Jazz Janewattananond telah memainkan iramanya sejak membuat sejarah di kancah Asian Tour. Sukses Kiradech Aphibarnrat menembus PGA TOUR kini menginspirasinya.

Oleh Chuah Choo Chiang, Senior Director Communications PGA TOUR

Nama depannya kerap diimpikan para penulis tajuk utama saking singkatnya. Tapi nama belakangnya kerap membuat lidah melintir, bahkan bagi para announcer olahraga terkemuka, terutama yang berbahasa Inggris. Namun, jelas Jazz Janewattananond menjadi salah satu salah satu bakat muda dan memikat yang paling banyak dibicarakan di kalangan golf dalam 12 bulan terakhir.

Ia mendapat julukan tersebut dari sang ayah, yang menggemari musik jazz. Meski masih 23 tahun, ia jelas telah mencapai ”nada” tinggi dengan menjuarai dua turnamen yang disokong oleh Asian Tour dan Japan Golf Tour, plus sepuluh kali finis di 10 besar.

Kini ia menjelang menembus 50 besar dunia—saat artikel ini disusun, ia berada di peringkat 57. Mereka yang selama ini mengikuti perkembangannya, sejak ia tampil sebagai remaja berusia 14 tahun, pasti yakin bahwa ia memiliki bakat, etika, dan lagak, yang sebenarnya merupakan perpaduan sikap yang rendah hati yang tulus, untuk menjadi bintang rock-nya golf berikutnya dari Asia.

Hal tersebut terbukti usai ia meraih kemenangan dan mungkin gelar terbesar dalam kariernya pada ajang SMBC Singapore Open bulan Januari 2019. Kala itu, ia mengalahkan para peserta yang, di antaranya, terdiri dari Sergio Garcia dan Paul Casey. Sehari setelah kemenangan itu, ia langsung menuju ke pusat kebugaran dan practice range di kota kelahirannya, Hua Hin, lantaran ia hanya ingin meningkatkan permainannya.

”Saya pulang, makan malam dengan keluarga, dan kemudian keluar untuk berlatih,: ujar Jazz, yang aslinya bernama depan Atiwit.

Dedikasi yang seperti itulah yang membuat pria Thai dengan penampilan yang kekanak-kanakan ini melangkah ke jajaran atas dunia, bahkan memukau Kapten Tim Internasional Presidents Cup Ernie Els.

”Saya bermain dengannya di Malaysia dan benar-benar terkesan dengna permainannya, sangat terkendali, putter-nya bagus, dan tingkah lakunya juga bagus,” tutur pegolf berjulukan Big Easy itu.

”Kalau saya finis terlalu bagus, saya mungkin jadi malas, saya bakal berpikir saya pemain jago. (Hasil di Bethpage Black) itu membuat saya merendahkan hati.” – Jazz Janewattananond

Finis T14 pada U.S. PGA Championship di Bethpage Black, bulan Mei 2019 lalu, ketika ia memasuki putaran final di posisi T2, meninggalkan kesan kepada para penggemar di AS, bahwa Jazz punya potensi. Termasuk membuat banyak orang berusaha untuk melafalkan namanya!

Belakangan pada bulan Agustus itu, ia finis dua posisi di luar 8 besar, yang secara otomatis mendapat tempat dalam skuad Els dalam menghadapi Tim AS di The Royal Melbourne Golf Club, Australia, bulan Desember 2019 mendatang. Jika seandainya ia tak menjadi satu dari empat pilihan kapten, banyak yang yakin ia bakal jadi bahan perbincangan untuk Presidents Cup untuk tahun-tahun ke depan.

Ia tumbuh sebagai anak yang kurus. Olahraga pertamanya ialah renang. Ketika anak-anak lainnya melampaui dia dalam pertumbuhan dan di kolam renang, ia berusaha untuk main sepakbola, tapi langsung menyerah karena kerap kali tertendang dan kalah fisik.

Barulah kemudian ia mencoba golf setelah ayahnya, seorang hakim di Thailand, mendorongnya untuk mencoba memukul bola.

”Teman-teman ayah dari luar negeri berkunjung dan mereka bermain golf. Saya ingat ikut naink ke buggy dan ingin menyetir, tapi ayah menyuruh saya untuk mulai memukul bola,” tutur Jazz, yang kini berpostur 1,75 m dan 68 kg.

”Saya mulai memukul bola ketika berusia 8 tahun dan mulai ikut turnamen satu hari. Saya suka aspek kompetisinya dan terus berlatih dan permainan saya pun jadi makin bagus.”

Ia menorehkan catatan sejrah pada ajang Asian Tour International 2010 di negerinya, ketika menjadi pegolf termuda dalam usia 14 tahun yang lolos cut off pada sebuah ajang Asian Tour. Setelah ini ia mulai berpikir untuk menempuh karier golf profesional, meskipun ia tumbuh di lingkungan keluarga yang telah meraih sejumlah prestasi.

Tahun 2019 ini menjadi tahun fenomenal bagi Jazz Janewattananond. Setelah menjuarai SMBC Singapore Open, ia meraih gelar Kolon Korea Open untuk memuncaki Asian Tour Habitat for Humanity Standings 2019. Foto: Asian Tour.

”Kakak-kakak dan sepupu-sepupu saya adalah dokter, atau sedang belajar untuk menjadi dokter. Ada sekitar 10 dokter atau hakim di keluarga saya … kecuali saya. Sepertinya saya satu-satunya yang aneh,” ujarnya sambil tertawa.

Dengan restu kedua orangtuanya, Jazz pun beralih profesional sehari setelah berusia 15 tahun. Ia pun mengukuhkan posisinya di sirkuit lokal di Thailand dan Asian Tour. Dengan pendampingan dari ibunya tatkala menempuh perjalanan ke luar negeri, yang diwajibkan secara hokum, ia lekas meraih sejumlah kesuksesan. Ia sempat sepuluh kali finis di sepuluh besar, sebelum akhirnya kehilangan kartu Asian Tour pada akhir musim 2016.

Kegagalan itu mendorong Jazz untuk memasuki biara Budha selama dua pekan. Di sana ia belajar menjadi seorang biksu. Hal ini merupakan ritual yang lumrah di kalangang para pemuda Thai, sebagai bukti penghormatan kepada kedua orangtua mereka.

Beberapa bulan kemudian pada Bangladesh Open 2017, Jazz menemukan irama kemenangan dengan meriah gelar Asian Tour pertama. Ia pun menyebut keberadaannya di biara selama dua pekan ikut memberi keberhasilan ini.

”Saya berdoa dan membaca mantra tiap hari di kuil. Saya merasa sangat damai. Sebelumnya, golf merupakan segalanya, tapi sekarang saya sudah senang hanya bisa ikut bermain dalam sebuah turnamen,” ujarnya.

Utamanya, impiannya ialah mengikuti jejak Kiradech Aphibarnrat di PGA TOUR, tapi ia siap untuk bersabar.

Jazz Janewattananond kini berpeluang besar menjadi pegolf No.1 Asian Tour pada musim 2019 ini. Foto: Asian Tour.

”Itu target saya … semoga bisa terwujud dalam waktu dekat,” ujarnya. ”Kiradech merupakan inspirasi bagi saya. Saya tinggal Bersama dia pada The Open tahun lalu, menjadi dekat dengannya dan berlatih dengannya. Dia pegolf Thailand pertama di PGA TOUR dan dia selalu berkata kalau saya pun bisa menjadi seperti dia. Ada banyak pegolf muda yang mulai bermain golf karena dia. Dia seperti kakak bagi saya dan mengajari banyak hal.”

Sebagai pemain muda, Jazz bermimpi untuk bisa bermain sebaik yang ia bisa, dan tak ragu untuk menghabiskan waktu berjam-jam di practice range untuk mencapai tujuan akhirnya.

”(Berlatih) itu tugas aya, hidup saya, dan saya menikmatinya,” ujarnya. ”Saya akan melakukan hal ini sepanjang hidup saya. Saya ingin menjadi pemain reguler pada PGA TOUR, bermain tiap pekan. Ke sanalah saya ingin menuju.”

Sebagian orang mungkin menilai penampilannya pada U.S. PGA Championship itu mengecewakan lantaran ia terlempar dari puncak klasemen usai bermain 77 pada hari terakhir, toh ia menyikapinya dengan tenang.

”Hasil yang saya peroleh adalah sesuatu yang positif karena saya masih berusia 23 tahun, yang bermain dalam ajang Major kedua,” ujarnya kepada para wartawan.

”Kalau saya finis terlalu bagus, saya mungkin jadi malas, saya bakal berpikir saya pemain jago. (Hasil di Bethpage Black) itu membuat saya merendahkan hati. Sekarang saya tahu kalau saya perlu berlatih lebih keras.”

Dan ia sama sekali tidak takut melakukan kerja keras itu. Ia kini tengah berupaya mengguncang tatanan golf dunia.