Brooks Koepka menegaskan alasan mengapa ia layak untuk terus menjadi No.1 Dunia.

Ketika Rory McIlroy dipasangkan untuk pertama kalinya dengan pegolf No.1 Dunia Brooks Koepka, publik pun menyambut putaran final World Golf Championships-FedEx St Jude Invitational dengan antusias. Inilah pertama kalinya kedua pegolf yang telah mengoleksi empat Major ini bermain dalam satu grup.

Performa McIlroy menjelang putaran final di Memphis itu memang mengagumkan. Hampir sulit mempercayai bahwa ia gagal lolos cut di Royal Portrush pekan lalu, justru ketika ia menjadi pemain favorit kedua setelah Tiger Woods pada The Open Championship itu.

McIlroy menjadi pemain kedua setelah Jon Rahm asal Spanyol yang bermain 62 di TPC Southwind, menyusul skor 69 dan 67 pada dua putaran pertama. Ia pun kembali ke puncak klasemen dan berpeluang memenangkan gelar PGA TOUR ke-17 dan World Golf Championships ke-3.

Sayangnya, duel sengit yang diperkirakan itu tidak terwujud. Koepka berbalik memegang kendali dengan membukukan tiga birdie dalam enam hole di sembilan hole pertamanya. Sementara itu, McIlroy justru kesulitan mencari birdie dan harus puas dengan even par.

Memasuki sembilan hole terakhir, harapan McIlroy untuk bangkit pun pupus setelah hanya bisa mendapat satu birdie di hole 14, namun dengan dua bogey di hole 12 dan 15. Skor 11-under 269 membuatnya terlempar ke peringkat T4. Bukan hasil yang buruk, namun cukup membuatnya menolak untuk berbicara kepada reporter.

Koepka sendiri kemudian menambah dua birdie lagi di hole 10 dan 17, lalu menyudahi turnamen dengan par dan skor 264 untuk memastikan kemenangan sekaligus mempertegas alasan mengapa ia menjadi pegolf No.1 Dunia. Dan tidak ada perasaan puas melebihi keberhasilan menang dari salah satu pegolf terbaik di dunia.

“Rory tidak memainkan permainan yang ia inginkan, tapi melihatnya bermain sangatlah menyenangkan. Anda akan terpaku melihatnya memukul bola. Tapi rasanya selalu menyenangkan bisa meraih kemenangan dari salah satu pemain terbaik di dunia saat ini,” ujar Koepka.

Namun, sebenarnya motivasi lain bagi Koepka yang mendorongnya untuk menang pada turnamen ini. Turnamen yang telah memiliki sejarah panjang, 61 tahun, ini dibangun sebagai platform amal bagi St Jude Children’s Research Hospital. Kunjungannya sekitar dua tahun lalu menjadi kunjungan yang memberi pencerahan baginya.

“Ketika saya berkunjung ke rumah sakit itu, saya pikir kejadiannya dua atau tiga tahun lalu, kunjungan itu mengubah hidup saya. Saya jadi menghargai hal-hal kecil ketika melihat anak-anak ini dan bagaimana mereka berjuang untuk hidup. Semua yang keluarga mereka korbankan dan segala yang harus mereka jalani hari demi hari tidaklah sepadan dengan kesulitan yang kita hadapi,” ujarnya.

Rory McIlroy kembali menunjukkan salah satu permainan terbaiknya setelah gagal tampil maksimal pada The Open Championship sepekan sebelum WGC-FedEx St Jude Invitational. Foto: Getty Images.

Sebagai pegolf reguler PGA TOUR, Koepka tentu telah akrab dengan TPC Southwind, yang telah menjadi tuan rumah bagi turnamen ini sejak 1989. Maka ketika turnamen yang bernama FedEx St Jude Classic, kini berubah menjadi ajang World Golf Championships Invitational, menggantikan Bridgestone, kemenangan menjadi sangat istimewa baginya.

“Sungguh luar biasa. Saya selalu menyukai tempat ini, jadi bisa main bagus di sini sangatlah luar biasa. Ini lapangan golf yang saya rasa paling saya kenal ketimbang lapangan golf PGA TOUR lainnya. Akhirnya bisa menang, terutama setelah menjadi World Golf Championship, membuat kemenangan ini menjadi spesial,” tutur Koepka.

Ketika masih bernama FedEx St Jude Classic tahun lalu, Koepka hanya finis di posisi T30 setelah bermain 277, 16 stroke jauh di belakang Dustin Johnson yang menjadi juara.

Kemenangan Koepka ini di satu sisi memang mudah diprediksi. Catatan permainannya dalam beberapa pekan terakhir menunjukkan bahwa ia bakal segera meraih kemenangan lagi. Setelah nyaris mencatatkan kemenangan ketiga secara berturut-turut pada U.S. Open tahun ini dengan finis di tempat kedua, Koepka juga finis di posisi keempat pada The Open.

Kini Koepka menjadi pegolf keenam yang berhasil memenangkan ajang Major dan World Golf Championship pada tahun yang sama.

Pegolf Amerika lainnya, Webb Simposon, finis di tempat kedua setelah bermain dengan skor 64 pada putaran final itu. Skor total 13-under 267 sudah cukup untuk juara U.S. Open 2012 ini berada sendirian di peringkat kedua.

Wakil Asia Tenggara dari Thailand Poom Saksansin finis di peringkat T58 dalam ajang World Golf Championship kedua yang ia ikuti. Foto: Getty Images.

Li Haotong Finis T20
Satu-satunya wakil Asia Tenggara dari Thailand, Poom Saksansin sempat menampilkan permainan yang solid pada hari pertama dengan membukukan skor 2-under 68, berkat tiga birdie dan sebuah bogey. Namun, TPC Southwind memang bukan lapangan yang mudah. Webb Simpson, yang berhasil finis di tempat kedua, menyebut, “Di lapangan ini, kalau permainan Anda kurang akurat, Anda bisa dengan mudah mendapat penalti.”

Poom mulai mengalami kesulitan pada putaran kedua. Meski kembali mencatatkan tiga birdie, ia juga harus mendapat empat bogey dan satu double bogey, yang membuatnya harus menorehkan skor 73.

Sementara putaran ketiga memberi skor terburuk, 75, pada pekan itu, Poom menorehkan skor 74 pada putaran final untuk berbagi peringkat 58 bersama pegolf Jepang Mikumu Horikawa. Keduanya menuntaskan WGC-FedEx St Jude Invitational ini dengan 10-over 290.

Meski harus mengakhiri turnamen ini di posisi yang jauh dari sorotan, Poom mengaku gembira bisa bermain penuh selama empat putaran.

“Ada banyak area permainan yang bisa ditingkatkan, tapi saya senang bermain selama empat hari. Sekarang saya berniat untuk kembali dan bertanding di Japan Golf Tour lagi,” ujarnya.

Pegolf China Li Haotong, yang tengah berjuang mengamankan statusnya sebagai anggota Tim Internasional pada Presidents Cup akhir tahun nanti, berhasil menjadi pemain Asia terbaik. Setelah bermain 69 pada dua hari pertama, permainannya membaik pada hari ketiga dengan 3-under 67. Sayangnya, ia hanya bermain even par pada putaran final. Skor total 5-under 275 pun menempatkan Li di posisi T20.

Hasil ini jelas merupakan hal positif bagi pegolf berusia 23 tahun ini, terutama setelah gagal lolos cut di Royal Portrush.

Leave a comment