Justin Thomas kembali ke No. 1 Dunia berkat kemenangannya pada WGC-FedEx St. Jude Invitational.

Dua tahun silam, Justin Thomas menjuarai gelar World Golf Championships (WGC) pertamanya. Itulah gelar PGA TOUR kesembilan dalam kariernya. Dan pada hari Minggu (3/8) lalu, ia memenangkan gelar WGC kedua pada WGC yang sama dengan nama yang berbeda. Jika tahun 2018 itu ia menjuarai WGC-Bridgestone Invitational, kali ini ajang itu telah berganti nama menjadi WGC-FedEx St. Jude Invitational.

Kemenangan kedua ini pun menjadi istimewa lantaran untuk kedua kalinya dalam kariernya, pegolf bernama lengkap Justin Louis Thomas ini kembali berstatus pegolf No.1 Dunia menurut Official World Golf Ranking.

Thomas memainkan putaran final dengan tertinggal empat stroke dari pimpinan klasemen Brendon Todd. Enam birdie dan satu bogey kemudian, Thomas mengakhiri kejuaraan ini dengan skor total 13-under 267, tiga stroke lebih baik daripada sang juara bertahan Brooks Koepka, Daniel Berger, Tom Lewis, dan Phil Mickelson.

Kembali ke No.1 Dunia
Performa Thomas selama ini memang terbilang sangat mengagumkan. Total 13 gelar PGA TOUR yang ia raih jelas menjadi gambaran kapasitasnya sebagai pegolf elite dunia. Setelah mempertahankan gelar CIMB Classic pada tahun 2016 di Malaysia, ia menjuarai setidaknya dua turnamen setiap tahunnya. Keberadaannya sebagai pegolf No.1 Dunia pun seakan hanya menunggu waktu.

Impian tersebut tercapai untuk pertama kalinya seusai bertanding di TPC Sawgrass pada ajang THE PLAYERS Championship 2018. Kala itu ia memang tidak menang. Ia hanya finis di peringkat T11, tapi posisi tersebut sudah cukup baginya untuk menggeser Dustin Johnson, yang kala itu telah memegang posisi tersebut selama 64 pekan berturut-turut.

”Saya sangat bangga bisa berada di posisi ini, tapi jauh lebih berarti bagi saya untuk mempertahankan posisi ini lebih lama lagi,” ujarnya kala itu.

Toh ia akhirnya hanya bertahan selama empat pekan. Posisinya kembali digeser oleh Dustin Johnson, yang kala itu berhasil finis di tempat ketiga pada U.S. Open.

Lalu, 96 pekan kemudian, Thomas kembali ke posisi teratas OWGR tersebut. Kali ini dengan menggeser pegolf Spanyol Jon Rahm. Pertanyaan serupa pun mengemuka: berapa lama ia akan bertahan di posisi tersebut?

 

 

Catatan Fenomenal
Terlepas dari pencapaian istimewa kali ini, alumnus University of Alabama ini menunjukkan konsistensi yang luar biasa dalam karier profesionalnya. Sejak menjuarai Major pertamanya pada U.S. PGA Championship 2017, Thomas tak pernah keluar dari zona 10 besar ranking dunia.

Sepekan sebelum meraih Major pertama itu, ia berada di peringkat 14. Kemenangan melambungkan peringkatnya menjadi No.6 Dunia. Hingga kembali menempati takhta teratas OWGR itu, peringkat terburuknya hanyalah berada di peringkat 10 setelah finis T12 pada ajang The Northern Trust 2019.

Catatan menarik lainnya ialah bahwa Thomas cukup akrab dengan mengulang prestasi kemenangan. Setelah meraih gelar perdananya di Malaysia tahun 2015, ia mempertahankan gelarnya itu setahun kemudian.

Ia kemudian meraih dua kemenangan lainnya pada turnamen yang sama, meskipun kali ini tidak secara berturut-turut. Setelah menjuarai gelaran perdana THE CJ CUP @ NINE BRIDGES tahun 2017, ia memenangkan turnamen ini dua tahun kemudian.

Dan hari Minggu lalu merupakan kedua kalinya ia menjuarai turnamen World Golf Championships, meskipun kali ini dipertandingkan dengan nama yang berbeda.

Termuda Setelah Woods dan Nicklaus
Prestasinya pekan lalu juga memiliki catatan lain yang tak kalah membanggakan. Dengan gelar ke-13 kali ini, Thomas menjadi pegolf termuda ketiga yang pernah memenangkan gelar sebanyak itu sejak 1960. Ia berada di belakang Tiger Woods dan Jack Nicklaus.

Woods berusia 23 tahun, 9 bulan, dan 24 hari ketika meraih gelar ke-13 pada ajang Walt Disney World 1999. Adapun Nicklaus berusia 25 tahun, 2 bulan, dan 21 hari ketika menjuarai Masters Tournament 1965. Thomas sendiri berusia 27 tahun, 3 bulan, dan 4 hari ketika meraih kemenangan di Memphis hari Minggu kemarin. Ia berusia sebulan dan 17 hari lebih muda daripada Rory McIlroy.

Yang jelas, dengan tersisa dua turnamen dari musim reguler, Thomas hampir pasti memasuki rangkaian FedExCup Playoff sebagai pimpinan klasemen pada daftar peraih poin FedExCup.

Tapi seberapa lama dia bakal menjadi pegolf No.1 Dunia? Kita lihat saja.