Kemenangan Guido Migliozzi di Belgia pada hari Minggu (2/6) lalu melanjutkan keberhasilan transformasi sebuah turnamen yang sempat jeda selama 18 tahun!

Baru memainkan 20 turnamen sejak lulus Qualifying School pada bulan November 2018 lalu, Guido Migliozzi kembali mengangkat trofi. Ini merupakan trofi kedua bagi pegolf Italia ini setelah memenangkan Magical Kenya Open presented by Absa pada bulan Maret 2019 lalu.

Performa Migliozzi ini dipertegas setelah menaklukkan juara Indonesian Masters 2013 asal Austria Bernd Wiesberger pada babak perempat final. Ia kemudian mengalahkan pegolf Skotlandia Ewen Ferguson di semifinal, untuk kemudian melanjutkan permainannya yang memesona dengan kemenangan atas Darius van Driel.

Migliozzi menjadi pemenang edisi kedua, mengikuti keberhasilan pegolf Spanyol Adrian Otaegui ketika menaklukkan Benjamin Hebert dari Perancis.

Belgian Knockout tidak sekadar sebuah turnamen yang menjadi agenda European Tour sejak 2018 lalu. Turnamen ini sendiri merupakan transformasi dari Belgian Open yang memiliki sejarah panjang. Turnamen nasional ini mulai diselenggarakan setiap tahun sejak tahun 1910. Kala itu pegolf asal Perancis Arnaud Massy menjadi pemenang edisi perdana yang dimainkan sebanyak 36 hole atau dua putaran di Royal Golf Club, Belgia. Format kompetisi baru diperluas menjadi 72 hole pada tahun 1928

Meskipun diagendakan sebagai turnamen tahunan bagi para pegolf profesional, toh Belgian Open sempat tidak dapat diselenggarakan. Ada lima periode ketika turnamen ini tidak digelar. Periode pertama ialah pada tahun 1940-1945 ketika Perang Dunia II berkecamuk. Periode jeda yang kedua terjadi pada tahun 1959-1977.

Ketika kembali digelar pada 1978, Belgian Open menjadi salah satu agenda European Tour. Pegolf Australia Noel Ratcliffe berhasil menaklukkan rekan senegaranya, Chris Tickner untuk menjadi juara pada saat itu.

Setelah pada periode 1980-1986 turnamen ini kembali tidak bisa digelar, jeda berikutnya terjadi pada 1995-1997, dengan Nick Faldo memenangkan edisi tahun 1994.

Namun, jeda terpanjang terjadi setelah Lee Westwood menjadi pegolf Inggris terakhir yang menjuarai turnamen ini pada tahun 2000. Dalam 18 tahun berikutnya, turnamen ini tak lagi diselenggarakan.

PietersProduction, perusahaan keluarga yang dijalankan oleh kakak-beradik Pieters~Lieselotte, Pieter-Jan, Thomas~dan Jeremy Anciaux, menjadi tenaga penggerak yang melahirkan kembali Belgian Open dengan nama dan format baru yang lebih menarik. Prakarsa dari ide format turnamen ini ada pada Pieters termuda, yaitu Thomas Pieters, yang merupakan pegolf profesional. Maka pada tahun 2018, Belgian Knockout kembali ke jadwal European Tour dan menjadia salah satu turnamen yang inovatif.

Hampir sama seperti ISPS HANDA World Super 6 Perth, Belgian Knockout dimainkan sebanyak 144 pemain dalam format stroke play dua putaran. Pada hari kedua, cut off dilakukan untuk menentukan 64 pemain terbaik.

Pada hari ketiga, ke-64 pemain ini dibagi menjadi dua grup berisi 32 pemain. Mereka akan berhadapan satu dengan yang lain sebanyak sembilan hole. Inilah babak knockout yang sebenarnya, di mana pemain yang menang akan terus melaju ke putaran berikutnya. Tiap partai sembilan hole ini dimainkan dengan format stroke play. Artinya, pemain dengan skor 9 hole terendah akan menang. Jika seri, keduanya akan memainkan play-off untuk menentukan pemenang yang akan melaju ke putaran berikutnya.

Sebanyak tiga putaran 9 hole akan dimainkan pada hari ketiga ini guna mengurangi jumlah pemain dari semula 64 menjadi hanya 8. Dan ke-8 pemain inilah yang nantinya bakal bertarung lagi pada hari terakhir.

Thomas Pieters menjadi pemprakarsa gelaran Belgian Knockout. Bersama dua kakaknya, Lieselotte dan Pieter-Jan Pieters, serta Jeremy Anciaux yang tergabung dalam PietersProduction, ia membangkitkan kembali Belgian Open dengan nama dan format baru yang lebih atratktif. Foto: Golfin’STYLE.

Tidak seperti partai match play, Belgian Knockout memberi peluang bagi para pemain untuk bertarung hingga hole terakhir. Hal ini kemudian berhasil menciptakan drama yang seru pada tiap partai. Pada babak 16 besar dari edisi 2018 lalu, misalnya, Victor Perez sudah tertinggal dua stroke dari Oliver Fisher dengan tersisa tiga hole. Namun, Perez kemudian mencatatkan eagle yang membuatnya bermain even par. Fisher kemudian malah membuat bogey di hole yang sama sehingga keadaan kembali berbalik menjadi keunggulan bagi Perez, keunggulan yang berhasil ia pertahankan.

Namun, Belgian Knockout ini tidak hanya menjadi milik para pegolf profesional saja. Di level amatir, para pegolf klub pun mendapat ruang kompetisinya sendiri. Belgian Club Knockout menjadi turnamen amatir resmi yang diselenggarakan bersamaan dengan Belgian Knockout. Kompetisi ini ditujukan bagi seluruh klub golf di Belgia. Tujuannya ialah memberi pengalaman menyerupai format yang dicetuskan oleh Thomas Pieters.

Untuk lebih meningkatkan antusiasme para pegolf amatir, para pemenang dari tiap klub yang berpartisipasi bisa ikut berkompetisi bersama para pegolf profesional pada akhir pekan di sembilan hole dari Rinkven International Golf Club, sementara para pegolf profesional bertanding di sembilan hole lainnya. Sebanyak 60 klub mengikuti kompetisi ini dengan tiap klub akan menggelar turnamennya masing-masing.

Selain itu, semua pemain amatir yang menembus hari Minggu akan mendapat pengalaman istimewa, yaitu perlakuan “VIP Tour Pro”. Artinya, mereka akan menikmati Player Lounge seperti halnya para pegolf profesional, termasuk fasilitas latihan resmi.

Hal ini menggambarkan bahwa penyelenggaraan Belgian Knockout telah menjadi sebuah prakarsa baru yang tak hanya meningkatkan antusiasme penggemar golf, tapi juga memberi platform bagi para pegolf klub untuk menikmati pengalaman layaknya para pegolf profesional. Bisa dibayangkan bahwa fokus masyarakat golf dalam sepekan akan lebih berlipat.

Leave a comment