Tim Amerika telah mendominasi dengan memenangkan tujuh edisi berturut-turut, Maruyama yakin Tim Internasional yang kali ini dipimpin Ernie Els akan sanggup mengalahkan Tim Amerika.

“Saya pikir ia memiliki kekuatan yang luar biasa untuk memimpin para pemain ini. Tahun ini harusnya Tim Internasional memiliki peluang besar (untuk menang),” ujar Maruyama lagi. “Ada banyak pemain bagus dari Australia, dan para pemain Asia juga bisa mengimbangi para pegolf papan atas. Saya sangat senang para pemain Asia mendapat perwakilannya.”

Chemistry tim dan dukungan penggemar tuan rumah, menurut Maruyama, akan memainkan peranan penting untuk menentukan harapan Tim Internasional. Pada tahun 1998 itu, Maruyama menunjuk dua pemain top dalam tim, Greg Norman dan Steve Elkington, bersikap layaknya saudara di ruangan tim.

“Yang membuat saya merasa percaya diri ialah dua megabintang di Tim Internasional kala itu, Greg Norman dan Steve Elkington. Dalam hati, kehadiran mereka seperti seorang saudara, yang membuat saya merasa lebih yakin,” imbuhnya.

Ia sendiri tak pernah membayangkan bakal meraih kemenangan sempurna 5-0-0, pencapaian yang sejauh ini hanya bisa dilakukan oleh Mark O’Meara, Woods, Jim Furyk, dan Branden Grace dalam sejarah Presidents Cup.

“Setelah pertandingan berakhir, saya merasa betapa menyenangkan. Tapi saya tidak memikirkan pertandingan tersebut sepanjang pekan. Saya bekerja keras dan pada akhir pekan, semua orang memberi tahu saya, ‘Ini lima kemenangan!’ dan saya balik bertanya, ‘Oh ya? Memangnya saya sebagus itu?’

Sudah tentu saya berharap Presidents Cup bisa digelar di Jepang. Saya berdoa suatu waktu harapan ini bisa terwujud.

“Saya tak merasa bermain dengan baik sampai yang lain memberi selamat kepada saya. Para senior saya, Greg, Nick (Price), Steve, dan yang lainnya berkata, ‘Kau luar biasa!’ Setelah itu saya merasa ada bagusnya juga sedikit pamer. Saya ingat menaruh Piala kemenangan di kepala dan berseru dengan gembira. Saya memang punya sifat seperti seorang pelawak.”

Dari dua penampilannya, Maruyama telah menggunakan dana sumbangan yang dialokasikan untuknya dan menciptakan yayasannya sendiri, yang berfokus untuk pengembangan golf junior di Jepang.

“Waktu menanyakan kepada para pemain lain ke mana mereka mengalirkan sumbangan itu, semua orang punya yayasan junior masing-masing. Lalu saya mendirikan yayasan saya (Shigeki Maruyama Junior Foundation) dan sekarang kami menggelar empat atau lima turnamen tiap tahun. Penerapan saya ialah bahwa kami melakukan semua aktivitas ini secara gratis dan anak-anak itu bisa bermain secara bebas. Ada gambaran tersendiri di Jepang bahwa golf itu mahal. Saya ingin mengubah citra seperti itu.

“Anak saya (Sean, yang bermain pada Junior Presidents Cup 2017) besar di AS, di mana ada begitu banyak turnamen junior. Tapi di Jepang jumlahnya masih belum cukup. Saya berharap bisa mengembangkan yayasan junior ini lebih jauh lagi pada masa mendatang. Dan saya ingin menumbuhkan jumlah pemain aktif di dunia.”

Sejauh ini, Korea menjadi satu-satunya negara Asia yang pernah menggelar Presidents Cup sejak ajang ini diadakan pada 1994. Ia berharap ajang beregu prestisius ini bisa digelar di Jepang dalam waktu dekat.

“Sudah tentu saya berharap Presidents Cup bisa digelar di Jepang. Saya berdoa suatu waktu harapan ini bisa terwujud,” ujarnya.