Collin Morikawa meraih Major pertamanya dalam 29 ajang PGA TOUR yang telah ia ikuti.

Fakta singkat mengenai Collin Morikawa: pegolf berusia 23 tahun ini merupakan alumnus University of California, Berkeley, universitas yang juga menjadi kampus bagi pegolf Indonesia George Gandranata. Dan TPC Harding Park menjadi salah satu lapangan yang terbilang akrab bagi para atlet golf Berkeley.

”Saya belum pernah kembali lagi ke sini sejak lulus tahun lalu. Jadi, lapangan ini mendapat tempat yang spesial buat saya dan akan selalu demikian,” tutur Morikawa.

Selama menjadi mahasiswa, Morikawa setidaknya pernah bermain 12 kali di lapangan ini. Meskipun pada PGA Championship kali ini rute lapangan disajikan berbeda daripada biasanya, Morikawa cukup berhasil membangkitkan ingatannya pada lapangan ini.

Bekal itu saja jelas tidak cukup. Memori masa lalu tak selalu menciptakan momentum pada masa kini. Terkadang memberi hasil, tapi sering pula mengekang Anda dari kemungkinan yang terbentang di hadapan. Dan bagi Morikawa, kemenangannya di TPC Harding Park kemarin (9/8) merupakan kombinasi dari keputusan cemerlang yang berani ia ambil.

Keyakinan Sejak Awal
Satu hal patut dikagumi dari Morikawa dan hal ini ikut menciptakan perbedaan. Sejak awal ia telah memiliki keyakinan bahwa ia bakal memenangkan Major. Morikawa menyebutnya sebagai target, bukan harapan atau ekspektasi.

”Eskpektasi adalah sesuatu yang Anda taruh di pundak saya. Itulah yang saya filter dan tak ingin saya dengar karena saya sudah mematok target. Dan tahun lalu target saya ialah mendapatkan status (pada PGA TOUR) dan belajar dari hal tersebut.

”Saya merasa yakin pada diri sendiri sejak hari pertama,” ujar Collin Morikawa. Keyakinan tersebut juga sudah ia miliki jauh sebelum PGA Championship kali ini.

 

 

”Saya ingat dengan persis ketika pada Travelers Championship, kami berempat, saya dan Matthew Wolff, Viktor Hovland dan Justin Suh, dan saya juga memberitahukan hal ini kepada semua orang, bahwa kami berempat memiliki jalur karier yang sangat bagus. Justin mungkin sedikit kesulitan, tapi kami semua yakin sejak awal bahwa kami bisa menjalani karier ini. Saya tak pernah melepas keyakinan ini sejak saat itu.”

Dalam dua putaran pertama ia membukukan skor 69-69. Lalu skor 65 pada putaran ketiga menempatkannya hanya dua stroke dari Dustin Johnson, sang pimpinan klasemen.

Johnson, pada satu periode, seakan bakal menambah gelar Major. Cameron Champ, pada periodenya sendiri, juga sempat memimpin. Juara bertahan Brooks Koepka, ketika putaran final dimulai, meskipun cederanya sempat kambuh, juga masih diunggulkan. Setidaknya sampai sembilan hole pertama yang diwarnai empat bogey itu ikut memupus harapannya. Ketika mereka semua tersandung, Morikawa melenggang.

Meraih Target
Melihat catatan penampilan Morikawa sejak 2017, ketika tampil dalam ajang PGA TOUR pertamanya dalam status amatir, mantan pegolf amatir No.1 dunia ini hanya dua kali gagal lolos cut. Bahkan sejak beralih profesional pada tahun 2019 lalu, ia hanya sekali gagal lolos cut, yaitu pada ajang Travelers Championship.

Musim ini juga merupakan musim pertama Morikawa bermain penuh pada PGA TOUR. Dan sampai menjelang PGA Championship ia telah melakoni karier profesional yang sangat sukses dengan dua gelar PGA TOUR. Gelar kedua ia menangkan pada Workday Charity Open, kala itu melalui partai play-off dengan Justin Thomas.

Lalu pada putaran final kemarin, Morikawa yang awalnya terpaut dua stroke dari pimpinan klasemen Dustin Johnson, tampil sebagai kandidat pemenang setelah mencatatkan 3-under hingga hole 10.

Lalu birdie krusial di hole 14 ia torehkan, dan eagle di hole 16 menciptakan perbedaan sekaligus batas aman untuk kemenangan Major pertamanya.

”Meraih gelar Major merupakan salah satu target hidup saya sejak kecil. …. akhirnya bisa meraih kemenangan di sini di San Francisco, … jelas terasa sangat spesial.”

”Meraih gelar Major merupakan salah satu target hidup saya sejak kecil. Saya bermain sangat nyaman sejak awal. Sebagai pegolf amatir, pegolf junior, beralih profesional tahun lalu, tapi akhirnya bisa meraih kemenangan di sini di San Francisco, yang bisa dibilang menjadi rumah kedua saya dalam empat tahun terakhir, jelas terasa sangat spesial. Saya merasa berada di langit kesembilan!” tutur Morikawa/

”Saya memperhatikan papan klasemen. Saya ingin tahu di mana posisi saya. Lagipula saya tak ingin menuju hole terakhir dengan mengetahui kalau saya harus main par, dan kemudian malah berusaha mendapat birdie atau melakukan keputusan yang konyol.”

Setelah memahami posisinya, Morikawa mengambil keputusan yang tepat dengan bermain agresif di hole 16. Par 4 yang pendek ini sangat mungkin dicapai dalam satu pukulan. Keputusan ini juga bukan sekadar sebuah langkah untung-untungan. Pukulan tee Morikawa sepanjang pekan itu menjadi yang paling akura—dan ia menuntaskan empat putarannya dengan akurasi terbaik, memukul 39 dari 56 fairway, plus Strokes Gained: Putting terbaik dengan catatan 8,076. Tak heran jika ada keyakinan ekstra baginya untuk menentukan hasil akhir di hole 16 itu.

Tapi bahkan keputusan ini pun bukan sesuatu yang sejak awal bakal ia pertimbangkan. Setidaknya hingga hari Rabu, Morikawa menegaskan kalau ia ”tak berniat untuk memaksakan mencapai green hole 16 dalam satu pukulan. Saya memberi tahu Colt Knost ketika ia menanyakan apakah saya akan mencobanya. Saya lekas menjawab tidak, hole itu terlalu berlawanan dengan arah angin, buat apa mengambil risiko? Saya tak mengira posisi pin akan seperti pada putaran final.”

Morikawa mempertimbangkan jarak pukul yang serupa, yang ia hadapi di hole 14 di Muirfield. Jarak pukul yang kurang leboh sama, angin yang berembus sedikit ke kiri, dan keputusan ini kemudian membuahkan eagle. Dengan mengamankan par di hole 17 dan 18, Morikawa memastikan gelar Major pertamanya lewat keunggulan dua stroke dari Paul Casey dan Dustin Johnson.

Rekor Baru
Selain kemenangan itu, skor 65-64 yang ia torehkan merupakan skor 36 hole terakhir yang paling rendah sepanjang sejarah PGA Championship. Putaran finalnya juga menjadi putaran final terendah kedua yang ditorehkan seorang juara, setelah Steve Elkington melakukannya tahun 1995.

Morikawa kini menjadi juara Major pertama dalam era pandemi COVID-19. Kemenangan ini turut membawanya menempati peringkat 5 dunia dan peringkat 2 pada klasemen FedExCup.