Hannah Green membuat publik golf Australia kembali berbangga berkat pencapaiannya menjuarai KPMG Women’s PGA Championship.

Pegolf berusia 22 tahun, yang berasal dari Mt. Lawley GOlf Club di Perth itu menggulirkan putt-nya untuk par dari jarak kurang dari dua meter. Par di hole terakhir di Hazeltine National Golf Club itu sudah cukup untuk membuatnya sebagai juara baru dari KPMG Women’s PGA Championship dengan keunggulan satu stroke.

Putaran final tersebut menjadi putaran final yang sangat epik bagi Hannah Green. Pegolf Australia ini kini menjadi pegolf ketiga yang berhasil memenangkan Major, setelah Karrie Webb dan Jan Stephenson. Tentulah menjadi sesuatu yang sangat istimewa baginya lantaran Webb, pegolf legendaris Australia yang mengoleksi tujuh gelar Major dan menjadi mentor bagi Green, diiringi rekan profesionalnya Su Oh, serta Jarryd Felton sang kekasih, ikut merayakan keberhasilannya di green hole 18 itu. Bahkan dua anggota skuad Webb Scholarship, Becky Kay dan Grace Kim ikut meramaikannya.

Green memang memimpin kejuaraan Major ini sejak hari pertama, namun ia harus berjuang keras dari jebakan di sisi kiri green di hole 18 par 4 itu untuk memastikan kemenangan ini. Juara bertahan, yang sekaligus mantan pegolf No.1 dunia asal Korea, Park Sunghyun, memberinya tekanan setelah menorehkan birdie di hole yang sama untuk catatan skor total 8-under 280.

Meskipun berada di posisi yang sulit untuk melakukan pukulan, Green berhasil melakukan pukulan yang menyisakan jarak kurang dari dua meter itu. Dan meski berada di bawah tekanan, ia justru sukses memasukkan putt yang memberinya kemenangan perdana pada kancah LPGA Tour, sekaligus Major pertama bagi kariernya. Ini menjadi prestasi yang luar biasa baginya, mengingat ia sama sekali belum pernah meraih gelar LPGA dan menempati peringkat dunia No.114.

Bagi Green, karier golfnya selama ini seakan berada di bawah bayang-bayang para pegolf top amatir lain yang menembus skuad nasional bersama dengannya. Rekannya yang juga berasal dari Western Australia Minjee Lee dan Su Oh dari Victoria merupakan dua di antaranya. Green sendiri merupakan pegolf amatir yang handal dan telah mewakili negaranya. Ia juga memenangkan gelar junior Western Australia dan Victorian Amateur, namun tidak ada yang mempertimbangkan dirinya sejajar dengan Lee, pegolf No.3 dunia.

“Saya selalu ingin menang di depan para pendukung Australia, tapi meskipun tidak berada di negeri sendiri, saya malah merasa seperti di Australia hari ini.” – Hannah Green

Kemenangannya di Hazeltine tersebut jelas mengubah segalanya. Kemenangan ini menjadi sangat monumental bagi pegolf yang belajar dari sang ayah, yang berasal dari Selandia Baru, yang juga merupakan pegolf mahir.

“Saya benar-benar kehabisan kata-kata,” tutur Green kepada penyiar setelah memastikan kemenangannya ini. “Saya benar-benar gugup memainkan lima hole terakhir, dan senang bisa melakukan putt penentu itu karena sepanjang putaran final ini saya merasa kesulitan. Akhirnya bisa meraih kemenangan benar-benar memberi perasaan yang luar biasa dan sulit dipercaya.

“Sangat mengagumkan. Saya selalu ingin menang di depan para pendukung Australia, tapi meskipun tidak berada di negeri sendiri, saya malah merasa seperti di Australia hari ini (kemarin). Bahkan saya bisa memenangkan Major sebagai kemenangan perdana saya. Ini sungguh luar biasa.”

Sepanjang pekan itu Green mendominasi permainan. Skor 68-69-70-72 miliknya sekaligus membuatnya memenangkan hadiah uang senilai US$577.000, sekaligus memberinya hak bermain penuh di LPGA selama dua tahun ke depan, bahkan memberinya slot untuk mewakili Australia pada ajang Olimpiade di Tokyo tahun depan.

Tiga kemenangan sebelumnya ia raih pada kancah Symetra Tour pada tahun 2017. Prestasi itulah yang kemudian membawanya ke LPGA. Finis terbaiknya pada level ini ialah ketika meraih peringkat ketiga pada ajang ISPS Handa Women’s Australian Open 2018. Prestasi istimewa di Hazeltine ini sendiri merupakan partisipasinya ketujuh dalam ajang Major.

Bagaimana Green melakukannya?
Meskipun memimpin klasemen sejak putaran pertama, kemenangan ini merupakan bukti upayanya yang mengagumkan. Ia benar-benar layak meraihnya. Memulai putaran final dengan keunggulan satu stroke, ia harus bermain bersama salah satu pegolf paling mengintimidasi, Ariya Jutanugarn. Performa Jutanugarn yang jauh dari biasanya membawa Green memiliki keunggulan empat stroke, meski sempat mengawali putaran final dengan dua bogey.

Green mulai kesulitan ketika berada di hole 9 dan mendapat bogey ketiga. Memasuki hole 11 par 5, ia bahkan bermain terlalu agresif sehingga pukulan wedge-nya justru melewati green, dan sekali lagi ia harus mendapatkan bogey, sebelum kembali mencatatkan bogey kelimanya di hole berikutnya. Park Sunghyun dan Nelly Korda pun mulai mengejar dengan hanya tertinggal satu stroke di belakang Green.

Namun, yang terjadi berikutnya menunjukkan kualitas permainannya. Green kembali bangkit dan mengamankan tiga par berturut-turut, lalu memasukkan putt birdie berjarak empat meter menurun di hole 16. Dua par di dua hole terakhir memastikan kemenangan fenomenalnya.

Bahwa kemenangan ini terjadi ketika dua penerima Webb Scholarship, Becky Kay dan Grace Kim, juga ikut berada di Hazeltine, jelas menjadi sangat istimewa. Green sendiri menjadi bagian dari program ini pada tahun 2015 silam. Kala itu ia bersama dengan pegolf legendaris Australia tersebut pada U.S. Women’s Open dan belajar banyak darinya.

Selain itu, kehadiran sang kekasih, Jarryd Felton, yang juga pegolf profesional menjadi sangat penting baginya. Green merasa sangat kesulitan mengatasi kesendiriannya bermain di LPGA. Namun, Felton melepas komitmennya untuk bermain dan menemani Green.

Kemenangan ini jelas memberi pertanda bahwa Hannah Green kini telah menjejakkan kakinya di antara para pegolf kelas dunia!

Leave a comment