Musim kejuaraan PGA TOUR berlanjut ke Royal St. George’s dengan kembalinya The Open Championship.

Oleh Jim McCabe.

Dengan upaya yang berani dan keputusan-keputusan yang bijaksana untuk menggelar kejuaraan-kejuaraan golf terkemuka pada masa pandemi tahun 2020 lalu, ada satu bagian besar yang terasa hilang. Itulah The Open Championship.

Tak seperti Masters, yang menggeser turnamennya dari April ke November, atau USGA yang memundurkan U.S. Open dari Juni ke September, ataupun PGA of America yang mengganti kejuaraanya dari Mei ke Agustus, R&A harus mematuhi kebijakan lockdown yang jauh lebih ketat, yang ditentukan oleh pemerintah Britania. Pada akhirnya, keputusan paling bijak ialah membatalkan kejuaraannya.

Inilah pertama kalinya sejak Perang Dunia II (1940-1945, persisnya) kita harus kehilangan Open Championship. Dan tanpa menghilangkan rasa hormat pada Masters, U.S. Open, PGA Championship, THE PLAYERS Championship, dan berbagai turnamen lainnya, dunia golf merasa kehilangan ajang Major tertua, The Open.

Sejarah kejuaraan itu dihormati dan menyebar secara universal.

Sudah tentu tidak selalu seperti itu. Malahan, mengingat sulitnya transportasi pada era 1930-an, 1940-an, dan 1950-an, para pemain tidak selalu berlomba menaiki kapal untuk mengarungi samudra. Ben Hogan malah dikenal hanya bermain sekali pada The Open, yang sudah tentu berakhir dengan kemenangan epik.

Byron Nelson bermain pada 1937, tapi tak pernah bermain lagi sampai 1955, jauh setelah ia pensiun dari kompetisi mingguan pada PGA TOUR.

 

 

Sam Snead tak pernah mendekatkan dirinya kepada para penggemar di Britania. Tidak pada kunjungan pertamanya (1937, T11), tidak juga pada kunjungan keduanya ketika ia menang di St. Andrews tahun 1946 dan meremehkan lapangan itu kepada wartawan mana pun yang kemudian mengutip perkataannya. Tahun 1960, Snead dan Arnold Palmer menjuarai Canada Cup di Irlandia, tapi Snead tak membuat keadaan lebih baik bagi dirinya. Ketika ditanya apakah ia akan bermain pada The Open Championship, ia menjawab tidak.

”Lihat ya, saya bisa menang US$3.500 jika mengikuti British Open,” ujarnya. ”Namun, ada US$9.000 untuk pemenang di British. Jadi, apa yang harus Anda lakukan?”

Sesungguhnya, siapa yang peduli pada apa yang bakal dilakukan oleh para wartawan, tapi Snead memilih bermain pada Buick Open, finis di posisi ke-9 dan mendapatkan US$1.550. Palmer, yang dikalahkan oleh Kel Nagle, mendapat US$2.520 di tempat kedua pada British Open.

Bicara soal Palmer, ia menjadi nama lain yang mewakili keanehan pada era tersebut. Saat ia menjuarai gelar Masters pertamanya, dari empat kemenangannya, pada tahun 1958, Palmer menjadi komoditi yang hangat, tapi tidak sekali pun ia bakal bermain pada British Open. Sebaliknya, pada akhir Juni dan awal Juli, ia finis di tempat kedua pada Buick Open, menjuarai Long Island Open, lalu bermain pada ajang Rubber City Open dan Insurance City Open.

Semuanya dimainkan pada enam zona waktu dari Royal Lytham St. Anne’s.

Bukannya Palmer dikritik. Begitulah dunia golf pada waktu itu. Bahkan sang juara bertahan harus lolos kualifikasi untuk Open Championship! Jadi turnamen Anda dimulai dengan memperjuangkan hak di antara 350-400 pemain yang mengikuti putaran-putaran kualifikasi.

”Pegolf mana pun yang layak mendapatkan respek harus menyeberangi lautan dan mencoba memenangkan British Open.” — Jack Nicklaus.

Berkat prestasinya, pada tahun 1960 Palmer mendapat haknya untuk bermain pada The Open, mengingat ia telah menjuarai Masters dan U.S. Open dan berpeluang memenangkan Grand Slam.

Ia tidak mewujudkan prestasi itu pada tahun 1960, namun ia menjuarai The Open tahun 1961 dan 1962 dan cukup mengukuhkan suatu kewajiban bahwa The Open merupakan tantangan wajib bagi para pegolf global. Jack Nicklaus bahkan melangkah lebih jauh lagi ketika berujar, ”Pegolf mana pun yang layak mendapatkan respek harus menyeberangi lautan dan mencoba memenangkan British Open.”

Dengan perkataan Nicklaus itu sebagai ukuran, bisa dianggap bahwa para pegolf Amerika telah menuai sukses; 21 pegolf telah berhasil memenangkan lebih dari separuh (persisnya 31) dari 60 gelar Open Championship sejak 1960.

Tom Watson (5), Jack Nicklaus (3), dan Tiger Woods (3) termasuk di antaranya. Namun, daftar pemenang Amerika juga mencakup sejumlah nama besar lainnya, seperti Lee Trevino, Johnny Miller, Tom Weiskopf, David Duval, Phil Mickelson, dan Jordan Spieth.

Anda mencari dekade yang bakal menimbulkan demam Open Championship? Tidak ada yang melampaui era 1970-an, ketika Nicklaus, Trevino, dan Watson masing-masing menang dua kali, dan Weiskopf serta Miller menjadikan delapan kemenangan dari 10 penyelenggaraan bagi Amerika. Dan dua yang tidak mereka menangkan? Gary Player dan Seve Ballesteros menjuarainya.

Anda masih butuh alasan untuk mengakui kejuaraan ini? Pertimbangkan bagaimana Peter Thomson dan Bobby Locke, dua juara ikonik dari Australia dan Afrika Selatan, yang masing-masing, menjelajahi dunia dengan perjalanan jauh selama berminggu-minggu hanya untuk menjadi bagian dari kompetisi yang dianggap oleh sebagian besar dunia sebagai ”kejuaraan dunia” sejati.

 

 

Para pegolf dari Jepang dan Amerika Latin telah berkompetisi di sini selama bertahun-tahun. Demikian juga para pegolf Spanyol dan Swedia, Korea dan Kanada, dan para pegolf bahkan bisa dikatakan dari semua bagian di dunia.

Begitu kaya akan sejarah, begitu beragam gaya permainan yang terlihat sangat jarang ditemukan di kalangan golf profesional. Links. Sungguh mudah mendramatisasi rumput lapangannya yang keras, bunker-bunker pot, angin yang menyapu wilayah, green-green yang lebar, dan beragam cara bagaimana bola bisa memantul, terkadang hingga ke area brutal yang nyaris tak bisa dimainkan dan semak-semak, karena beginilah permainan ini diperkenalkan.

Namun, oleh karena tidak begitu banyak lahan links di dunia—Skotlandia, Inggris, Irlandia, dan Australia yang mendominasinya—mayoritas lapangan golf kelas dunia yang menggelar turnamen berada di tengah pulau dan dibangun dengan gaya parkland: pepohonan, rumput yang empuk, sebagian darinya dibiarkan tumbuh tinggi untuk menghalangi para pegolf, permukaan putting dengan slope yang licin.

Pertengahan bulan Juli menawarkan jeda dari rangkaian lapangan parkland, jadi inilah ungkapan syukur akan kembalinya The Open Championship, lapangan links, dan pemandangan memuaskan dari rerumputan coklat. Royal St. George’s, yang merupakan tuan rumah tahun ini, mungkin menjadi lapangan yang tidak begitu menarik dari rangkaian lapangan penyelenggara Open Championship, tapi jangan sampai Anda melewatkannya.

Menyebut lapangan ini hanya merupakan urutan kesembilan dari sepuluh lapangan terbaik untuk Open Championship kurang lebih seakan mengatakan bahwa Anda adalah orang kesembilan dari sepuluh orang terkaya di dunia. Takkan ada yang menolak penghormatan seperti itu.

Sudah tentu tidak ada. Jadi, setelah terpaksa tidak diselenggarakan pada tahun 2020, The Open Championship telah kembali. Inilah golf sebagaimana ia seharusnya dimainkan. Biarkan hasrat itu mengalir.