Kapten Tim Internasional Presidents Cup 2019 Ernie Els memperkenalkan logo baru bagi timnya melalui sebuah ajang khusus bagi anggota belum lama ini. Acara yang dilangsungkan di The Royal Melbourne Golf Club tersebut menandakan hampir setahun menuju kembalinya ajang beregu tersebut ke The Royal Melbourne Golf Club pada tanggal 9-15 Desember 2019.

Logo baru yang diperkenalkan Sang Kapten ini sendiri memiliki dua hal penting jelang pertemuan dengan Tim Amerika yang bakal dipimpin oleh Tiger Woods itu. Pertama, logo ini menjadi simbol fokus tim yang lebih terpadu, sedang yang kedua, logo ini juga memberi kesempatan bagi para anggota tim, yang notabene berasal dari latar negara yang berbeda, untuk menempatkan bendera negara mereka di logo tersebut.

Inisiatif ini diambil oleh Els, mengingat Tim Amerika akan dengan mudah dikenal melalui bendera mereka, yang sekaligus mengusung kebanggaan bagi negara. Namun, Tim Internasional bukanlah tim yang terbentuk hanya dari satu negara, melainkan dari berbagai negara di seluruh dunia. Itulah sebabnya, Els berupaya menciptakan logo yang bisa membawa seluruh anggota timnya bersatu, sembari masih memberi tempat untuk bendera negara masing-masing.

“Untuk membentuk Tim Internasional Presidents Cup, dibutuhkan sekelompok pemain istimewa dari seluruh dunia. Dengan latar dari berbagai negara, kami tidak bisa bermain dengan satu bendera yang sama. Kelompok yang istimewa ini membutuhkan suatu identitas. Untuk mengangkat semangat tim, kami pun merasa membutuhan sebuah logo,” jelas Els.

Untuk itulah Els berdiskusi dengan beberapa temannya yang memiliki latar belakang militer. Sampai akhirnya, tercetuslah sebuah logo yang menyerupai perisai, dengan semacam pita yang memanjang dari atas hingga melewati batas garis batas perisai. Sementara ruang di tengahnya menjadi tempat untuk melekatkan bendera negara tiap anggota tim.

 

 

Sejumlah pemain top dari beberapa negara yang telah berhak menjadi bagian dari Tim Internasional, turut bergabung dengan Els dalam pengumuman logo baru ini. Mereka ialah Kiradech Aphibarnrat (Thailand), Marc Leishman dan Cameron Smith (Australia), Li Haotong dan Wu Ashun (China), Kim Siwoo (Korea) Jhonattan Vegas (Venezuela), dan Abraham Ancer (Meksiko).

Anirban Lahiri, yang sempat bermain dalam dua Presidents Cup sebelumnya, juga bersemangat untuk bisa masuk menjadi anggota Tim Internasional di bawah kepemimpinan Ernie Els.

“Buat saya, bisa menjadi wakil negara dari sesuatu yang bahkan lebih besar daripada seluruh negara, adalah sesuatu yang sangat spesial. Pertama-tama, Anda mewakili negara Anda meskipun merupakan bagian dari Tim Internasional, dan saya pikir hal ini bakal mempersatukan semua orang dari negara-negara yang berbeda ini. Hal ini akan lebih memotivasi mereka, bahkan jika memungkinkan untuk datang pada ajang Presidents Cup nanti. Saya pikir, masyarakat India akan melihat bendera India dan menantikannya,” ujar Lahiri.

“Masyarakat Meksiko dan Australia dan Kanada, meskipun mereka tahu bahwa mereka adalah masyakart internasional, ketika melihat benderanya, akan ada hasrat yang berbeda, bahwa Anda terwakili olehnya, dan saya pikir, hal ini akan menambah nilainya.”

Sementara itu, Kiradech, yang menjadi pegolf Thailand pertama yang meraih kartu PGA TOUR, kini berada di peringkat 16 pada ranking Tim Internasional.

“Presidents Cup selalu menjadi ajang beregu terbesar untuk para pegolf internasional dan bagi para pegolf Asia. Jika bisa menjadi bagian dari tim ini, saya akan sangat bersukacita bisa berada di antara 12 pemain terbaik internasional pada tahun depan. Saat ini saya sedang dalam persaingan dan semoga saya bisa melakukannya. Jika melihat logo baru itu, rasanya Anda mendapat energi berlimpah melaluinya. Besar artinya bagi para pemain untuk bisa menempatkan bendera kami di logo Tim Internasional,” ungkap Kiradech.

Li Haotong, yang kini berada di peringkat ketiga dari ranking Tim Internasional, memuji logo baru ini.

Penampakan logo baru Tim Internasional The Presidents Cup 2019. Bagian tengah akan dimodifikasi untuk mengakomodasi bendera tiap anggota.

“Logo baru ini cukup keren. Desainnya sangat bagus … bisa menaruh bendera kami di tengah logo itu jelas fantastis. Tahun lalu saya gagal menjadi bagian dari tim, dan hal itu sedikit mengecewakan. Saya pikir ini kesempatan baru buat saya untuk bisa menjadi bagian dari tim dan kami berharap kami bisa memenangkannya kali ini,” ujarnya.

Li menambahkan, ia merasa sangat terhormat bisa bermain bagi Els. Keduanya sempat bermain bersama pada putaran final The Open Championship tahun ini.

“Sejak saat itu ia selalu mendukung karier saya. Dia bakal menjadi kapten yang hebat. Kami akan merasa sangat terhormat, dan semoga saya bisa masuk jadi anggota tim dan menjuarai ajang ini,” imbuhnya.

Tahun depan sekaligus menjadi kesempatan ketiga bagi Melbourne untuk menjadi tuan rumah dari ajang dua tahunan ini sejak ajang beregu ini digelar pertama kalinya 25 tahun silam. Sebelum 2019, ajang ini juga dimainkan di Melbourne pada 1998 dan pada 2011 di The Royal Melbourne Golf Club.

The Royal Melbourne Golf Club sendiri merupakan klub golf tertua di Australia, yang didirikan pada tahun 1891. Klub ini kemudian dipindahkan lokasinya ke tempatnya sekarang pada 1926 dan menjadi pusat dari apa yang kini kita kenal sebagai Sandbelt, permatanya golf Australia.

 

Kapten Ernie Els diapit oleh Wu Ashun (kiri) dan Li Haotong (kanan). Foto: PGA TOUR/Con Chronis.

Klub ini sendiri memiliki dua lapangan golf yang sama-sama masuk daftar World’s Top 100, dan didesain oleh arstik legendaris Alister MacKenzie. Guna menggelar turnamen pertama dari berbagai turnamen internasional, 12 hole di West Course dan 6 hole di East Course dipadukan pada 1959. Perpaduan yang dikenal sebagai Composite Course ini juga menjadi saksi kemenangan Tim Australia yang diwakili Adam Scott dan Jason Day pada World Cup of Golf 2013.

Melbourne juga menjadi kota yang sangat bersejarah bagi Tim Internasional. Di sinilah Tim Internasional meraih satu-satunya kemenangan pada 1998. Kala itu Tim Internasional, yang dipimpin oleh Peter Thomson sukses mengalahkan Tim AS yang dikomandoi oleh Jack Nicklaus dengan skor 20,5-11,5. Tahun 2011, Fred Couples memimpin Tim AS dan gantian menggilas Tim Internasional yang dipimpin Greg Norman dengan skor 19-15. Dua turnamen tersebut juga diadakan pada bulan Desember, mengingat itulah waktu yang tepat, tanpa mengganggu turnamen lain yang digelar di Australia.

Presidents Cup tahun depan dipastikan bakal menyuguhkan semua yang terbaik bagi para penggemar golf di seluruh dunia. Dengan 12 pemain terbaik AS dan 12 pemain terbaik dari seluruh dunia, kecuali Eropa, para penggemar bisa menikmati atmosfer yang luar biasa saat menyaksikan ajang ini. Ajang ini juga dikemas sebagai spot terbaik untuk memberi kesempatan berbagai pihak untuk melakukan sosialisasi, menikmati pertemuan lifestyle dan bisnis. Ketika para pemain merayakan pencapaian terbaik dan jiwa sportivitas mereka, para pengemar bisa menikmati kuliner dari seluruh dunia, termasuk hospitalitas dan area penggemar untuk menyaksikan ajang ini, sambil menikmati budaya terbaik Australia.

Ajang beregu ini merupakan ajang yang unik di mana seluruh pesertanya tidak akan menerima hadiah uang. Mereka yang tampil juga sama sekali tidak dibayar untuk turun bermain. Malahan tiap peserta menggelontorkan sejumlah uang dengan porsi yang sama untuk kegiatan amal sesuai dengan pilihan mereka. Sejak ajang ini digelar, lebih dari US$49,1 juta telah dikumpulkan untuk kegiatan amal, termasuk kontribusi yang dilakukan atas nama Presidents Cup, termasuk rekor sumbangan amal terbesar senilai US$10,7 juta hanya dari ajang pada tahun 2017 saja.

Dengan demikian, Presidents Cup memiliki arti yang luar biasa penting. Tak hanya bagi para peserta yang turun bersaing mempertaruhkan martabat, atau bagi penggemar yang bakal menyaksikan sejarah baru di Melbourne, tapi juga bagi kegiatan kemanusiaan.

Leave a comment