Meski memakan satu dekade pembangunannya, kini Lake Victoria Serena Golf Resort & Spa menjadi lapangan golf berstandar internasional pertama di Uganda.

Bulan Oktober 2018 lalu, Lake Victoria Serena Golf Resort & Spa menggelar turnamen perdana Serena Johnnie Walker Open. Itulah turnamen pertama yang sekaligus menjadi perayaan peresmian fasilitas 18 hole pertama yang berstandar internasional di Uganda. Dalam tiga putaran yang dimainkan di atas lapangan 72 hole sepanjang 7.262 yard tersebut, pegolf profesional Uganda, Phillip Kasozi, meraih skor 222.      

Kemenangan Kasozi (dan 200 anggota pro-am yang berpartisipasi pada hari berikutnya) melengkapi proses pengembangan yang memakan waktu 10 tahun. Perjalanan yang sangat lambat ini pada akhirnya menghasilkan lapangan terbaik di daerah wisata yang paling beragam di wilayah Afrika Timur.

”Pengerjaan sembilan hole pertama di Lake Victoria butuh waktu 7 tahun sejak awal hingga tuntas; sembilan hole terakhirnya hanya butuh 2 tahun,” ujar Ramsey, sang arsitek, yang bermitra dengan Golfplan, perusahaan desain lapangan yang bermarkas di Santa Rosa, California. ”Di pasar golf baru seperti ini, waktu pengerjaan yang fleksibel adalah satu-satunya cara yang harus ditempuh. Sama sekali tidak ada manfaatnya memaksakan pengerjaan sebuah proyek dengan jadwal yang tidak jelas. Jauh lebih baik memastikan segalanya dengan tepat.”

Kasozi jelas sangat terkesan. Ia menyebut desain lapangan ini ”brilian”, sambil menambahkan bahwa 18 hole di Lake Victoria Serena ini akan memajukan olahraga golf di Uganda. ”Mewakili kalangan profesional, saya berterima kasih kepada semua pihak yang memungkinkan lapangan ini bisa terwujud,” ujarnya.

Pemandangan Lake Victoria Serena Golf Resort & Spa dari udara. Foto: Lake Victoria Serena Golf Resort & Spa.

Menurut Ramsey, yang hadir pada perayaan peresmian lapangan ini, salah satu yang berhak mendapat pujian di sana ialah pengembang resor, Katrick Halai, CEO Cementers, perusahaan kontraktor yang bermarkas di Kenya. Sang arsitek juga menunjuk manajer proyek Theodor van Rooyan dan seniman shaper Fase II, Joe Smith.

Tapi jelaslah Ramsey sendiri layak menerima kredit tersebut. Sebab desainnyalah yang kemudian diikuti dan kemudian dikembangkan oleh Van Rooyan dan Smith, untuk kemudian mewujudkan lapangan pertama di Uganda yang berstandar internasional.

Sejak dibentuk pada 1972, Golfplan telah menghadirkan fasilitas-fasilitas golf yang layak kepada pasar-pasar baru ketimbang perusahaan arsitektur lapangan lainnya. Mereka bahkan telah menciptakan lebih dari 217 desain asli di 32 negara berbeda. Angka itu bahkan bertambah menjadi 85 negara jika renovasi dan masterplan juga dipertimbangkan! Pada musim gugur 2018 lalu, selain Lake Victoria Serena, Ramsey juga telah meresmikan lapangan berstandar internasional di negara bekas pecahan Uni Soviet, Georgia, yaitu Tabori Hills GC, dan sembilan hole terakhir di Samsun GC, lapangan golf Turki pertama di pesisir Laut Hitam.

Sekitar separuh perjalanaan mengelilingi dunia jauhnya, rekan Ramsey di Golfplan, David Dale, juga menyaksikan para pegolf top dunia bersaing di lapangan karyanya, The Club at Nine Bridges, di mana Brooks Koepka akhirnya berhasil menjuarai THE CJ CUP @ NINE BRIDGES dengan skor total 21-under.

”Pengembangan baru di Korea dan Uganda mungkin terpisah oleh jarak, baik secara geografi maupun secara logistik. Tapi kesamaan di sini ialah melakukan segalanya secara tepat–tak peduli selama apa waktu yang dibutuhkan,” ujar Ramsey.

Pemandangan fairway di hole 1. Foto: Lake Victoria Serena Golf Resort & Spa.

”Dalam pasar yang matang, seperti di Korea, di mana kami memiliki dua lusin desain asli, tak ada satu lapangan pun yang membutuhkan waktu pengerjaan hingga 10 tahun. Yang terjadi di Uganda justru sebaliknya. Pada dasarnya kami menciptakan pengembangan standar dari nol. Dan pembangunan itu pun takkan pernah terwujud kalau bukan karena komitmen dan hasrat dari pengembang kami, Mr. Halai, yang menjamin pemotongan tiap sudut. Komitmen dan kualitasnya tak pernah pudar. Kami membawa semua material terbaik, irigasi Toro, dan menyempurnakan rumput untuk iklim dan daerah di sini, Sea Spray Paspalum, yang, seperti semuanya, termasuk bentgrass untuk putting green, mesti diimpor.

”Sebagai hasilnya, kami memiliki lapangan golf paling menarik dalam sebuah seting—dengan kondisi lapangan yang menyerupai lapangan mana pun di Afrika. Dan saya menyertakan Afrika Selatan dalam penilaian itu.”

Secara alami, lingkungan di Serena didominasi oleh Danau Victoria, yang hadir di seluruh 18 hole, tapi secara khusus di hole pertama dan hole terakhir. Desain Ramsay memanfaatkan laguna buatan dalam porsi besar, yang memisahkan hole 1 dan 9 dari hole 17 dan 18—yang kemudian mengakomodasi  marina baru di properti ini.

”Saya tak yakin kalau hal ini pernah dilakukan sebelumnya,” ujar sang arsitek. ”Hole-hole itu menjadi hole-hole dengan rintangan air yang indah, terutama hole 1. Begitu mencapai fairway, seluruh Danau Victoria terbentang di hadapan Anda. Hole 18 merupakan par 4 yang juga sangat indah, sebuah hole penutup yang seksi yang dimainkan ke green pulau. Tapi bakal jadi sesuatu yang cukup spesial jika bisa memiliki penonton yang menyaksikan perahu yang bolak-balik di marina ini seiring dengan dimulai dan berakhirnya sebuah putaran.

Pemandangan hole 17 dan 18. Foto: Lake Victoria Serena Golf Resort & Spa.

”Ini area permukaan yang cukup datar dengan air yang membatasinya, tapi itulah beberapa hole pinggir danau terindah yang pernah perusahaan kami ciptakan. Saya amat puas dengan area berumput kami yang secara estetis melengkapi buluh-buluh papirus yang kami pertahankan di pinggir danau. Pada saat yang sama, sejumlah hole di Serena dimainkan ke permukaan berumput alami dengan pepohonan akasia, yang mengingatkan saya pada pohon-pohon mesquite dari Amerika Barat. Ini lingkungan yang khas, dan pemandangan yang jauh – di sepanjang lapangan hingga melampaui Danau Victoria—yang bahkan lebih memukau.”

Waktu pengembangan yang panjang di Lake Victoria Serena Golf resort & Spa ternyata berdampak positif secara strategis. Berlokasi di selatan ibu kota Kampala, properti Serena ini kini menjadi sangat nyaman bagi sekian juta penduduk berkat jalan raya Kampala-Entebbe yang sepenuhnya selesai dibangun. Kampala sendiri telah menjadi pintu gerbang menuju industri wisata safari di Uganda.

”Uganda membutuhkan atraksi wisata yang beragam dan resor ini jelas ikut memenuhi kebutuhan tersebut,” ujar Ramsey, yang menambahkan bahwa 18 hole yang ia kerjakan di Serena tak ubahnya merupakan wisaya alam liar yang eksotik.

”Ada lusinan spesies burung eksotis di lapangan, burung bangau uganda menjadi yang paling spektakuler. Burung ini merupakan burung nasional, tapi yang paling besar ialah burung yang tampaknya paling buruk, Marabou Stork, yang terlihat seperti pterodaktil! Ada beberapa kadal juga. Sebelumnya ada ular piton yang tinggal di buluh papirus di sepanjang hole 9 – tapi jelas saya tidak mencarinya.”

Leave a comment