Pegolf remaja Kim Joohyung kini menempuh misi menggapai impiannya menembus PGA TOUR.

Remaja asal Korea, Kim Joohyung, tampaknya tak berbeda dengan maniak golf pada umumnya. Ia mengidolakan Tiger Woods, lalu menyaksikan pertandingan PGA TOUR secara reguler, baik melalui TV maupun gawainya. Sudah tentu ia pun bermimpi menjadi pegolf No.1 Dunia, juga masuk World Golf Hall of Famer.

Beberapa orang mungkin menganggapnya terlalu jauh bermimpi. Tapi dengan lima gelar profesional yang sudah ia koleksi dalam usia baru 18 tahun, Kim jelas menjadi salah satu dari hanya sedikit pegolf muda yang wajib diamati dalam beberapa bulan dan tahun ke depan.

Pekan ini ia akan kembali berusaha menembus PGA TOUR, ketika ia memulai ajang Corales Puntacana Resort & Club Championship pada hari Kamis (24/9) besok. Remaja fenomenal dari Asia ini tahu betapa panjang dan sulitnya perjalanannya menuju ke puncak impiannya itu. Namun, dengan usia yang masih begitu muda, ia siap untuk bekerja keras dan berada di jalur yang semestinya guna memenuhi impian masa kecilnya.

”Sudah tentu saya sangat ingin untuk bermain (penuh) pada PGA TOUR,” ujar Kim.

Bulan lalu, ia melakoni debut Majornya pada ajang PGA Championship. Kala itu ia bermain dengan skor 70 dan 77 dan harus gagal lolos cut di TPC Harding Park. Namun, ia menikmati sedikit hiburan dengan berfoto dengan jagoannya, Woods, ketika melakukan putaran latihan. Beberapa pekan kemudian, ia berhasil lolos cut untuk pertama kalinya pada ajang PGA TOUR. Pada ajang pembuka musim 2020-2021, Safeway Open, ia finis di posisi T67 dengan skor total 4-under 284.

 

 

Pengalaman-pengalaman tersebut telah memberi gambaran yang lebih baik terhadap jalan yang harus ia tempuh. ”Perjalanannya jauh dan saya senang bisa berada di sini. Semoga saya bisa segera main penuh di sini. Sudah pasti banyak yang berbeda. Kondisinya, green-nya, fairway-nya, rough, semuanya baru buat saya. Dan posisi pin di PGA TOUR juga berbeda dari beberapa Tour yang sudah saya ikuti, jadi ini pengalaman belajar yang sangat besar buat saya, langkah yang besar, dan menunjukkan betapa tangguhnya para pemain yang bermain dalam kondisi-kondisi demikian.”

Kim lahir di Seoul. Ayahnya, Kim Chang-ik, juga seorang pegolf profesional, yang kemudian menjadi pelatih golf. Keluarganya telah tinggal di Australia, Filipina, dan China sehingga Kim fasih berbahasa Inggris dan Tagalog (bahasa nasional Filipina), selain bahasa Korea sebagai bahasa ibunya.

Ketika masih berusia 5 tahun, sang ayah memperkenalkannya kepada golf. Beliau membuat olahraga ini menyenangkan sebelum Kim mengembangkan minat yang serius sampai akhirnya beralih profesional pada tahun 2018. Sejak saat itu ia telah tiga kali menang di sirkuit Asian Development Tour dan sekali meraih kemenangan Asian Tour pada musim lalu. Pada bulan Juli tahun ini, sekali lagi ia menciptakan sejarah dengan menjadi pegolf termuda yang menjuarai ajang Korean PGA Tour. Kemenangan itu melambungkan posisinya ke jajaran 100 besar dunia pada Official World Golf Ranking—peringkat 92 Dunia setelah kemenangan di Korea tersebut.

Kim menyerap segalanya sebisa mungkin pada periode yang sangat menarik dari kariernya yang masih muda ini. ”Sejujurnya, saya mengikuti semua pemain Tour. Itu sebabnya saya sering menonton hanya karena, entahlah, buat saya golf sudah mengalir dalam darah saya. Saya selalu berusaha untuk menjadi lebih baik, jadi 90% di antaranya adalah soal golf. Saya maniak golf, jadi saya tahu banyak tentang para pemain ini. Saya mempelajari banyak hal tentang mereka, bahkan sekarang pun masih demikian,” ujarnya.

Seperti halnya para pegolf lainnya, Kim mengagumi Woods.

 

Kemenangan Kim Joohyung pada ajang KPGA Gunsan Country Club Open bulan Juli 2020 melambungkan peringkatnya ke jajaran 100 besar dunia. Foto: Asian Tour.

 

”Saya selalu menjadi penggemar berat tiger hanya karena begitu mulai main golf, saya pikir turnamen golf pertama yang saya tonton ialah ketika Tiger menjuarai The Masters. Malahan saya menyaksikan dia di Australia ketika saya masin 6 tahun. Waktu itu dia datang ke Australia dan saya ingat ketika dia berjarak hanya satu kaki dari saya dan saya mengenakan topinya yang terlalu besar buat saya, tapi saya ingin memakainya hanya karena itu topi Tiger. Saya berteriak, ’Ayo Tiger!’ dan dia memberi salam dengan sentuhan lidah topinya. Waktu itu sangat menyenangkan,” tutur Kim.

”Dia begitu dominan pada tahun-tahun itu dan luar biasa sekali melihat apa yang telah ia lakukan bagi permainan ini dan betapa ia berdampak bagi golf. Jadi, saya selalu mengagumi dia. Senang sekali bisa bertemu dengannya pada PGA Championship dan saya bisa mendapat suvenir berupa foto bersama dengannya. Ya, dia memang selalu menjadi idola buat saya.”

Meskipun demikian, Kim tidak takut untuk mengutarakan target kariernya untuk jangka panjang, meskipun dalam olahrgaa ini ada begitu banyak megabintang dan pemain berbakat dari AS sampai ke seluruh dunia. ”Saya sangat ingin menjadi pegolf No.1 Dunia. Impian ini sudah menjadi target saya hanya karena Tiger Woods sudah begitu dominan sebagai pegolf No.1 Dunia selama bertahun-tahun … memenangkan semua Major, berada dalam Golf Hall of Fame, hal-hal seperti itulah yang ingin saya capai. Saya sudah mematok pola pikir demikian sejak mulai bermain golf, jadi semua target itu selalu ada bersama saya.”

Menariknya, nama Inggris Kim ialah Tom. Nama ini diberikan kepadanya karena ia begitu menggemari seri kartun ”Thomas the Train” ketika masih kecil. ”Saya memiliki semua pernak-perniknya, ada kotak makan, ada juga mainannya,” ujarnya sambil tertawa.

”Sebenarnya, namanya Thomas. Seiring usia saya yang makin bertambah, beberapa orang mulai memanggil saya Tom dan saya pikir panggilan itu lebih pendek dan lebih sederhana. Saya pikir saat berusia 11 tahun, saya terbiasa dipanggil Tom. Dan keluarga saya juga mulai memanggil saya Tom juga.”