Dustin Johnson membuktikan dirinya sanggup menjuarai ajang Major sembari menorehkan rekor di Augusta National.

Oleh Raka S. Kurnia, GolfinStyle

Seperti halnya mereka yang pertama kalinya memenangkan ajang Major, emosi Dustin Johnson pun tumpah ruah. Kemenangan sensasional pada hari Minggu (15/11) waktu Augusta membuka pintu-pintu emosi tersebut.

”Ini mimpi yang menjadi kenyataan. Ketika masih kecil saya selalu bermimpi untuk menjadi Juara Masters,” ujar Johnson di tengah lapangan ketika Amanda Balionis dari CBS mewawancarainya. ”Tapi ini sungguh luar biasa, seperti yang bisa terlihat.” Ia sempat memberi kredit kepada tim yang selalu mendukungnya, namun persis sampai di situlah ia bisa mengungkapkannya dengan kata-kata.

”Sulit sekali saya mengungkapkannya. Mungkin saya mahir di lapangan, tapi tidak untuk urusan ini.”

Namun, jelas emosi dan air mata adalah hal yang wajar untuk diekspresikan, terutama di Augusta National. Tiger Woods melakukannya. Bubba Watson melakukannya. Dan sebagian besar mereka yang pertama kali memenangkan Major juga meluapkan emosi dan air matanya.

 

Dalam konteks Johnson, yang menjelang Masters Tournament menyandang 23 gelar PGA TOUR termasuk satu gelar Major, emosi itu bisa dipahami. Sampai ketika ia memenangkan U.S. Open 2016 itu, kariernya yang gemilang selalu terasa kurang lantaran belum memenangkan Major. Johnson jelas tidak ingin menjadi pegolf tersukses yang tak pernah memenangkan Major. Dan kemenangan kali ini menciptakan sejarah baru dalam kariernya, dan dalam catatan sejarah golf dunia.

Sulit mempercayai bahwa Masters Tournament kali ini menjadi gelar Major kedua dalam kariernya. Terlebih mengingat sejumlah momen yang semestinya memberinya lebih dari hanya dua gelar. Nick Piatowski dari Golf.com menggambarkan bagaimana Johnson sebenarnya berkali-kali nyaris melakukannya. Dari keunggulan tiga stroke menuju putaran final U.S. Open 2010, lalu bagaimana ia menaruh club-nya di area yang dianggap sebagai bunker pada PGA Championship 2015, dan bagaimana ia menjadi unggulan pada Masters Tournament 2017 sampai harus tergelincir dari tangga dan terpaksa mundur.

Namun, semua peristiwa nyaris tersebut membuat kita bisa memahami semua emosi yang tertumpah.

 

 

”Saya kesulitan ketika berbicara dengan Amanda (Balionis) karena kemenangan ini begitu berarti buat saya. Gelar ini sangat berarti untuk keluarga saya, Paulina (Gretzky), anak-anak. Mereka tahu kalau gelar ini selalu saya impikan dan membuat saya berlatih sangat keras. Saya pikir karena akhirnya bisa mewujudkannya, Anda semua bisa melihat seluruh emosi (saya).”

Memang, kemenangan ini sangat berarti bagi pegolf No.1 Dunia ini. Selain karena gelar Masters pertamanya dalam sepuluh penampilannya di Augusta National, Johnson akhirnya membuktikan bahwa ia sanggup menjadi juara Major ketika menjadi pimpinan klasemen saat memulai putaran final.

Jelas ada kekhawatiran bahwa sekali inipun ia bakal mengalami kegagalan. Meskipun unggul empat stroke dari duo yang membela Tim Internasional pada Presidents Cup tahun 2019 lalu, yaitu Cameron Smith (Australia) dan Im Sungjae (Korea), Johnson hanya bisa membukukan 1-under di sembilan hole pertama lantaran mencatatkan tiga birdie dan dua bogey. Sementara itu, Smith berhasil mengejar ketinggalannya menjadi hanya berjarak dua stroke setelah membukukan empat birdie dan sebuah bogey di sembilan hole pertamanya.

”Sepanjang hari ini terjadi pertarungan, pertarungan internal dalam diri saya,” ujar Johnson.

”Saya membuktikan bahwa saya bisa menyelesaikan dengan baik pada hari Minggu ketika memimpin dalam sebuah ajang Major, ….”

Pertarungan internal yang kemudian berhasil ia menangkan. Dalam sembilan hole berikutnya, dengan Smith yang seakan menjadi mesin yang mulai kehabisan gas dan Im yang tak kunjung cukup memberi tekanan, Johnson menambah tiga birdie lagi di hole 13, 14, dan 15 yang kian memperbesar jarak dengan dua pesaing terdekat yang bermain bersamanya dalam satu grup. Dan ketika ia berdiri di tee hole 18, Johnson tahu bahwa ia sudah pasti meraih kemenangan.

”Saya membuktikan bahwa saya bisa menyelesaikan dengan baik pada hari Minggu ketika memimpin dalam sebuah ajang Major, terutama dalam kondisi yang berat. Lapangan terasa sangat sulit hari ini. Ada keraguan dalam benak saya karena saya pernah mengalaminya. Saya sering berada dalam posisi ini. Saya bertanya-tanya, ’Kapan saya bisa memimpin dan menuntaskan dengan kemenangan dalam ajang Major?’”

Pertanyaan itu terjawab. Dengan skor 65-70-65-68 memberinya Jaket Hijau, plus sebuah catatan bersejarah. Skor total 20-under 268 menjadi skor kemenangan terbesar dalam sejarah Masters Tournament.

Rasanya sulit mempercayai bahwa Johnson sedemikian gemilang, terutama ketika melihat betapa berantakan permainannya ketika melakukan eksibisi pada ajang TaylorMade Driving Relief pada bulan Mei, jelang kembalinya kompetisi PGA TOUR pada bulan Juni. Jelas ia sadar bahwa dengan permainan kala itu ia takkan bisa menjadi penantang dan menambah koleksi gelarnya.

Performanya pun berubah drastis. Pada bulan Juni 2020 lalu, ia menjuarai Travelers Championship sebagai gelar pertamanya tahun 2020 ini. Lalu ia menciptakan rekor fenomenal ketika menjuarai THE NORTHERN TRUST dengan skor total 30-under 254 dan kemenangan 11 stroke atas Harris English. Lalu ia menuntaskan kalender FedExCup 2019-2020 dengan menjuarai FedExCup usai memenangkan TOUR Championship. Dan Masters Tournament menjadi puncak prestasinya tahun 2020 ini.

”Senang bisa memegang keunggulan dan main bagus pada hari Minggu, lalu kemudian menang. Saya sangat senang, dan saya pikir saya cukup keren mengenakan warna hijau (Jaket Hijau).”

”Saya bermimpi memenangkan banyak Major. Hanya saja hal itu belum terwujud. Semoga satu kemenangan ini akan membantu saya meraih mimpi itu. Senang bisa memegang keunggulan dan main bagus pada hari Minggu, lalu kemudian menang. Saya sangat senang, dan saya pikir saya cukup keren mengenakan warna hijau (Jaket Hijau),” tandas Johnson.

Lalu ada pula hal menarik lain dari kemenangan Johnson kali ini. Austin, adik Johnson menjadi bagian dari kemenangan sang kakak. Sejak mendampingi sang kakak pada tahun 2013, Austin telah ikut berkontribusi dalam 18 kemenangan sang kakak, termasuk pada Masters Tournament kali ini. Austin menjadi sosok kedi ketiga yang memiliki hubungan darah dengan pemain yang meraih kemenangan di Augusta National. Yang pertama ialah putra Jack Nicklaus, Jack II, yang mendampingi sang ayah ketika menjuarai Masters 1986 dallam usia 46 tahun. Lalu yang kedua terjadi tahun 2018 ketika Kessler Karain, saudara ipar Patrick Reed, mendampingi Sang Kapten Amerika meraih kemenangan.

Rekor-Rekor Dustin Johnson pada Masters Tournament 2020

  • Memecahkan rekor 72 hole dengan skor total 20-under 268. Rekor sebelumnya, 270, dipegang oleh Tiger Woods (1997) dan Jordan Spieth (2015).
  • Rekor putaran under par ke-11 secara berturut-turut pada Masters Tournament, memecahkan rekor Tiger Woods yang tercipta pada putaran ketiga tahun 2000 hingga putaran final tahun 2002.
  • Menjadi pegolf No.1 Dunia pertama yang menjuarai Masters Tournament setelah Tiger Woods pada 2002.
  • Menjadi pegolf No.1 Dunia pertama yang menjuarai ajang Major sejak Rory McIlroy pada PGA Championship 2014.
  • Menjadi pegolf No.1 Dunia pertama yang meraih kemenangan PGA TOUR sejak memenangkan TOUR Championship 2020.

Senjata Dustin Johnson dalam Menaklukkan Augusta National
Sebagai duta TaylorMade, Johnson memaksimalkan seluruh perangkat yang diberikan oleh sponsornya tersebut. Inilah isi tasnya pada 12-15 November yang sangat berkesan ini.

Driver: SIM 10,5°
Fairway: SIM Max 15,0° dan SIM Max 21,0°
Iron: P730 3-PW
Wedge: Milled Grind 2 52° dan 60°
Putter: Spider Tour IB Limited
Bola: TP5X #1

1 Comments

Comments are closed.