Li Haotong yakin dirinya akan tampil maksimal dan memberi kontribusi penting bagi Tim Internasional ketika Presidents Cup mulai dipertandingkan pekan ini.

Anggota Tim Internasional Li Haotong berniat untuk menampilkan kekuatan golf China yang kian berkembang di panggung dunia. Untuk itu ia bakal berusaha memberikan kemenangan menghadapi Tim Amerika Serikat yang dipimpin oleh Tiger Woods ketika Presidents Cup dimulai di Royal Melbourne Golf Club pekan ini.

Pegolf berusia 24 tahun ini segera menjadi pegolf China pertama yang tampil dalam kompetisi dua tahunan ini. Jelas ia tak ingin pencapaian itu terhenti sampai sekadar tampil, tapi juga ingin memberi dampak yang lebih besar lagi, sekaligus melambungkan popularitas golf di negaranya.

Li, yang telah menjuarai dua gelar European Tour, berhasil menjadi bagian dari tim secara otomatis setelah menjadi salah satu dari delapan pegolf teratas di klasemen Tim Internasional. Ia berniat untuk memberi debut yang berkesan dengan membantu timnya mengangkat trofi Presidents Cup. Sejak 1994, Tim Internasional hanya meraih satu kemenangan, yaitu pada 1998, yang kala itu juga dimainkan di Royal Melbourne.

“Tiap orang di tim ini mesti bermain sebaik mungkin. Hanya dengan begitulah kami berpeluang untuk menang. Bisa berada dalam tim ini jelas sangat berarti bagi saya,” ujar Li. “Pada edisi sebelumnya, saya nyaris menjadi bagian dari tim. Saya rasa saya sudah berjuang keras untuk bisa masuk tim. Dan kini saya ingin berada di sana dan menunjukkan permainan saya ke seluruh dunia.”

Karier Li mulai melejit usai menjuarai Order of Merit PGA TOUR Series-China ketika Tour ini pertama kali digelar pada 2014. Kala itu ia menjuarai tiga turnamen dan ia pun menjelma menjadi bintang internasional. Satu gelar European Tour ia raih pada ajang Omega Dubai Desert Classic dengan mengalahkan Juara FedExCup Rory McIlroy dengan birdie di hole terakhir setelah saling duel pada putaran final.

Pada awal tahun ini, Li kembali menampilkan kualitas permainannya dengan menembus babak knock-out World Golf Championships-Dell Technologies Match Play usai mengalahkan bintang Ryder Cup Alex Noren dan No.1 Dunia Brooks Koepka di babak penyisihan grup. Ketika mewakili Asia pada EurAsia Cup 2018 di Malaysia, ia mengemas rekor tak terkalahkan dengan catatan 2-0-1. Dan kini ia sadar bahwa ia akan menjadi salah satu pemain yang permainannya dinantikan di Australia.

“Tiap orang di tim ini mesti bermain sebaik mungkin. Hanya dengan begitulah kami berpeluang untuk menang. Bisa berada dalam tim ini jelas sangat berarti bagi saya.”

“Sebagai pegolf China, tanggung jawab dan kewajiban kami ialah mempromosikan golf China ke seluruh dunia dan saya bangga bisa menjadi salah satu yang melakukannya. Saya pikir kami harus berusaha keras dengan menampilkan performa yang lebih baik untuk menampilkan permainan golf masyarakat China,” ujarnya.

Li sendiri telah menjalin persahabatan dengan Sang Kapten ketika keduanya bermain dalam putaran final The Open 2017. Kala itu Li membukukan skor 63 dan finis sendirian di peringkat 3. Itulah hasil terbaik yang pernah ia bukukan pada ajang Major.

“Ernie adalah sosok yang sangat istimewa bagi saya. Dia punya banyak pengalaman dan saya bisa belajar banyak hal hebat darinya. Bangga rasanya bisa menjadi bagian dari timnya,” ujar Li. “Semoga saya bisa menyumbangkan poin, terutama ketika menghadapi Tiger dan para pegolf terbaik di dunia. Saya sangat bersemangat untuk bisa berada di Melbourne. Sebenarnya, tim kami tak sekuat Tim AS. Jadi, kami ingin menampilkan permainan terbaik dan berharap bisa mengalahkan mereka.”

Dengan pegolf China Taipei C.T. Pan yang juga akan melakoni debutnya untuk Tim INternasional, keduanya kemungkinan akan dipasangkan oleh Els, entah pada sesi fourball, entah pada sesi foursome. Li sendiri memang menantikan kembali ke Melbourne di mana ia sempat mendapat dukungan dari penggemar tuan rumah saat China finis T2 pada ajang ISPS HANDA World Cup of Golf 2016.

“Saya banyak mengobrol dengan C.T. saat mengikuti berbagai turnamen. Pasti akan sangat bagus (jika bermain bersama),” ujarnya. “Saya sudah pernah main di Melbourne beberapa kali dan ingin bisa kembali ke sana. Pasti akan luar biasa dan para penggemar pasti akan mendukung kami.”

Li juga berharap negaranya mendapat kesempatan untuk menjadi tuan rumah Presidents Cup. Sejak pertama kali digelar pada 1994, Korea Selatan menjadi satu-satunya negara Asia yang menjadi tuan rumah bagi ajang beregu yang prestisius ini, yaitu pada 2015.

“Menurut saya, ajang seperti ini akan membantu lebih mempromosikan golf di China. Saya berharap suatu hari nanti China bisa menjadi tuan rumah Presidents Cup. Pasti akan berdampak positif!” tandasnya.