Selama dua dekade terakhir, K.J. Choi telah membuka jalan bagi golf di Korea dengan perjalanannya yang luar biasa dari Pulau Wando di Korea, tempat ia dibesarkan dalam keluarga petani, hingga sampai di Mekkah-nya golf, PGA TOUR.

Choi Kyung-ju, yang lebih dikenal sebagai K.J. Choi, memulai transisinya dari karier PGA TOUR yang mengagumkan ke kancah PGA TOUR Champions. Menjelang peralihan tersebut ia mengenang kembali keberhasilan dan kontribusinya bagi golf dalam karier yang telah memberinya delapan kemenangan, 68 kali finis di sepuluh besar, dan lebih dari US$32 juta hadiah uang yang ia menangkan.

Lebih dari 470 turnamen PGA TOUR, 8 kemenangan termasuk THE PLAYERS Championship 2011, serta finis di sepuluh besar hingga hampir 70 kali. Apa yang terlintas dalam benak Anda ketika melihat perjalanan karier tersebut? Ketika saya tiba untuk pertama kalinya di Amerika Serikat, banyak yang berkata, ”Dia akan pulang setelah setahun, dia takkan bisa bertahan lama, dia takkan bisa bersaing dengan para pemain di sana karena dia lebih lemah, dan dia tak pernah lebih berbakat daripada pemain lainnya.” Ketika melihat masa-masa tersebut, tiap hari saya selalu berusaha sebaik mungkin. Jika pemain lain berlatih selama dua jam, saya berlatih tiga jam. Saya selalu berusaha berlatih lebih banyak daripada yang lain dan terobsesi untuk melampaui pemikiran orang terhadap saya. Dan jam-jam kerja keras tersebut dan dengan bantuan Tuhan, saya bisa bermain di level PGA TOUR selama 21 tahun. Jika melihat karier saya sejauh ini, ada beberapa catatan yang bisa dikenang dan saya merasa tersanjung dan bangga bisa menjadi salah satu pemain Korea yang bermain pada PGA TOUR.

Adakah gelar yang menonjol di antara semua kemenangan tersebut? Mungkin yang paling berkesan adalah kemenangan pertama (Compaq Classic of New Orleans 2002). Saya dan istri sudah lama menonton PGA TOUR lewat televisi, melihat para pemain merayakan kemenangan dengan keluarga mereka dan kami membayangkan bagaimana kelak saya bisa menang suatu hari. Saya berkata kepada istri saya, kalau saya menang, mungkin saya tidak memberinya ciuman, tapi saya berjanji akan memeluknya. Dan ketika hal ini terwujud, kami berpelukan di green hole 18 itu. Kami mesti mewujudkannya. Mungkin ada masa-masa sulit untuk meraih kemenangan kedua dan ketiga, dan seterusnya hingga kemenangan ke-8, dan semua kemenangan itu jelas berkesan. Namun, yang paling berkesan tentulah kemenangan pertama.

Anda menjadi pegolf Korea pertama yang bermain pada PGA TOUR dan meraih kemenangan di Amerika. Seberapa istimewa prestasi ini? Ketika pertama kali datang ke AS, saya ragu apakah saya bisa menang. Saya juga mempertanyakan, bisakan seorang pemain Korea menang di level PGA TOUR. Sejujurnya, hampir seluruh pemikiran saya bermuatan negative, tapi saya mendorong dan berlatih keras mencapai target saya. Ketika momen itu datang, keberhasilan itu memperkuat status para pegolf Korea sebagai pegolf top. Saya merasa sangat tersanjung.

 

Keberadaannya di arena PGA TOUR membawa K.J. Choi bertemu langsung dengan beberapa legenda golf, termasuk Jack Nicklaus. Foto: Getty Images.

 

Kemenangan terakhir Anda adalah THE PLAYERS Championship 2011. Apa yang paling Anda ingat dari kemenangan pada ajang prestisius PGA TOUR tersebut? Tahun 2000, ketika pertama kali ke Jacksonville dan berlatih di TPC Sawgrass, saya selalu melihat bendera-bendera para pemenang selalu dikibarkan tiap tahun. Saya berangan-angan kapan bisa melihat bendera Korea berkibar. Tahun 2011, ketika memulai putaran pertama THE PLAYERS, saya hanya ingin lolos cut karena bermain di TPC Sawgrass selalu terasa tak mudah buat saya. Anda harus membentuk pukulan di sana, sesuatu yang sulit bagi saya. Saya juga tak pernah mendapat 10 besar di sana. Ketika saya akhirnya lolos cut, saya selalu finis di peringkat 50-an atau 40-an di papan klasemen.

Ketika bertanding pada THE PLAYERS 2011, saya menenangkan pikiran dan hanya menargetkan untuk lolos cut, dan ketika kami lolos ke akhir pekan, kami menargetkan sepuluh besar. Putaran ketiga dihentikan dan kami mesti bermain 27 hole pada hari Minggu, jelas tidak mudah. Setelah menuntaskan putaran ketiga, saya menjadi salah satu pemain di peringkat kedua. Yang menarik, sebelum ajang tersebut, kedi saya, Andy (Prodger) berkata, ”Saya pikir Anda takkan bisa pulang ke Korea hari Minggu nanti. Entah kenapa, saya merasa begitu.” Kalau mengingat hal itu sekarang, saya pikir Andy hendak mengatakan, ”Mungkin inilah saatnya bagi KJ untuk memenangkan ajang ini,” meskipun saya tak pernah masuk sepuluh besar pada THE PLAYERS.

Pada putaran final, di hole 16, bola David Toms masuk air dan Andy berkata, ”Kita tidak tahu bagaimana akhir ceritanya, jadi ayo lakukan pukulan terbaik.” Lalu pada saat play-off, saya akhirnya bisa menjuarai THE PLAYERS. Dari semua kemenangan yang saya raih, seruan saya paling keras terjadi di sini. Saya benar-benar bersemangat. Saya pikir semua pemain di seluruh dunia berhasrat bisa menjuarai THE PLAYERS. Jadi, maknanya berlipat ganda dan saya juga menjadi pegolf Asia dan Korea pertama yang memenangkannya. Saya sangat bangga dan bersemangat bisa memenangkannya dan membagikan momen ini dengan banyak penggemar.

Dalam karier olahraga yang berjalan sepanjang periode waktu yang begitu lama, tentulah ada pasang-surutnya. Adakah sesuatu yang Anda sesali? Saya pikir, secara keseluruhan, saya memiliki karier yang cukup bagus. Namun, empat tahun yang lalu kesehatan saya tidak begitu bagus. Ada masalah dengan otot-otot saya sehingga mempengaruhi permainan. Harapan para penggemar Korea juga menjadi lebih tinggi dan kesehatan serta permainan saya tidak bisa memenuhi harapan mereka. Dan pada saat itulah saya mulai berpikir bahwa para pemain perlu berhati-hati dengan cedera dan harus menjaga diri mereka. Saya tidak memiliki penyesalan apa-apa dalam karier golf saya. Olahraga ini masih menyenangkan buat saya. Saat memegang iron atau driver, saya ingin memukul bola ke pin. Saya menjalani kehidupan yang menantang dan, mungkin karena saya memiliki pengalaman ini sejak masih muda, hasrat saya masih membara, persis seperti seorang anak yang gembira berada di arena bermain. Saya berusaha untuk memperlambat ritmenya sedikit dan beralih ke PGA TOUR Champions.

”Saya tidak mengira bisa bermain pada PGA TOUR selama 21 tahun dan mencapai berbagai hal besar itu. Semua ini merupakan anugerah Tuhan.”

Anda bertemu begitu banyak pemain legendaris. Ceritakanlah hubungan Anda dengan Jack Nicklaus, yang bukunya, Golf My Way Anda gunakan untuk belajar golf! Mungkin Anda juga tahu ketika pertama kali bermain pada PGA TOUR tahun 1999, saya hanya melihat Jack dari buku. Dan ketika pertama kali bertemu dengannya, dia begitu menyambut, seperti seorang ayah yang menyambut putranya. Seingat saya, Jack dan saya memainkan satu putaran bersama pada tahun 2002, dan ada banyak penonton di seluruh lapangan! Itulah pertama kalinya saya mengalami jumlah penonton sebanyak itu dalam sebuah ajang golf reguler. Saya gugup (dan finis T32) dan kehangatan yang Jack berikan layaknya seorang ayah, membuat saya bangga.

Ketika pertama kali bermain pada PGA TOUR waktu itu, Anda menjadi pegolf Korea pertama. Sekarang ada begitu banyak pegolf muda Korea dan kebanyakan hal ini tak terlepas dari keberhasilan Anda. Adakah rasa bangga dan semangat terhadap masa depan golf Korea, khususnya golf pria? Benar. Ketika pertama kali bermain, tidak ada yang mengikuti atau bahkan bermimpi berada di sini. Saya pikir sekitar 10 atau 13 tahun lalu ketika para pemain Korea mulai muncul ke PGA TOUR. Ketika bertemu mereka di ruang makan atau loker, saya benar-benar bangga. Ada banyak hal yang bisa mereka tunjukkan pada masa depan dan ketika melihat mereka tampil bagus, saya jadi ingat pertama kalinya saya bermain di sini. Saya bangga bisa melihat mereka sukses. Dan masyarakat sekarang sudah begitu maju dalam hal teknologi, makanan, pelatihan, dan sains, semuanya telah berubah sejak pertama kali saya memulai golf. Saya merasa agak cemburu dengan apa yang mereka miliki saat ini, tapi juga merasa sangat gembira dan bangga bisa melihat mereka.

Anda besar di Pulau Wando, di mana orangtua Anda adalah petani. Pernahkah Anda membayangkan kehidupan Anda berubah seperti sekarang ini? Sudah takdir saya menjadi pegolf setelah berhenti dari angkat berat saat masih SMA. Sebenarnya, saya berusaha untuk kembali ke tim angkat berat. Namun, pada saat itu tim golf sedang dibentuk, dan ada perekrutan untuk golf. Proses seleksinya juga sederhana. Mereka memilih anggota dari tim angkat berat, termasuk saya. Total ada 10 pelamar, dengan pelatih kepala membariskan semua calon, dan kami diminta berdiri di sisi kanan untuk tim angkat berat dan di sisi kiri untuk tim golf. Saya ada di sisi kiri sehingga saya menjadi anggota tim golf. Saya masih penasaran, kenapa sang pelatih menyuruh saya ke sisi kiri. Awalnya, saya memberi tahu pelatih kalau saya tidak tahu apa-apa soal golf, dan saya mestinya ada di tim angkat berat. Dia berkeras agar saya berada di tim golf, jadi begitulah kenapa saya menjadi pegolf profesional sekarang.

Perasaan dan emosi saat pertama kali menggenggam club dan memukul bola, saya masih bisa merasakannya seperti nyala sebuah lilin. Meskipun golf adalah olahraga yang sepenuhnya berbeda dari angkat berat, beberapa perasaan saat pertama kali bertemu dengan golf tidak bisa saya ungkapkan. Saya mempertahankan perasaan dan hasrat tersebut dalam benak saya. Tidak mudah menjadi seorang pegolf dari keluarga petani. Dalam lingkungan yang demikian, saya beruntung bisa menjadi pegolf profesional, bukan petani, dan bermain pada PGA TOUR. Saya tidak mengira bisa bermain pada PGA TOUR selama 21 tahun dan mencapai berbagai hal besar itu. Semua ini merupakan anugerah Tuhan. Saya tak pernah membayangkan semua ini terjadi. Ini mukjizat.

 

THE PLAYERS Championship menjadi gelar PGA TOUR terakhir yang K.J. Choi menangkan. Foto: Getty Images.

 

Anda menerima Charlie Bartlett Award 2013 untuk kontribusi kepada masyarakat yang berkekurangan melalui K.J. Choi Foundation. Ingatkah Anda ketika pertama kali berpikir untuk membantu masyarakat? Perjalanan dari kampung halaman saya ke sini bukanlah perjalanan yang mudah, termasuk bermain sebagai pegolf profesional. Saya tidak mencapai semua ini sendirian. Orangtua saya tidak bisa membiayai saya untuk mendapatkan club golf, latihan, membayar biaya untuk belajar golf, dan green fee. Saya tak bisa mengharapkan dukungan dari mereka. Namun, banyak orang di kampung halaman yang membantu saya. Mereka memberi club bekas dan bola dan kadang memberi uang untuk latihan. Saya juga melakukan kerja paruh waktu di driving range dan mencuci mobil untuk menabung uang demi latihan. Oleh karena semua itulah saya kemudian berpikir untuk membantu yang lainnya, persis seperti ketika saya banyak mendapatdukungan finansial dan mental dari begitu banyak orang.

Sekarang saya mendukung sekitar 40-60 murid dan pegolf muda dan berbakat melalui beasiswa dan mengadakan ajang amal untuk mereka. Saya juga mendukung berbagai upaya meringankan beban bencana ketika badai, banjir, gempa, dan kecelakaan terjadi, dan mungkin itulah sebabnya saya menerima Charlie Bartlett Award. Saya sudah mendedikasikan diri saya untuk membantu anak-anak dan berusaha memberikan pengetahuan dan kemampuan saya tentang golf dan kehidupan kepada mereka. Saya menikmati sisi pekerjaan yayasan say aini. Saya merasa bangga dengan kegiatan-kegiatan amal ini dan sangat gembira ketika mendapat kabar bagus tentang anak-anak itu. Nikmatnya sulit dinilai.

Presidents Cup digelar di Korea tahun 2015 dan PGA TOUR meluncurkan THE CJ CUP @ NINE BRIDGES tahun 2017. Seberapa istimewa bisa menjadi bagian dari pertumbuhan golf di negeri Anda? Ya, jelas merasa bangga. THE CJ CUP akan menjadi jadwal PGA TOUR selama sepuluh tahun, memberi kesempatan kepada para pemain muda Korea dan memberi ekspos golf kelas atas kepada mereka. Secara pribadi saya menghargai kerja keras dan komitmen CJ Group. Begitu juga komite Presidents Cup, saya bersyukur mereka memilih Korea sebagai negara penyelenggara tahun 2015, ajang itu berjalan dengan sukses dan menciptakan kejutan bagi selurh masyarakat dan negara Asia. Dengan ajang ini, para pemain muda Korea mulai memiliki impian yang lebih besar dan motivasi untuk menjadi pegolf PGA TOUR.

Seperti apa harapan Anda ketika orang mengingat akan warisan Anda terhadap olahraga ini? Ada beberapa hal yang dibicarakan orang ketika memikirkan K.J. Choi, misalnya K.J. mengganti grip dan meraih sukses, selalu mengenakan visor, dan seterusnya. Dari semua itu, frase yang paling saya sukai ialah ”K.J. Choi, yang berlatih sangat keras.” Saya suka mendengarnya karena orang mengetahui bahwa saya berlatih keras sepanjang hidup saya. Saya pikir itulah warisan saya.