Tyrrell Hatton memegang kendali pada ajang THE CJ CUP @ SHADOW CREEK setelah mencatatkan skor terbaik pada hari pertama.

Meski harus merasakan penatnya penerbangan dari Wentworth menuju Vegas, Tyrrell Hatton yang menikmati momentum kemenangannya pada hari Minggu lalu melanjutkan performa gemilangnya ketika mulai bertanding pada THE CJ CUP @ SHADOW CREEK. Pegolf asal Inggris ini memimpin klasemen sementara usai membukukan skor 7-under 65.

Sehari setelah genap berusia 29 tahun, Hatton membukukan skor pembuka terendahnya selama bermain pada PGA TOUR. Ia mencatatkan skor 30 di sembilan hole pertamanya, yang ia mulai dari hole 10, di antaranya berkat eagle di hole 12. Di sana ia memasukkan bolanya dari fairway. Skor 65 ini sekaligus menempatkan Hatton sebagai pimpinan klasemen untuk pertama kalinya dalam sebuah putaran pertama ajang PGA TOUR.

Hari Minggu (11/10) yang lalu, Hatton baru saja meraih gelar European Tour kelimanya dengan memenangkan BMW PGA Championship. Meskipun masih mengalami penat akibat penerbangan, ia masih sanggup menampilkan permainan cemerlang ini untuk membuka peluang menjuarai gelar PGA TOUR kedua. Sejauh ini, kiprah terbaik Hatton terjadi pada musim 2019-2020 ketika ia finis di peringkat 7 pada klasemen akhir FedExCup. Sementara dalam dua gelaran THE CJ CUP di Korea, ia finis T6 pada tahun 2019 dan T14 pada edisi 2018.

”Hampir serasa mimpi,” ujar Hatton, pemenang Arnold Palmer Invitational presented by Mastercard bulan Maret lalu. ”Saya pikir kami main 5-under dalam lima hole, dapat eagle di hole ketiga, yaitu hole 12, tapi eagle itu bonus dari jarak 87 yard. Senang bisa mendapat momentum lebih awal. Saya membayangkan akan lebih sulit bermain dalam kondisi lelah karena saya tak cukup mendapatkan momentumnya. Bisa main serendah itu hari ini membuat saya sangat senang. Saya hanya perlu kembali ke hotel dan beristirahat petang ini, istirahat cukp dan semoga tidur lebih nyenyak daripada sebelumnya.”

Sementara itu, Xander Schauffele juga terlihat bermain dengan nyaman di lapangan karya Tom Fazio ini. Pasalnya, lapangan basisnya di San Diego, Grand Golf Club, juga merupakan karya Fazio. Pada putaran pertama itu, ia membukukan tujuh birdie dengan satu bogey. ”Ada rasa nyaman yang saya peroleh pada sejumlah pukulan tee dan juga di atas green. Green di sini lebih sulit daripada yang dibayangkan orang-orang. Butuh beberapa waktu untuk bisa membayangkannya di rumah dan berharap hal itu bisa membantu saya di sini,” tuturnya.

 

 

Setelah finis T2 pada klasemen akhir FedExCup dan peringkat 5 pada U.S. Open bulan lalu, pegolf berusia 26 tahun ini mengambil jeda untuk menyiapkan dirinya. Hasilnya langsung terlihat dari permainannya pada putaran pertama. ”Saya mengambil jeda sekitar 10 hari, tiga mingguan, jadi baru mulai berlatih kemudian. (Untungnya) saya tak merasa permainan saya hilang. Memang ada sejumlah kesalahan mental pada beberapa chip dan beberapa momen di sini, tapi jelas saya senang bisa main 6-under,” tandasnya.

Dengan skor 6-under 66, Schauffele kini berbagi tempat kedua dengan Russel Henley.

Adapun Jon Rahm, yang pada musim lalu menjuarai dua gelar PGA TOUR, membukukan tujuh birdie dengan dua bogey dalam debutnya pada turnamen ini. Satu-satunya tantangan yang ia hadapi ialah tak mendapat sarung tangan dengan ukuran yang tepat. ”Saya main solid, benar-benar main bagus, dari tee pukulan saya juga meyakinkan. Saya pikir, saya cukup puas dengan hole 18, 1, dan 2. Saya memiliki peluang di sana,” ujar pemukul jauh asal Spanyol, yang juga merupakan pegolf No.2 Dunia ini. ”(Sayangnya) saya main dengan sarung tangan yang ukurannya salah. Tapi hal seperti ini bisa terjadi. Dan sarung yang saya lepas juga sedikit terlalu kering sehingga saya kehilangan cengkeraman. Saya baru bisa mendapat ukuran yang pas ketika memasuki sembilan hole terakhir.”

Rahm tidak sendirian di peringkat keempat. Tyler Duncan juga mencatatkan skor 67 setelah membukukan 5 birdie, sebuah eagle, dan dua bogey.

Kim Siwoo memimpin kontingen Korea dan Asia dengan mencatatkan skor 69. Ia sebenarnya berpeluang menuntaskan putaran pertama dengan skor 68, namun di hole terakhirnya, yaitu hole 9, ia harus mendapat bogey. Pukulan approach-nya masuk ke green dan ia membutuhkan tiga pukulan lagi untuk memasukkan bola. ”Secara keseluruhan saya main bagus sih. Sayang di hole terakhir saya mendapat bogey, padahal harusnya bisa dihindari, tapi saya pikir kalau bisa mempertahankan permainan, saya pikir saya bisa mendapat hasil yang bagus,” tuturnya.