Seiring dengan cabang olahraga golf digelar pada Olimpiade Tokyo, Justin Rose, Henrik Stenson, dan Matt Kuchar menuturkan betapa besarnya makna tampil pada pesta olahraga terbesar di dunia ini.

Oleh Chuah Choo Chiang, Senior Director, International Marketing and Communications APAC PGA TOUR, berdomisili di Kuala Lumpur.

Sorot mata Justin Rose tampak berbinar-binar tatkala membahas topik Olimpiade. Tahun 2016, Rose yang mewakili Tim Britania Raya, memenangkan medali emas di Rio de Janeiro dalam kembalinya cabang olahraga golf pada Olimpiade setelah 112 tahun absen. Kala itu ia mengalahkan pegolf Swedia Henrik Stenson dengan keunggulan dua stroke dalam duel berkesan pada putaran final.

Matt Kuchar meraih medali perunggu bagi Tim AS setelah mencatatkan skor 63 pada putaran final itu. Ia ikut meneteskan air mata di podium, gambaran betapa besarnya momen tersebut, tidak hanya bagi dirinya, tapi juga bagi olahraga golf dalam skala yang lebih besar.

Menyusul penundaan akibat pandemi COVID-19, kini Olimpiade Tokyo segera diselenggarakan. Seluruh mata akan tertuju pada mega bintang golf, baik pria maupun wanita. Mereka diharapkan bisa kembali menunjukkan tempatnya masing-masing di antara para olahragawan Olimpiade.

Sayangnya, Rose, Stenson, dan Kuchar tak lagi bisa mempertahankan medali mereka di Kasumigaseki Country Club, 29 Juli-1 Agustus mendatang. Mereka gagal menembus kualifikasi. Namun, absennya mereka rasanya bisa terwakili oleh enam pegolf dari jajaran 10 besar dunia pada kompetisi yang akan diikuti oleh 60 peserta itu. Pegolf No.1 Dunia Jon Rahm akan memimpin jajaran pemain bintang tersebut, diikuri oleh Justin Thomas (3), Collin Morikawa (4), Xander Schauffele (5), Bryson DeChambeau (6), dan Rory McIlroy (10). Semua mereka itu akan melakoni debut Olimpiade masing-masing. Sementara pahlawan tuan rumah, Hideki Matsuyama, akan mengusung harapan Jepang untuk meraih medali emas.

 

Justin Rose kala memastikan meraih medali emas Olimpiade Rio 2016.
Justin Rose meluapkan emosi usai memastikan memenangkan medali emas Olimpiade Rio 2016. Foto: Chris Condon/PGA TOUR/IGF.

 

Rose sangat bangga akan pencapaiannya di Rio, yang kala itu tidak diikuti oleh sejumlah besar pemain top lantaran kekhawatiran akan virus Zika.

”Sejujurnya, mungkin itulah anugerah terbesar dalam karier saya. Sungguh menjadi hal yang fantastis dan fakta bahwa ajang itu menghubungkan saya dengan begitu banyak atlet besar dari olahraga lain, menjadi sesuatu yang sangat, sangat keren,” ujar Rose.

”Dengan Kuch, Henrik, dan saya menjadi peraih medali pertama, saya pikir para pemain lain di Tour telah melihat artinya bagi kami dan bagi publik golf dan para penggemar. Semoga golf akan memperkukuh posisinya pada Olimpiade. Bisa berbaris bersama seluruh Tim Britania Raya di Stadion Maracana rasanya membuat saya berada di tengah sesuatu yang menakjubkkan. Sesuatu yang lebih besar daripada olahraga individual Anda.”

Rose yang kini berusia 40 tahun dan telah mengemas 10 gelar PGA TOUR dan 11 gelar European Tour, mengaku menikmati pengalaman Olimpiadenya. Ia bertukar pandangan dan masukan dengan sesama anggota Tim Britania Raya dan bintang tenis serta peraih dua medali emas, Andy Murray. Ia juga melihat langsung bagaimana para pemain dari anggota tim rugbi berlatih dan mendorong diri mereka untuk menjadi lebih kuat, lebih cepat, dan lebih baik.

 

 

”Andy sangat tertarik melihat bagaimana para pegolf begitu memperhatikan teknik dan hal yang saya rasakan darinya ialah ia tidak terlalu berfokus banyak pada urusan teknik … ia berfokus pada strategi permainan dan memainkan lawannya. Teknik sesungguhnya dari groundstroke dan servis, sepertinya ia tidak terlalu terobsesi dengan hal-hal tersebut, sementara para pegolf terobsesi pada teknik. Menarik juga mendengar pola pikir seperti ini,” tutur Rose.

Stenson sendiri mengaku berjalan bersama kontingen Swedia pada upacara pembukaan di Rio membuatnya merinding. ”Kami semua melihat kenangan-kenangan luar biasa tersebut,” ujar pemegang 6 gelar PGA TOUR dan 11 gelar European Tour ini. ”Menjadi bagian dari upacara pembukaan di Rio … merupakan momen yang membanggakan.”

Medali perak Stenson mungkin telah tergores dan penyok lantaran telah diikutsertakan dalam beragai kegiatan media dan ajang amal. Bahkan anak-anaknya membawanya ke sekolah. ”Saat itu saya merupakan juara bertahan The Open dan peraih medali perak dan trofi serta medali itu sering dibawa bersamaan ke mana-mana dan entahlah kalau Claret Jug mulai merasa kesal dan menghajar medali perak itu,” ujar Stenson sambil tertawa.

”Ada begitu banyak turnamen, aktivitas media, dan kegiatan amal. Mereka ikut pergi ke mana-mana. Bahkan ke sekolah anak-anak saya … putri saya ingin menunjukkannya pada kegiatan ’Show and Tell’ dan dia sedikit lebih berhati-hati ketimbang putra saya. Lantaran saya sudah berjanji kepadanya, putra saya juga ingin membawanya dan ia menjatuhkan ranselnya dengan medali itu di dalamnya sehingga ada penyok besar di dasarnya sekarang. Medali itu sudah tidak dalam kondisi terbaiknya lagi.”

”Menjuarai kejuaraan Major memang menjadi prestasi besar bagi olahraga kita, tapi Anda hanya bisa menjadi juara Olimpiade sekali dalam empat tahun.” — Henrik Stenson.

Toh ia meyakini kembalinya golf ke Olimpiade setelah lebih dari seabad memberi dampak bagi pertumbuhan olahraga ini di seluruh dunia. ”Kami menjangkau audiens yang lebih luas lagi dan tentu saja di Swedia, ada begitu banyak orang yang menyaksikan saya berduel dengan Justin untuk medali emas daripada yang menyaksikan saya menjuarai Open Championship,” tegasnya.

”(Kembalinya golf ke Olimpiade) sangatlah penting bagi pertumbuhan golf dan dalam skala global. Setelah itu, kami mendapat banyak pesan dari orang-orang yang berkata, ’Saya tidak pernah mencoba golf dan tidak pernah benar-benar menyaksikannya, tapi saya menonton Olimpiade dan sekarang ingin mencoba olahraga ini.’ Saya pikir inilah salah satu momen kunci bagi kami dengan menjadi bagian dari ajang tersebut. Ini ajang yang spesial karena dilangsungkan empat tahun sekali. Menjuarai kejuaraan Major memang menjadi prestasi besar bagi olahraga kita, tapi Anda hanya bisa menjadi juara Olimpiade sekali dalam empat tahun.”

Kuchar, yang telah mewakili AS dalam total sembilan penampilannya pada ajang Ryder Cup dan Presidents Cup, juga menemui kepuasan luar biasa setelah finis di tempat ketiga untuk pertama kalinya dalam kariernya yang panjang. Sebagai olahraga individual, kemenangan sering kali menjadi tolok ukur kesuksesan.

”Seremoni medali dan finis di hole 18 dan menerima medali yang dikalungkan ke leher saya, semua itu membuat saya meneteskan air mata,” ujar Kuchar. ”Bisa bertanding dan memainkkan putaran yang luar biasa untuk mendapatkan medali, sungguh menciptakan getaran tersendiri.”