Ketika PGA TOUR mengunjungi The Club at Nine Bridges tahun lalu untuk gelaran perdana CJ CUP, turnamen pada bulan Oktober tersebut sekaligus memberi penegasan terhadap desain strategis yang memakan waktu hampir 20 tahun dari arsitek lapangan David Dale. Dengan CJ CUP kedua yang akan digelar pekan ini pada 18-21 Oktober, persiapan untuk turnamen ini pun telah tuntas dan membuat lapangan ini cocok untuk membuat para pemain, komite TOUR, dan audiens televisi di seluruh dunia terkesima.

Tapi faktanya, sebagian besar tayangan menarik pada tahun lalu sebenarnya mengandalkan pada sesuatu yang sangat singkat: angin yang berembus di Pulau Jeju pada akhir pekan. Kondisi berangin terjadi pada Jumat-Sabtu-Minggu mencegah seluruh peserta pada 2017 untuk bermain dengan skor rendah. Justin Thomas menang dengan skor 9-under 279 dan mengalahkan Marc Leishman pada babak playoff, sambil berusaha mengungkapkan jalur strategis di lapangan ini.

“Saya pikir kami semua sangat puas dengan apa yang kami lihat. (CJ CUP) itu turnamen yang bagus. Tapi saya kira Angin Jeju benar-benar menolong,” ujar Steve Wenzloff, Vice President dan Player Liaision dengan PGA TOUR Design Services. “Angin di sini tak sekadar sebuah elemen. Mereka sudah dimasukkan ke dalam desain dengan cara yang cukup spesifik. Kami cukup beruntung bisa melihatnya bermain pada akhir pekan tahun lalu.”

The Club at Nine Bridges berlokasi di Pulau Jeju, sekitar 7 mil dari pantai selatan Semenanjung Korea. Lapangan ini merupakan klub elit terbaru yang reputasinya yang bersaing terletak pada kemampuan untuk menyulap kondisi berangin pada sebuah pekan turnamen. Reputasi desain lapangan ini pun segera dikukuhkan (World Top 100 GOLF Magazine memberi Nine Bridges di perinkat 41; Golf Digest memberinya peringkat 79 di dunia, dan No.23 di daftar lapangan di luar AS). Tapi tanpa Angin Jeju, peringkatnya tidak akan sebagus itu, seperti halnya lapangan-lapangan Tour kebanyakan.

“Ini bukan hal yang sepenuhnya baru, tapi para pemain TOUR ini benar-benar mahir,” ujar arsitek lapangan Nine Bridges Dale, yang bermitra dengan Golfplan yang bermarkas di Santa Rosa, California. “Untuk lapangan-lapangan US Open, USGA memilih rough, kelebaran fairway, dan green speed untuk mempertahankan par. Itu sebabnya, ketika angin berembus, permainan di luar sana bisa brutal, seperti yang kita saksikan pada hari Sabtu di Shinnecock bulan Juni lalu.

“Di Nine Bridges, kami berusaha memanfaatkan elemen-elemen desain untuk menciptakan resistensi terhadap skor, tapi kami melakukannya dengan Angin Jeju (dan bagaimana biasanya mereka berembus pada bulan Oktober) dalam pikiran kami. Buktinya langsung terlihat: lapangan golf dengan angin berembus, mengamankan par. Saya yakin Justin Thomas, ketika bermain 9-under pada hari pertama [ia pada akhirnya bermain 63-74-70-72], lalu angin berembus. Skor kemenangan pun 9-under. Bingo!”

Hole 8 par 4 yang drivable, namun membuat Justin Thomas hanya mencatatkan par dan K.J. Choi mendapat triple bogey.

Dale mengungkapkan beberapa elemen desainnya terlihat mudah. Ia menciptakan tee belakang yang baru di hole 18 par 5, misalnya, untuk memastikan bahwa para pemain yang berniat mencapai green dalam dua pukulan, setidaknya akan melakukan pukulan approach sejauh 250 yard, untuk mengatasi bunker yang mengawal green pulau tersebut. Pada hari Minggu, saat angin mulai berembus ke wajah para pemain di Jeju, itulah persisnya momen ketika pukulan approach risiko/ganjaran mesti dilakukan, baik oleh Thomas maupun Leishman. Mereka bahkan harus melakukan dua kali, pertama dalam putaran regulasi, lalu sekali lagi saat playoff.

“Tanpa angin berembus sebagaimana biasanya, para pemain ini bisa memukul mid-iron,” ujar Dale. “Ada persamaan serupa, tapi dengan lebih bernuansa, yang ikut bermain di beberapa hole di Nine Bridges. Di hole 16 [hole bergaya Cape, par 4 sepanjang 427 yard], posisi bunker fairway yang membentuk elemen Cape, dan di mana fairway menjadi sempit di area pendaratan bola, dikalibrasikan secara spesifik untuk menjebak para pemain untuk melakukan pukulan yang berpotensi bahaya, tapi juga bisa memberi ganjaran dari atas tee. Tapi semua itu juga didasarkan pada embusan angin yang bertiup, jadi saya bilang, berembuslah angin!”

“Di Nine Bridges, kami berusaha memanfaatkan elemen-elemen desain untuk menciptakan resistensi terhadap skor, tapi kami melakukannya dengan Angin Jeju.” – David Dale

Dale, yang mengingat masa-masa ketika ia memainkan driver persimon saat lapangan ini diresmikan pada 2001, mengakui ia harus bermain kejar-kejaran bak kucing dan tikus untuk melindungi par dari para pemain mahir, yang kini dilengkapi dengan teknologi papan atas.

“Menurut saya hole 6 terlalu mudah buat mereka,” ujar Dale mengenai hole par 4, 428 yard itu. “Mereka menghajar melewati bunker-bunker rintangan saya! Kami masih berniat memundurkan tee-nya 15 yard ke belakang supaya menjadi lebih relevan. Tapi hole 8 (hole par 4 yang drivable dengan green Het Girdle-nya, salah satu bentuk penghormatan kepada King’s Course di Gleneagles, di Skotlandia) sangatlah menarik. Melihat Justin Thomas memukul ke green dan bermain dengan 4 stroke, melihat K.J. Choi nyaris memukul langsung ke green dan meninggalkan hole itu dengan 7 stroke? Saya melihatnya begitu menghibur, seperti halnya mereka yang menyaksikannya di TV.”

Hole 16 par 4, 427 yard dengan posisi bunker fairway yang membentuk elemen Cape.

Pada beberapa level, keseimbangan yang digambarkan Dale berada hampir di tiap pemberhentian Tour di seluruh dunia. Tapi Wenzloff menjelaskan betapa medan dan desain menjadikan formula yang bernuansa khusus di Nine Bridges, dengan pesaing yang tak banyak di dunia turnamen golf.

“Lapangan ini luar biasa dan persiapan yang kami lakukan jelang ajang tahun lalu juga terbayarkan,” jelas Wenzloff. “Jalurnya sangatlah bagus. Lokasinya berada sangat baik di atas medan. David (Dale) tak memindahkan tanah, sesuatu yang tak lazim di Korea atatu lapangan pegunungan mana pun, meskipun Nine Bridges termasuk lapangan pegunungan. Saya pikir perbandingan terbaiknya di Tour adalah Kapalua (tempat penyelenggaraan Tournament of Champions pada bulan Januari). Di Kapalua, berkat topografinya angin yang berembus juga memengaruhi kompetisi di sini dengan uniknya.”

“Saya pikir perbandingan terbaiknya di Tour adalah Kapalua …, berkat topografinya, angin yang berembus juga memengaruhi kompetisi di sini dengan uniknya.” – Steve Wenzloff

Sebagaimana terjadi kemudian, Justin Thomas menjuarai Tournamen of Champions 2017 dengan 22-under. Dustin Johnson menang pada bulan Januari 2018, membukukan skor 24-under. Sebagaimana disampaikan Wenzloff, Plantation Course di Kapalua juga didesain untuk berfungsi pada embusan angin yang kencang (hole 18 biasanya dimainkan downhill dan dengan angin berembus, sekitar 660 yard (dan para pemain secara rutin memukul dua kali ke green. Tapi keseimbangan itu sesuatu yang positif. Johnson menjuarai Tournament of Champions pertamanya di sini pada 2013, ketika ajang itu diperpendek menjadi 54 hole lantaran embusan angin membuat lapangan tidak bisa dimainkan selama tiga hari.

Kecuali kondisinya menjadi badai yang parah, Dale tidak melihat bahwa hal seperti di Kapalua bakal terjadi di Nine Bridges. “Tapi menurut saya, apa yang ditunjukkan di CJ CUP dan Kapalua menunjukkan betapa beratnya keseimbangan kompetisi di lapangan-lapangan turnamen tertentu. Kami sudah melihat bagaimana angin bisa membuat turnamen British Open ditunda, ketika angin meniup bola di sekitar green. Situasi begitu tidaklah ideal, tapi kami harus mengakui bahwa sampai pada titik ketika embusan angin berada di luar kendali, turnamen ini merupakan turnamen yang paling menarik.”

Leave a comment