Kiradech Aphibarnrat siap bangkit ketika mengikuti turnamen PGA TOUR pertamanya pada tahun 2020 ini.

Waste Management Phoenix Open pekan ini bakal menjadi turnamen PGA TOUR perdana Kiradech Aphibarnrat untuk tahun 2020. Dan ia menegaskan keinginannya untuk menorehkan hasil yang solid setelah mengalami musim 2018-2019 yang penuh pasang surut.

Hingga paruh pertama musim lalu, Kiradech berhasil tiga kali finis di jajaran lima besar. Sayangnya, cedera lutut membuatnya kesulitan untuk melanjutkan performa positif tersebut. Akhirnya, ia harus puas finis di peringkat 83 pada klasemen FedExCup. Dan ia harus merelakan tidak menjadi bagian dari Tim Internasional Presidents Cup, salah satu target besarnya tahun lalu.

Peringkat dunianya juga harus melorot ke posisi 120 pada pekan ini. Padahal ia memulai tahun 2019 lalu dengan berada di peringkat 37. Dengan Olimpiade yang segera menjelang pada musim panas ini, ia harus berjuang keras untuk menembus kualifikasi menuju Tokyo. Saat ini ia menjadi pegolf Thailand dengan ranking dunia tertinggi setelah Jazz Janewattananond.

Meski demikian, satu-satunya yang menjadi prioritas baginya ialah mengembalikan kondisi fisiknya untuk bisa bersaing dengan baik.

“Menurut saya kondisi tubuh saya sekarang sudah jauh lebih baik, tapi masih belum pulih 100%,” ujarnya. “Saya masih mencari satu pekan bagus untuk mengembalikan rasa percaya diri saya agar bisa kembali seperti semula. Sebelumnya, dalam beberapa bulan, saya sudah lebih banyak berlatih di pusat kebugaran dan berharap kondisi saya bisa menjadi lebih baik. Saya juga mulai memperkuat otot di sekitar lutut dan sepertinya kondisinya mulai ke arah yang semestinya.”

Kiradech jelas berharap musim keduanya sebagai anggota penuh PGA TOUR bakal memberikan hasil yang lebih baik. Ia yakin bahwa dirinya sudah mulai terbiasa bermain di lapangan-lapangan standard PGA TOUR dan telah memiliki persyaratana yang dibutuhkan untuk bersaing dengan para pegolf terbaik dunia tiap pekannya.

“Mike (Walker) memperhatikan statistik saya secara reguler dan jelas permainan iron saya tidak setajam yang semestinya. Chipping dan short game saya juga tidak cukup bagus dan ada banyak hal yang mesti ditingkatkan.”

“Saya yakin bisa melakukan yang lebih baik lagi. Tahun lalu saya mengawalinya dengan baik, tapi belum berhasil mempertahankan permainan golf terbaik saya lantaran cedera. Saya juga sering gagal lolos cut dan tidak terbiasa memainkan sejumlah lapangan,” ujarnya lagi.

“Pelatih saya, Mike (Walker) memperhatikan statistik saya secara reguler dan jelas permainan iron saya tidak setajam yang semestinya. Chipping dan short game saya juga tidak cukup bagus dan ada banyak hal yang mesti ditingkatkan, yang kini juga masih saya kerjakan.”

Pada musim gugur yang lalu, Kiradech hanya tampil sekali, yaitu ketika finis T8 pada ajang THE CJ CUP @ NINE BRIDGES di Korea. Dengan berada di peringkat 147 klasemen FedExCup, ia sadar bahwa ia harus berjuang keras.

“Sepertinya, saya merasa cukup gugup. Saya ingin permainan saya lebih konsisten dan meskipun sekarang bermain bagus dalam empat-lima tahun terakhir, saya masih kesulitan dalam enam bulan terakhir. Bukannya dengan begitu karier saya berakhir, tapi saya ingin membangun ulang permainan saya, mendapatkan kembali kepercayaan diri saya lagi, dan memiliki keyakinan lagi.”

Bagian anterior cruciate ligament (ACL) di bagian lutut Kiradech sempat robek ketika ia bermain pada Masters Tournament tahun lalu. Ia mengakui keputusannya mengikuti beberaoa turnamen ketika menjalani rehabilitasi bukanlah keputusan yang bijak.

“Saya belum pernah bermain dengan menyimpan cedera sebelumnya, jadi keputusan itu benar-benar merugikan,” Kiradech mengakui.

Kiradech Aphibarnrat mencatatkan finis T8 pada satu-satunya ajang PGA TOUR yang ia ikuti pada musim gugur tahun 2019 lalu, THE CJ CUP @ NINE BRIDGES. Foto: Getty Images.

“Tapi sudah saatnya untuk membuktikan apa yang bisa saya lakukan. Sepuluh besar di Korea menjadi awal yang bagus dan semua orang tahu kalau saya bakal main di banyak turnamen. Saya harus menampilkan permainan terbaik dan memilih lapangan yang bisa saya manfaatkan. Dalam dua-tiga bulan pertama, saya akan bermain sebanyak mungkin. Saya juga berharap bisa mengikuti turnamen-turnamen yang lebih kecil dan berusaha mencari kemenangan PGA TOUR pertama untuk memudahkan langkah selanjutnya.”

Pada jeda kompetisi, ia memutuskan untuk pindah rumah dan menjadi tetangga kakak-beradik Jutanugarn di Orlando, Florida. Menurutnya, keputusan untuk tinggal di kompleks yang sama dengan Ariya dan Moriya bakal membantu dia dan sang istri, Tunyatorn.

“Sejauh ini saya suka (tinggal di AS). Kami pindah ke kompleks yang sama dengan Ariya dan Moriya dan sekarang saya merasa berada di rumah sendiri. Saya ingin bisa jalan ke rumah mereka karena mereka sudah seperti saudara perempuan buat saya,” ujarnya.

Pekan ini menjadi penampilan ketiga bagi Kiradech mengikuti Waste Management Phoenix Open. Dalam debutnya tahun 2014, ia finis T67. Sementara tahun lalu ia finis T33.