OLEH || Chris Cox, Senior Manager – Communications PGA TOUR

 

Seperti biasanya, ia melakukan rutinitas yang sama.

Aaron Wise bersiap memasukkan putt yang akan memberinya kemenangan pada sebuah turnamen. Sejurus kemudian, ia melepas ekspresi kemenangan dengan meninju udara dalam hening—sedikit luapan emosi yang ia tunjukkan—sebelum melepas topi dan memberi respeknya kepada para penonton. Lalu ia menyudahi turnamen dengan menyalami rekan mainnya dan melangkah dengan gembira, dengan sebuah trofi lain di tangannya.

Menuju Tour baru, negara baru, level kompetisi baru. Apa pun latarnya, di mana pun lokasinya, gambaran akhir pada tiap turnamen baginya tetaplah konstan.

”Saya selalu menjadikannya sebagai contoh,” ujar Casey Martin, pelatih Wise di kampusnya di University of Oregon. ”Mungkin dialah salah satu pemain yang secara emosi paling stabil dan pemuda yang paling mahir beradaptasi yang pernah dekat dengan saya. Kepercayaan diri dan kesabaran yang berlimpah ada dalam dirinya. Dan ketika bermain, emosinya tak mudah terombang-ambing.”

Bahkan saat ini, ketika berada di ruang loker di East Lake Golf Club, Wise masih terlihat seperti bocah yang sama. Suasananya hening di bagian clubhouse ini, di mana 30 pegolf PGA TOUR menaruh barang-barang milik mereka tiap musim saat bersaing memperebutkan hadiah utama, yaitu TOUR Championship.

”Ini hanya sekadar golf,” jelas Wise dengan santainya. ”Saya masih orang yang sama dengan yang dulu, cuma berusaha untuk menjadi lebih baik. Kita semua mengakuinya—kalau bisa melakukan hal tersebut (menjadi lebih baik), Anda bisa menjadi lebih mahir dan bertahan cukup lama. Itulah fokus saya.”

Hal itu bukan pekerjaan yang mudah, mengingat perputaran keberhasilan yang telah dialami pegolf asal Afrika Selatan itu dalam tiga musim terakhir. Sejak beralih profesional, Wise telah menjuarai satu dari tiap musim dalam tiga tahun terakhir di tiga Tour berbeda: Mackenzie Tour – PGA TOUR Canada tahun 2016, Web.com Tour 2017, dan musim terakhirnya pada PGA TOUR.

Perjalanannya itu berpuncak pada turnamen tutup musim, TOUR Championship, di mana Wise menjadi satu-satunya pendatang baru dari seluruh pemain yang berkompetisi. Ia akhirnya menuntaskan debutnya dengan finis di peringkat 15 pada final FedExCup Playoff, prestasi yang sudah cukup baginya untuk menjadi nominasi penerima penghargaan PGA TOUR Rookie of the Year.

Selain Wise, beberapa nama lain juga bersaing untuk menyabet penghargaan tersebut. Selain Austin Cook, ada pula Satoshi Kodaira, Keith Mitchel, dan Joaquin Niemann. Hanya Kodaira, yang menjuarai RBC Heritage lewat play-off dengan Kim Siwoo, yang bergabung dengan Wise sebagai juara rookie.

”Untuk mencapainya (TOUR Championship), saya mematok target ketika memulai tahun ini, dan saya tahu betapa sulitnya untuk bisa menembusnya,” ujar Wise dengan nada merendah ketika menilai kembali musim yang baru ia lalui. ”Melihat ke belakang dan mendapati betapa saya telah bekerja keras dan melihat semua permainan bagus yang saya tampilkan, rasanya istimewa sekali bisa berada di antara 30 pemain terbaik di TOUR tahun ini. Saya menyukainya karena memberikan ujian yang bagus.”

 

 

Pemuda berusia 22 tahun ini tampaknya berhasil melalui semua ujian yang ada, sejak kemenangannya yang berkesan di Kanada, dua tahun lalu. Dalam dua turnamen pertamanya sejak beralih profesional, Wise membukukan 19-under 269 dalam empat putaran pada ajang Syncrude Oil Country Championship. Kala itu ia mengalahkan Brock Mackenzie dan pegolf Argentina Puma Dominguez dengan keunggulan satu stroke.

Kemenangan di Edmonton dalam usia 20 tahun itu menjadikannya juara termuda dalam sejarah Mackenzie Tour. Lalu ia berhasil finis di zona 15 besar dalam musim pertamanya, termasuk finis di tempat ketiga pada turnamen tutup musim, Freedom 55 Financial Championship. Ia menempati peringkat keempat Order of Merit, yang memberinya keanggotaan Web.com Tour, berkat prestasinya masuk lima peringkat teratas Order of Merit.

”Saya gembira bisa menempuh jalan seperti itu ketimbang hanya sekadar bermain di sini,” Wise menyinggung masa-masa ketika berada di Kanada. ”Saya merasa memberikan seluruh waktu untuk beradaptasi dengan menempuh banyak perjalanan. Mereka merupakan para pemain yang lebih mahir, dan selisih skornya semakin kecil dan semakin kecil dan semakin kecil. Saya selalu merasa ketika bisa bermain dengan baik, saya selalu bisa menang hampir di tiap level. Perbedaannya ialah permainan golf saya yang buruk dan apakah saya bakal bisa lolos cut dan mendapatkan uang pada pekan tersebut atau tidak.”

Tapi Wise sendiri sudah akrab dengan melakukan perjalanan jauh sebelum melakoni musim kompetisi di Kanada itu.

Ia lahir di Cape Town, Afrika Selatan, dan tinggal di sana sampai berusia 3 tahun. Kedua orangtuanya—Marc dan Karla Kane Wise—sudah sejak lama berdomisili di Cape Town, tapi berniat untuk membawa Aaron melihat dunia melalui Southern California. Marc masih bolak-balik ke Afrika Selatan karena keluarganya juga masih di sana, tapi hanya sekali, yaitu tahun 2008, Marc membawa Wise kecil ke kampung halamannya itu.

”Kedua orangtua saya berpikir (perpindahan itu) akan memberi lebih banyak peluang kepada saya sebagai seorang anak,” ujar Wise, yang menyebut Ernie Els dan Retief Goosen sebagai dua pemain favoritnya dari Afrika Selatan. ”Ayah-ibu saya memiliki seorang putra dan mereka berpikir ada lebih banyak peluang di Amerika di mana saya bisa bertumbuh, dan keputusan itu ternyata terbukti benar.”

Kepindahan itu kemudian terlihat kian tepat setelah Wise mengalami karier kampus yang sukses. Pada musim dingin pada tahun keduanya, ia menuju Australia untuk bersaing pada Master of the Amateur. Empat hari dan 5-under 283 kemudian, ia meninggalkan Royal Melbourne dengan jaket hijau. Ia tahu, inilah saatnya untuk melangkah.

”Entah bagaimana saya bisa menang,” ujarnya datar. ”Ketika itulah saya berpikir saya bisa melangkah ke level selanjutnya dan beralih pro. Saya kembali ke Oregon bulan Januari itu dan memberi tahu Casey, dan kami mulai menempuh proses mencari agen dan seperti apa di luar sana dan apakah ini keputusan yang baik. Semuanya berjalan dari

 

Aaron Wise berjalan menuju tee box hole 14 pada putaran pertama WinCO Foods Portland Open di Pumpkin Ridge Golf Club pada 24 Agustus 2017. Foto: Steve Dykes/Getty Images.

 

Baru setahun berlalu sejak pegolf Afrika Selatan ini menang sebelum akhirnya ia mendapati dirinya berkompetisi pada Web.com Tour. Dan lejitan kariernya itu pun melesat dengan kecepatan tinggi.

Ia berada di tempat ketiga hanya dari tiga turnamen yang ia ikuti—Chitimacha Louisiana Open—sebelum akhirnya meraih kemenangan profesional keduanya pada musim panas tersebut, dengan menjuarai Air Capital Classic. Ia mengungguli Beau Hossler dengan lima stroke, sebagian berkat dua skor 62 pada awal pekan itu.

Itu pemandangan yang lumrah bagi Martin, yang melihat kemenangan yang terus diraih Wise ketika ia masih bersama The Ducks. Tahun 2016, ia mempersembahkan gelar juara nasional pertama bagi timnya dengan memenangkan gelar individu putra NCAA, diikuti dengan kejuaraan beregu dengan menang 3-0 pada ajang match play.

”Itu kenangan yang takkan saya lupakan,” ujar Wise. ”Mungkin kenangan terbaik saya dalam olahraga golf.”

Ia menjadi pegolf pertama sejak Kevin Chappel yang membela UCLA menjuarai kelas individu dan beregu pada NCAA Championship tahun 2008.

”Dalam proses perekrutan, Anda bisa melihat bahwa ia memiliki bakat yang istimewa,” ujar Martin. ”Pada turnamen keempatnya di universitas, ia menang, dan ia terlihat benar-benar pegang kendali dan tampaknya tidak ada tahapan baginya. Sejak saat itu ia terus membangun kesuksesannya, dan ia menjadi individu yang sangat dewasa. Bakatnya berlimpah. Tapi, sebenarnya, stabilitas emosional dan kedewasaanlah yang memberi kekuatan lebih

 

 

Kemenangan Wise pada Web.com Tour melapangkan jalannya untuk melakoni musim perdananya pada PGA TOUR. Dan ia juga segera meraih kemenangan, dan menjuarai AT&T Byron Nelson Classic di luar Dallas. Ia melaju meninggalkan Marc Leishman yang mesti puas di tempat kedua dan membukukan rekor skor turnamen dengan 23-under untuk keunggulan tiga stroke. Wise yang baru berusia 21 tahun pun menjadi juara termuda kedua turnamen tersebut, di belakang Tiger Woods.

Kemenangan tersebut juga menempatkan Wise sejajar dengan Mackenzie Hughes, sebagai pemain kedua yang menjadi juara pada PGA TOUR, Web.com Tour, dan Mackenzie Tour.

”Itu pertama kalinya saya bermain dengannya. Dia pemain yang sangat bagus,” puji Leishman. ”Ia berjuang dengan baik. Ia berusaha keras. Ia melakukan beberapa pukulan yang jelek, tapi (dia) masih bisa melakukan pukulan recovery yang sangat, sangat bagus. Mungkin itulah hal yang paling mengesankan. Beberapa kali berhasil melakukan up-and-down.

”Dia pemain yang solid, dan dari yang saya dengar, dia baru berusia 21 tahun. Saya tak menyadarinya! Saya pikir saya ada di bangku SMA ketika ia lahir—entahlah. Anda mungkin sering mendengarnya, tapi saya tak pernah menyebutnya demikian. Ya, dia pemain yang bagus.”

Kemenangan Wise di Texas bukanlah kebetulan. Bukan pula kemenanga yang luar biasa, sekali-seumur hidup, yang takkan terlihat lagi. Bukan! Kemenangan itu menjadi buah dari keberhasilan jangka panjang Wise yang berkesinambungan.

Sepekan sebelum ia meraih gelar PGA TOUR pertamanya, Wise menjadi salah satu runner-up pada Wells Fargo Championship, hanya dua stroke di belakang Jason Day. Ia meraih dua kali sepuluh besar sebelum musim ini berakhir.

Ia menyudahi musim perdananya pada PGA TOUR dengan meraih hampir US$3,5 juta dan finis di peringkat 24 FedExCup Standings.

”Prestasi ini hanya menambah percaya diri,” ujarnya. ”Anda takkan tahu kalau Anda bisa melakukannya sampai mewujudkannya. Dan saat ini saya merasa, setelah berhasil menang sebelumnya, ketika berada dalam situasi yang sama (bersaing memperebutkan juara), saya mendapat percaya diri, bahwa saya pernah ada dalam situasi tersebut, saya sudah melakukannya sebelumnya dan bisa melakukannya lagi.

”Saya bisa bilang perubahan terbesar yang terjadi ialah mengatur ulang target-target Anda, sesuatu yang bahkan saya pikir tak mungkin sebelumnya, dan kini itulah yang terjadi. Saya berusaha mengejar target-target (baru) tersebut.”

 

Aaron Wise merayakan kemenangannya dengan Karla Kane, sang ibu, usai menjuarai AT&T Byron Nelson di Trinity Forest Golf Club, 20 Mei 2018 lalu. Foto: Tom Pennington/Getty Images.

 

Bersiap meninggalkan ruangan loker, Wise menggendong tasnya dan melangkah keluar pintu sendirian. Tak ada agen atau pelatih yang mengikutinya, tak ada kawanan anggota timnya yang siap memberi jawaban pada tiap seruan dan panggilan.

Hanya ada Aaron Wise, pemuda yang selalu rendah hati.

Tak peduli sebanyak apa kemenangan PGA TOUr yang ada di depannya, gayanya yang pendiam dan sikapnya yang menahan emosi itu akan selalu sama kapan pun itu. Itulah Aaron.

”Dia orang yang cerdas. Dia orang yang asyik dan memiliki jiwa yang dewasa dalam banyak hal karena ketika ia muncul, ia tampak sebagai seorang dewasa yang matang,” ujar Martin. ”Dia tidak ketagihan main video game, dia sangat cerdas soal latihannya dan persiapannya untuk golf. Tapi pada saat yang sama, ia akan bersemangat tentang hal-hal tertentu, tapi ia melakukannya dengan cara yang tepat dan ia tampak bijak dalam usianya, tanpa maksud apa pun.”

Leave a comment