Satu-satunya pegolf Asia Tenggara yang sukses menembus PGA TOUR pada musim ini, Kiradech Aphibarnrat, akan segera memulai upayanya menikmati “impian Amerika” ketika mengikuti ajang Farmers Insurance Open di Torrey Pines Golf Club, San Diego, 24-27 Januari 2019 pekan ini. Ajang PGA TOUR ini menjadi turnamen pertama baginya di Amerika pada tahun 2019 ini.

Sebelumnya, Kiradech telah mengikuti sekitar 30 turnamen di Amerika. Tapi jelas ajang di San Diego ini memberinya kebanggaan yang lebih lagi, lantaran kali ini ia mendapat status keanggotaan penuh.

“Saya sangat bersemangat karena saya akan bermain dalam sebuah turnamen melalui status PGA TOUR saya,” ujar Kiradech. “Saya tidak mendapat hak main karena ranking dunia saya, saya mendapat kartu PGA TOUR ini tahun lalu dan saya tak sabar untuk menjalani tahun pertama saya di PGA TOUR. Rasanya saya berada di dunia yang baru.”

Pegolf bertubuh besar asal Thailand ini menikmati musim yang gemilang pada tahun lalu. Beberapa prestasinya termasuk finis di lima besar pada World Golf Championships-Mexico Championship dan World Golf Championships-Dell Technologies Match Play. Sukses itulah yang ikut membantunya menciptakan sejarah dengan meraih kartu TOUR melalui kategori non-anggota. Ia juga sukses finis T13 pada Memorial Tournament, T15 pada ajang U.S. Open, dan T30 pada THE PLAYERS Championship.

Turnamen pertamanya tahun ini malah terasa lebih istimewa lagi. Ketika masih menjadi pemain amatir, ia pernah finis T3, T12, dan T8 pada ajang Junior World Golf Championship yang digelar di Torrey Pines pada kelompok usia 15-17 tahun dari 2005-2007. Ia juga telah dua kali menjuarai kelompok usia 13-14 pada 2003-2004 ketika bermain di Cottonwood di Rancho San Diego Golf Club.

“Jarak kami hanya lima menit dari kakak-beradik itu. Saya pikir, keputusan meninggalkan rumah (Thailand) tidaklah mudah. Anda mesti mengatasi perbedaan budaya, perbedaan makanan, ….” – Kiradech Aphibarnrat

“Pasti menyenangkan main lagi di Torrey Pines. Ini ibarat saya kembali ke tempat di mana saya memulai karier amatir saya. Bisa kembali dan bermain di sana pasti akan menyenangkan. Bisa finis di posisi yang bagus pada Farmers Insurance Open akan memberi lecutan untuk membangun momentum dan percaya diri bagi saya sepanjang tahun ini,” ujar Kiradech lagi.

Ia mengenang saat-saat ketika bermain di San Diego ketika masih kecil dulu.

“(Waktu itu) saya bersaing menghadapi pemain seperti Tony Finau, Rory McIlroy, dan Jason Day dan saya akan kembali ke sana untuk bermain menghadapi beberapa dari mereka. Saya tak membayangkan hal seperti ini akan terwujud ketika sudah dewasa.”

Bersama sang istri, Tunyatorn, Kiradech telah menemukan rumah di Orlando. Mereka pun bertetangga dengan dua bintang LPGA asal Thailand, Ariya dan Moriya Jutanugarn. Ia sendiri akan berlatih di Lake Nona Golf and Country Club, lapangan yang juga menjadi basis bagi sejumlah bintang PGA TOUR, seperti An Byeonghun dari Korea, Ian Poulter dari Inggris, dan Henrik Stenson dari Swedia.

“Jarak kami hanya lima menit dari kakak-beradik itu. Saya pikir, keputusan meninggalkan rumah (Thailand) tidaklah mudah. Anda mesti mengatasi perbedaan budaya, perbedaan makanan, dan bisa berada di dekat mereka akan memberi dampak yang lebih baik bagi permainan dan keluarga saya. Istri saya akan membantu memasak masakan Thai dan kami akan sering menongkrong dengan kakak-beradik Jutanugarn saat kami semua berada di Orlando,” kata pegolf yang telah mengemas empat gelar European Tour dan juara Order of Merit Asian Tour 2013 ini.

Kiradech Aphibarnrat mencatatkan prestasi terbaiknya finis T3 pada ajang PGA TOUR ketika bermain pada CIMB Classic 2013 di Malaysia. Pada tahun yang sama pula ia menjuarai Order of Merit Asian Tour 2013. Foto: Asian Tour.

Kiradech meraih sejumlah hasil berbeda ketika memulai PGA TOUR musim 2018-2019. Ia finis T4 pada World Golf Championships-HSBC Champions di Shanghai, lalu finis T33 pada CIMB Classic di Malaysia. Untuk sementara, ia berada di peringkat 58 pada perburuan poin FedExCup.

“Jelas bisa memulai dengan baik adalah hal yang sangat bagus. Lagipula tidak bakal banyak tekanan karena saya sudah memiliki sejumlah poin FedExCup. Saya berharap bisa mempertahankan kartu saya untuk musim kedua karena kalau bisa, tentu akan membuat semua sedikit lebih mudah. Ada banyak pemain hebat di PGA TOUR dan saya mesti bermain konsisten, melakukan scramble dengan lebih baik, dan memastikan lebih banyak mendapat birdie untuk bersaing dengan para pemain kelas dunia,” imbuh pegolf yang kini berperingkat 37 dunia ini.

“Target terbesar saya ialah meraih kemenangan pada PGA TOUR tahun ini. Menang auntuk diri sendiri, untuk keluarga, dan juga untuk negara saya. Pasti tidak mudah, tapi saya berlatih keras selama beberapa tahun terakhir dan memberi peluang pada diri sendiri. Saya tidak terlalu jauh dari kemenangan,” imbuh pegolf Thailand yang juga memprioritaskan tempat pada Tim Internasional menghadapi AS pada Presidents Cup di The Royal Melbourne Golf Club, Australia, bulan Desember 2019 mendatang.

Satu-satunya hal yang memberatkannya untuk pindah dan menetap di Amerika ialah bahwa ia harus meninggalkan mobil-mobil supernya di Bangkok. Dalam beberapa tahun terakhir ini, mengemudikan koleksi mobilnya itu menjadi cara rileks dari pegolf Thai ini ketika tidak mengikuti turnamen.

“Saya akan merindukan mobil-mobil saya,” ujarnya. “Saya bekerja keras untuk mendapatkannya. Saya tak ubahnya dengan anak kecil kalau berurusan dengan mobil-mobil itu. Dalam tahun pertama saya di Orlando, saya akan membeli SUV. Kalau bisa mempertahankan kartu saya untuk musim berikutnya, atau bisa main bagus tahun ini, mungkin saya bakal beli mobil super di AS.”

Ariya Jutanugarn dan Moriya Jutanugarn menjadi tetangga bagi Kiradech dan istrinya di Orlando. Foto: Golfin’STYLE.

Kiradech mempelajari golf ketika berusia 8 tahun. Kala itu ia mengikuti sang ayah, Panupong, yang juga seorang pebisnis, ke driving range. Panupong ingin Kiradech belajar golf agar putranya ini bisa terhindar dari menempuh jalan hidup yang tidak baik.

Dalam waktu singkat, Kiradech yang sebelumnya bernama Anujit Hirunratanakorn ini langsung terpikat pada golf dan menghabiskan berjam-jam berlatih. Kiradech muda juga sangat menggemari film kartun “Popeye” dan mulai mengikuti kejuaraan, dan menjuarai Junior World Golf Championship pada kategori 13-14 tahun pada 2003 dan 2004 di San Diego.

Ia mewakili Thailand di tingkat regional dan internasional sebelum akhirnya beralih profesional pada 2008 dalam usia 18 tahun. Ia menjuarai turnamen profesional pertamanya di Thai Tour pada tahun 2009 dan meraih gelar Asian Tour pertamanya tahun 2011. Dua tahun kemudian, ia menjuarai ajang co-sanction Asian Tour dan European Tour dan pada tahun yang sama ia menjuarai Order of Merit Asian Tour.

Tahun 2013 itu pulalah ia menjadi sorotan dengan meraih prestasi terbaiknya pada kancah PGA TOUR. Ia finis T3 pada CIMB Classic di Malaysia, prestasi terbaiknya hingga saat ini. Lima tahun kemudian, berada di dalam zona 50 besar ranking dunia, Kriadech yang sering disebut sebagai John Daly Asia lantaran fisiknya yang tambun dan gaya bermain grip it-and-rip-it, kini melakoni impiannya bermain penuh pada PGA TOUR.

“Ini mimpi yang menjadi kenyataan dan saya harap saya bisa membuat negara saya bangga dengan pencapaian-pencapaian saya,” tutup Kiradech.

Leave a comment