Anirban Lahiri ikut berkontribusi dalam membantu penanganan COVID-19.

Meski tak menyentuh club selama sekitar dua pekan terakhir, Anirban Lahiri tampaknya tak merasa keberatan sama sekali. Dampak pandemi COVID-19 yang mengglobal malah membuatnya tergerak untuk ikut mengulurkan bantuan.

Bersama Ipsa, sang istri, dan Tisya, putri mereka yang kini berusia satu tahun, dan kedua orangtuanya, Lahiri menegaskan ada banyak hal yang lebih penting daripada dunia olahraga, terutama ketika dunia kini menghadapi krisis. Seperti banyak negara di seluruh dunia, India juga kini mengalami lockdown untuk mengatasi persebaran COVID-19. Hal ini mendorong Lahiri untuk terlibat dan ikut membantu mengatasi dampak pandemi bagi mereka yang mengalaminya.

Belum lama ini Lahiri menyumbangkan RS700.000 (sekitar US$10.000) melalui Prime Minister’s Citizen Assistance and Relief in Emergency Situations (PM CARES) Fund. Ia juga menegaskan keinginannya untuk menolong jutaan pekerja dengan upah harian, yang saat ini terpaksa tidak dapat bekerja lantaran lockdown.

Selain itu, Lahiri juga kini membagikan rangkaian video memasaknya, yang ia beri judul “Cooking with the Lahiris” melalui saluran media sosialnya. Hingga saat ini, ia telah mengunggah dua pelajaran memasak, yang berfokus pada masakan India favoritnya. Akun Twitter-nya ialah @anirbangolf dan @banstaa di Instagram.

“Dalam masa-masa sulit yang kita hadapi saat ini, saya mendorong sahabat-sahabat dan saudara-saudara saya untuk ikut melakukan sesuatu guna menopang mereka yang membutuhkan. Saya telah mendonasikan RS700.000 melalui PM CARES Fund dan juga mendukung 100 keluarga melalui inisiatif Zomato Feeding India. Dengan langkah yang besar atau kecil, marilah kita berbagian membantu negara kita. Jai Hind,” cuit Lahiri lewat akun Twitter-nya pada hari Sabtu (4/4) yang lalu.

Hingga Selasa, jumlah kasus COVID-19 di India telah menembus angka 4.0000. Tak heran jika Lahiri tak lagi memikirkan soal golf mengingat fakta ini. Ia merasakan betapa beratnya kehidupan mereka yang mengandalkan upah harian seiring dengan ditutupnya usaha-usaha lokal.

 

 

“Kami memiliki makanan dan tempat tinggal dan keluarga kami pun aman. Apa pun yang bisa kita lakukan untuk meringankan beban orang, membatu masyarakat dan pemerintah, mari melakukannya karena sangat sedikit perusahaan yang bisa beroperasi pada saat ini. Ada banyak organisasi olahraga dan atlet India lainnya yang ikut mendukung untuk menunjukkan solidaritas ini,” ujar Lahiri melalui telepon.

“Ada banyak orang yang terdampak di sini. Para pekerja harian, pekerja migran dari berbagai negara bagian … mereka membutuhkan pemasukan harian untuk mempertahankan kelangsungan hidup mereka dan PM CARES Fund digunakan untuk tujuan ini, yaitu menyediakan makanan. Saya membaca kisah tentang mereka yang harus berjalan lima atau enam hari untuk kembali ke kampung halaman mereka setelah tempat kerja mereka tutup. Ada begitu banyak kasus ekstrem di mana orang tak memiliki tempat tinggal, makanan, atau uang.”

Ketika Lahiri, yang kini berdomisili di Florida, tiba di rumahnya sekitar sebulan yang lalu, kehidupan masih terasa normal. Ia pun bisa menghabiskan sepuluh hari bersama pelatihnya, Vijay Divecha, di Ahmadebad, memperbaiki beberapa aspek dari permainannya yang terasa sudah di luar jalur dalam 18 bulan terakhir.

Namun, kondisi kesehatan di negaranya mendadak memburuk dan memaksa India harus menutup semua pintu mereka. Kondisi beberapa hari terakhir itulah yang membuat Lahiri menyadari keadaannya.

“Bagi kebanyakan kami, golf menjadi hidup kami. Tapi ada hal yang lebih besar lagi di luar itu yang kami rindukan,” ujarnya. “Meluangkan waktu dengan putri dan istri saya, dan dengan kedua orangtua saya jelas sangat menyenangkan.

“Sudah lama saya tak menghabiskan waktu dengan orangtua saya, sejak berusia 17 tahun. Kondisi ini memberi perspektif tentang hal-hal di luar golf. Bahkan saya tak membawa club saya saat ini. Ada bagusnya juga melakukan jeda sesaat dan merenungkan hal-hal yang biasanya kami lakukan.”

“Rasanya rindu juga kembali bermain golf, tapi saya tak terlalu merasa kehilangan juga.”

Dalam masa-masa sulit yang ia alami, Lahiri kembali melakukan yoga. “Saya kembali melakukan yoga, hari ini (Senin) merupakan sesi kelima saya dalam enam hari. Senang juga merasakan dampak latihan ini. Dalam beberapa tahun terakhir ini saya memang tidak begitu disiplin melakukan yoga karena golf sudah menyita begitu banyak waktu saya. Saat sedang main bagus, Anda cenderung memberi waktu lebih banyak untuk mempertahankannya dan ketika sedang main jelek, Anda akan menghabiskan banyak waktu untuk memperbaiki permainan, putting atau ke driving range,” tuturnya.

“Saya beruntung masih fleksibel dan dalam beberapa bulan lagi saya akan berusia 33 tahun. Kalau memberi waktu dan perhatian yang cukup untuk berlatih, tubuh saya akan beradaptasi dan akan membantu saya untuk lebih fokus dan seimbang. Saya akan sedikit lebih mendorong diri saya, dan menurut saya hal ini menjadi tantangan yang sangat baik. Rasanya menyenangkan bisa berkoneksi ulang dengan tubuh saya.”

Ketika PGA TOUR musim 2019-2020 dihentikan pada pertengahan bulan lalu, Lahiri telah lima kali lolos cut dalam 12 turnamen. Finis terbaiknya ialah T44. Finis 10 besar terakhir ia bukukan pada ajang Mayakoba Golf Classic bulan November 2018 silam, yang memaksanya harus mempertahankan kartu PGA TOUR melalui Korn Ferry Tour Finals pada musim lalu lantaran ia hanya berada di peringkat 178 pada klasemen FedExCup.

Jeda akibat COVID-19 ini pun memberinya waktu dan peluang untuk memperbaiki permainannya. “Saya sudah dalam tahap mengukur ulang target-target saya bahkan sebelum jeda ini. Permainan golf saya sedang jelek dan saya harus kembali berfokus untuk berlatih. Meluangkan 10 hari dengan pelatih saya kini memberi pandangan yang positif pada apa yang mesti saya lakukan untuk mencapai target saya,” ujarnya lagi.

“Rasanya rindu juga kembali bermain golf, tapi saya tak terlalu merasa kehilangan juga. Lucu juga sih. Sebagai olahragawan, secara mental kami telah mempersiapkan diri kami untuk segala sesuatu yang terjadi kemudian. Jika saya kehilangan empat turnamen berturut-turut, saya sudah bersiap untuk kondisi tersebut dan memastikan tidak kehilangan keluarga. Jadi, secara mental saya sudah siap. Dengan jeda ini, saya berusaha tetap sibuk dengan memasak, yoga, dan sejumlah latihan beban ringan.

“Kami tinggal di lingkungan perumahan yang cukup luas, jadi saya bisa joging di luar. Dan saya sangat menikmati menjadi bapak yang tinggal di rumah. Saya berusaha tetap berpikir positif dan melihat segala sesuatunya sebaik mungkin. Lingkungan mulai hijau di India, dan ini hal yang positif yang terjadi di negara kami dan banyak hewan yang mulai muncul di lingkungan kami, hewan-hewan yang belum pernah kami lihat sebelumnya.”