Ariya Jutanugarn mengakhiri tiga tahun tanpa gelar dengan kemenangan emosionalnya pada Honda LPGA Thailand.

Dalam putaran final yang diwarnai dengan persaingan ketat serta penundaan akibat cuaca, plus skor rendah dan tersandungnya sosok yang tampil dominan dalam tiga hari terakhir, Honda LPGA Thailand akhirnya dimenangkan oleh pegolf tuan rumah. Bukan Patty Tavatanakit, bukan pula Atthaya Thitikul, melainkan Ariya Jutanugarn.

Jutanugarn menampilkan permainan luar biasa pada putaran final di Siam Country Club hari ini (9/5). Bermain dua grup di depan trio Tavatanakit-Thitikul-Caroline Masson, mantan pegolf No.1 Dunia itu membukukan enam birdie di sembilan hole pertamanya. Lalu ketika ia menambah tiga birdie lagi untuk menorehkan skor terendah sepanjang pekan ini dengan 9-under 63, turnamen harus dihentiikan menyusul kondisi cuaca yang tidak memungkinkan.

Dalam kondisi demikian, satu-satunya pesaing terdekat bagi Jutanugarn ialah remaja sensasional Thitikul, yang setelah birdie di hole 10 menempatkannya di posisi teratas dengan skor 22-under.

Tavatanakit sendiri masih memiliki peluang, meskipun mendapatkan dua bogey di sembilan hole pertamanya. Dengan birdie keempat yang ia bukukan di hole 10, skor 20-under yang ia bukukan dengan delapan hole tersisa jelas masih memberinya banyak kesempatan untuk menyalip Jutanugarn dan memenangkan gelar LPGA keduanya tahun ini.

Celakanya, ia justru mendapat double bogey di hole 12 par 3, hole yang sebelumnya telah memberinya 1-under. Double bogey itu praktis memupus peluangnya untuk memenangkan ajang ini. Dan meskipun menutup putaran final dengan dua birdie di dua hole terakhirnya, ia harus puas dengan finis di posisi T3.

 

 

”Rasanya saya mengatasi segalanya dengan cukup bagus. Sayangnya pukulan saya tidak bagus hari ini. Saya berjuang keras untuk bisa main 2-under lagi. Memang, saya memainkan delapan putaran di Asia dan bermain under pada semua putaran itu. Saya masih cukup bangga pada diri saya,” ujar pegolf berusia 21 tahun yang berniat untuk mengambil jeda dari kompetisi selama beberapa waktu ini.

”Rasanya sangat berarti bisa pulang selama beberapa hari, bertemu pelatih, pacar dan keluarganya, dan juga semua teman-teman saya. … Rasanya saya ingin mengembalikan kekuatan fisik saya kembali.”

Lalu ketika permainan bisa kembali dilanjutkan pukul 16:00, peluang Thitikul untuk mewujudkan gelar LPGA pertama dalam karier profesionalnya yang masih muda, harus pupus. Setelah meraih birdie kelima di hole 10 dan bermain even par di enam hole berikutnya, ia harus mencatatkan satu-satunya bogey di hole 17. Dan dengan kegagalannya menambah birdie di hole terakhir, ia pun harus rela finis sendirian di peringkat kedua. Inilah prestasi terbaiknya selama mengikuti ajang LPGA, baik semasa masih amatir maupun ketika sudah berstatus profesional.

”Ini pengalaman baru bagi saya bisa merasakan nyaris menang. Saya sudah merasa bangga pada diri sendiri karena bisa melakukan yang terbaik semampu saya,” tuturnya. ”(Pagi tadi) saya berkata pada diri sendiri untuk melakukan yang terbaik, fokus pada apa yang bisa saya kendalikan, dan bermain sebaik mungkin serta menikmati tiap momen karena turnamen ini bukan menjadi yang terakhir dalam hidup saya.”

Begitu mengetahui bahwa dirinyalah yang akhirnya meraih kemenangan, emosi Jutanugarn pun meluap. Dalam tangisnya ia tahu bahwa akhirnya ia bisa kembali mengangkat trofi, setelah terakhir memenangkan Aberdeen Standard Investments Ladies Scottish Open 2018.

 

Patty Tavatanakit (kiri) dan Atthaya Thitikul harus puas, masing-masing, finis di posisi T3 dan runner-up. Foto: Thananuwat Srirasant/Getty Images.

 

Sang kakak, Moriya, menemaninya dan, meskipun sempat ingin melihat permainan Thitikul di hole terakhir, Jutanugarn harus menahan dirinya dan berpikir ia harus memainkan play-off.

”Pada dasarnya, saya memberi tahu dia (Moriya) kalau saya bakal ikut play-off. Namun, dia bilang, ’Tidak masalah, saya akan merasa bangga kepadamu.’ Saya sangat ingin melihat bagaimana dia (Thitikul) memainkan hole terakhirnya, tapi kedi saya melarang saya melakukannya, jadi saya tidak melihat permainan siapa pun di hole terakhir,” ujarnya.

Sejak pertama kalinya Honda LPGA diselenggarakan pada tahun 2006, publik Thailand harus menunggu 15 tahun sampai akhirnya bisa menyambut juara dari negeri sendiri. Skor total 22-under 266 milik Jutanugarn ini praktis menjadikannya pegolf Thailand pertama yang memenangkan ajang ini.

Jutanugarn sendiri memiliki kesempatan terbaiknya mewujudkan kemenangan ini tahun 2013. Sayangnya, kala itu ia harus mengakui ketangguhan Park Inbee dan harus puas menempati posisi kedua dan harus bersabar hingga hari ini.

”Saya sudah menunggu lama sampai akhirnya bisa mewujudkannya, jadi saya merasa bangga pada diri sendiri dan merasa sangat senang bisa berada di sini,” tuturnya.

Amy Yang, yang menjadi satu-satunya pegolf yang berhasil memenangkan ajang ini tiga kali pada 2015, 2017, dan 2019, harus puas mencatatkan skor 20-under dan berbagi peringkat ketiga dengan Tavatanakit, Angel Yin, dan Ryu Soyeon.