Anirban Lahiri berniat untuk kembali melambungkan kariernya bermain di level PGA TOUR pada awal 2020 ini.

Juara Indonesian Masters 2014 Anirban Lahiri segera melakoni debutnya pada tahun 2020 ini dengan berpartisipasi pada ajang Sony Open di Hawaii pekan ini. Pegolf berusia 32 tahun ini pun mengusung target untuk bisa melambungkan kembali kariernya di level PGA TOUR dengan menemukan kembali permainan terbaiknya.

Bintang asal India ini memang masih memegang kartu PGA TOUR untuk musim 2019-2020 ini. Namun, ia harus mengalami 18 bulan yang penuh frustrasi. Ia bahkan kini harus terlempar dari jajaran 400 besar dunia lantaran performanya yang tidak memuaskan dalam periode tersebut.

Namun, dengan datangnya tahun yang baru, ia pun kini memiliki semangat yang baru. Secara signifikan pula ia melakukan perubahan di sektor perangkatnya. Kini Lahiri akan memainkan beragam merek club. Latihan pada jeda kompetisi, plus penampilan yang baru juga tampaknya ikut membangkitkan percaya dirinya untuk kembali ke jalur semestinya.

“Saya ingin lebih konsisten tahun ini. Satu setengah musim yang lalu, saya tak pernah benar-benar bisa bersaing. Jadi, saya melatih aspek scoring saya, berusaha untuk mendapatkan putaran yang bagus, memainkan sejumlah hole dengan baik, dan berusaha untuk kembali kompetitif,” ujar Lahiri dari Honolulu, hari ini (8/1)

Mantan pegolf No.1 Asian Tour Anirban Lahiri telah menyiapkan dirinya untuk bisa mengalami kebangkitan dalam kariernya bermain di level PGA TOUR tahun 2020 ini. Foto: Asian Tour.

“Target utama saya (untuk tahun 2020) ialah kembali ikut bersaing dengan lebih sering dan berusaha untuk terus berjuang karena itulah satu-satunya cara untuk bisa meraih kemenangan.”

Pada akhir musim 2018-2019, Lahiri terlempar dari jajaran 125 besar pada daftar klasemen FedExCup. Ini pertama kalinya ia mengalami hal seperti ini. Mau tak mau ia pun harus bermain pada Korn Ferry Tour Finals untuk berjuang meraih kartu PGA TOUR. Secara mengagumkan, ia berhasil dua kali masuk sepuluh besar. Dan catatan ini sudah cukup baginya untuk kembali ke PGA TOUR.

Meski demikian, statusnya saat ini tidak memungkinkan Lahiri untuk bermain pada turnamen papan atas. Meski demikian, ia menganggapnya sebagai sesuatu yang positif.

“Kesempatan saya akan lebih terbatas ketimbang beberapa tahun terakhir. Dan di satu sisi, saya pikir ini hal yang bagus juga karena saya jadi bisa lebih fokus. Anda tentu ingin mendapat jatah bertanding penuh dan bermain pada turnamen-turnamen besar, tapi rasanya saya justru berada di tempat yang tepat untuk kembali melatih diri sendiri dan saya yakin saya masih bisa bertanding,” tegasnya.

Beragam Merek Jadi Andalan
Sebagai bagian dari persiapannya untuk tahun 2020 ini, Lahiri memilih untuk memainkan club dari beragam merek yang menurutnya paling nyaman untuk ia mainkan. Baginya rasa nyaman itu menjadi penting untuk bisa membantunya meraih gelar PGA TOUR pertama, sekaligus melejitkan posisinya ke jajaran atas. Sebelumnya, peringkat tertingginya ialah No.33 di dunia pada tahun 2015.

“Sekarang saya tidak terikat kontrak, jadi saya bisa memainkan merek apa pun, yang sampai titik tertentu jelas memberi kebebasan.”

“Ada banyak perubahan yang saya lakukan. Saya menyeleksi beberapa hal yang saya inginkan dari golf saya dan bagaimana saya ingin mencapai hal-hal yang ingin saya lakukan. Ada banyak perubahan dari segi perangkat. Sekarang saya tidak terikat kontrak, jadi saya bisa memainkan merek apa pun, yang sampai titik tertentu jelas memberi kebebasan. Saat ini tas saya berisi beragam merek. Ada driver Titleist, 3-wood Callaway, 5-wood Ping, iron Srixon, wedge Vokey, dan putter Odyssey,” papar mantan pegolf No.1 Asian Tour ini.

“Bisa mempercayai apa yang saya mainkan, yang terkadang tak sebagus yang saya inginkan, menjadi satu faktor penting. Saya juga mengubah cara berlatih saya pada jeda kompetisi. Pasti menarik melihat bagaimana kerja keras itu membuahkan hasil. Saya rasa langkah ini sangat produktif dan menjadi langkah maju buat saya.”

Sepanjang 112 turnamen PGA TOUR yang ia mainkan sampai saat ini, Lahiri baru 10 kali masih 10 besar. Salah satunya ketika ia finis di tempat kedua pada ajang The Memorial Tournament 2017. Turnamen terakhir yang ia menangkan adalah Hero Indian Open, dan hal itu terjadi pada 2015.

“Saya lebih suka menganggap berada di pertengahan karier saya. Usia saya baru 32 tahun dan usia 30-35 merupakan puncak performa bagi seorang pegolf sekitar 20 tahun lalu. Tapi sekarang sudah tidak seperti itu dan saya memahaminya. Tapi saya merasa sekuat sebelumnya, rasanya saya bisa bergerak lebih cepat dan menjadi lebih kuat dalam beberapa tahun terakhir. Saya mesti menerjemahkannya agar menjadi lebih kompetitif,” tutur Lahiri lagi.

“Buat saya, percaya diri menjadi kuncinya dan segera setelah bisa mendapatkannya, saya rasa saya bisa kembali memainkan permainan terbaik seperti sekitar empat atau lima tahun lalu. Rasanya saya kini memulai fase kedua. Ini dekade yang baru dan saya siap melangkah.”

Sempat dua kali menjadi anggota Tim Internasional untuk Presidents Cup, Anirban Lahiri menyempatkan diri menyaksikan Presidents Cup bulan Desember 2019 lalu. Foto: Getty Images.

 

Peran Ayah Mengubah Segalanya
Lahiri yang kini menjadi seorang ayah dengan kehadiran Tisya, putrinya dan Ipsa pada akhir tahun lalu, juga memberi perspektif yang baru baginya. Prioritasnya kini sudah berubah drastis.

“Menjadi ayah sungguh sesuatu yang fantastis. Sangat menyenangkan dan memberi saya perspektif yang berbeda. Anda menjalani usia di atas 30 tahun, sementara ketika masih berusia 20-an, pikiran Anda hanyalah golf. Sekarang, fokusnya bukan cuma golf lagi. Sekarang, golf menjadi prioritas kedua. Padahal sebelumnya saya tak pernah mengira demikian, sampai akhirnya menjadi seorang ayah. Peran ini mengubah banyak hal yang mesti saya kerjakan, tentunya dalam hal yang positif,” jelasnya.

Meski sibuk mengasah permainannya pada bulan Desember 2019 lalu, Lahiri masih menyempatkan waktu menyaksikan Presidents Cup di Australia. Lahiri sendiri telah dua kali menjadi bagian Tim Internasional, yaitu pada tahun 2015 dan 2017.

“Sangat menyesakkan melihat Tim Internasional nyaris menang. Saya pikir Ernie (Els) telah melakukan hal yang luar biasa dan seluruh pemain debutan bermain dengan cemerlang. Menjadi bagian dari tim adalah sesuatu yang ingin kami lakukan, tak hanya saya, tapi juga seluruh pemain internasional yang permain menjadi bagian dari tim, bahkan mereka yang belum pernah menjadi anggota karena ajang ini sangatlah penting buat kami.

“Presidents Cup jelas menjadi sesuatu yang ingin saya ikuti lagi dalam beberapa tahun ke depan. Tapi semua itu dimulai dari permainan golf saya. Jadi, saya akan mencurahkan fokus dan energi saya untuk golf dan berharap bisa melihat hasilnya,” tutup Lahiri.