Mencapai No.1 Dunia, berganti perangkat, dan menang. Rose memulai 2019 dengan meyakinkan untuk mengejar lebih banyak kesuksesan lagi.

Sepanjang sejarah, kita telah mengenal sejumlah nama yang melakoni eksistensinya sebagai duta besar bagi olahraga golf. Almarhum Arnold Palmer masih akan selamanya kita sebut sebagai Sang Raja, The King, berkat peran serta aktifnya mengubah wajah golf pada masanya.

Tiger Woods pun pantas menyandang status sebagai duta besar. Woods tak hanya mengubah wajah PGA TOUR, tapi juga membuat olahraga ini lebih dilirik, bahkan oleh mereka yang tidak menyukai golf.

Tapi Justin Rose adalah sosok yang berbeda, yang layak menyandang status sebagai duta bagi olahraga golf. Pembawaannya yang selalu bersahabat menunjukkan bahwa ia menyadari statusnya tidak semestinya membatasi diri terhadap para penggemarnya atau kepada jurnalis yang mengejarnya, bahkan ketika ia mengalami putaran yang buruk—seperti pada putaran final Indonesian Masters 2018.

Kehadiran Rose di Jakarta dua tahun berturut-turut mungkin tidak lepas dari honor untuk tampil—sesuatu yang sampai saat ini tabu untuk dibicarakan dalam konteks golf Indonesia. Tapi kehadiran dan performa di lapangan menunjukkan ia tidak terikat pada honor tampil hanya untuk menunjukkan kelasnya sebagai peraih medali emas Olimpiade, juara U.S. Open 2013, dan bintang Ryder Cup. Dan jika melihat dalam kacamata Indonesia, Justin Rose menjadi figur yang ikut mengangkat profil golf Indonesia ke kancah dunia.

Justin Rose memamerkan driver Honma TW747 sebagai salah satu andalannya untuk meraih kesuksesan lebih besar lagi pada tahun 2019 ini. Foto: Honma Golf.

Lee Westwood juga melakukannya pada 2011 dan 2012. Tapi, kita harus jujur, keduanya memiliki kepribadian yang sangat berbeda. Rose jelas lebih disukai oleh publik berkat keramahannya, salah satu tolok ukur penting seorang duta olahraga.

Rose sendiri tampaknya memahami pentingnya mengembalikan popularitas olahraga golf. Jauh sebelum melakukan tugas serupa di Indonesia, Rose berkali-kali menyuarakan pentingnya mendukung kembalinya golf sebagai salah satu olahraga yang dipertandingkan di Olimpiade. Di tengah isu virus zika—virus yang memberi efek mikrosefalus pada bayi yang dilahirkan—yang membuat pegolf No.1 Dunia saat itu Jason Day, Dustin Johnson, Rory McIlroy, dan Jordan Spieth memutuskan absen, Rose menjadi salah satu yang antusias.

”Ketika tumbuh dewasa, Anda takkan pernah mengira bahwa kata ’golf’ dan frasa ’emas Olimpiade’ bisa diucapkan dalam satu kalimat. Tapi ketika (kembalinya golf ke Olimpiade) diumumkan, entah bagaimana beberapa tahun lalu itu, saya selalu menjadi sagat bersemangat mengenai prospek ini dan selalu berharap ranking saya bakal cukup untuk ikut bersaing,” ujar Rose.

Keputusan itu tepat. Ia menghadirkan partai epik dengan Henrik Stenson untuk akhirnya meraih medali emas, sesuatu yang bernilai bahkan melampaui kemenangan U.S. Open. Dan kapan pun Anda menanyakan perihal Olimpiade tersebut, Rose pasti akan dengan senang dan bangga menuturkannya!

Justin Rose dengan senjata baru yang mulai ia gunakan pada awal tahun 2019. Foto: Honma Golf.

Tahun 2019 Bersama Honma
Indonesian Masters 2018 lalu menjadi turnamen terakhir Rose bersama TaylorMade. Santer diberitakan sejak November 2018, Rose akhirnya mengumumkan secara resmi peralihannya dari TaylorMade ke Honma.

Keputusan yang berani, mengingat publik masih ingat kasus Rory McIlroy pada 2013 lalu. McIlroy yang saat itu juga berstatus No.1 Dunia, mengikat kontrak eksklusif dengan Nike, untuk kemudian melakoni semester pertama 2013 itu dengan babak belur.

”Tiap produsen akan memberi tahu Anda bahwa mereka bisa meniru club dan mengutak-atik bola golf agar cocok buat Anda. Tapi masih ada aspek feel dan suara juga, dan ada juga urusan kepercayaan diri,” ujar Sir Nick Faldo mengomentari kontrak McIlroy kala itu.

Pelajaran berharga tersebut tampaknya membuat para produsen lebih fleksibel ketika memutuskan mengontrak seorang pemain. Rose sendiri kemudian mengungkapkan bahwa salah satu alasan ialah kebebasan yang diberikan perusahaan legendaris asal Jepang itu terhadap dirinya. Rose bebas memilih kombinasi club-nya selama menggunakan 10 club milik perusahaan asal Sakata, Jepang tersebut—meskipun faktor Mark King, mantan Presiden dan CEO TaylorMade yang bergabung ke Honma pada pertengahan 2018 mungkin menjadi salah satu alasannya.

Rose mengombinasikan driver Honma Tour World 747, fairway wood TaylorMade M6, 2-iron Tour World TW-X Proto, 4-9 iron Tour World Rose Proto, wedge Tour World Rose Proto (47˚, 52 ˚, 56 ˚), wedge Titleist Vokey SM7 prototipe (60 ˚), putter Axis1 Prototype, dan bola TaylorMade TP5.

Honma Golf sengaja mendesain iron Tour World khusus untuk Justin Rose. Foto: Honma Golf.

Rose melakoni debutnya bersama Honma pada ajang Dessert Classic dan finis T34 dengan skor total 14-under 274. Cukup bagus, meskipun tidak cukup untuk menyaingi Adam Long, yang akhirnya meraih kemenangan.

Lalu tibalah ia di Torrey Pines. Dengan saingan, seperti Woods, yang telah berkali-kali menjuarai turnamen di lapangan ini, Rose tampil digdaya dan menyabet kemenangan yang meyakinkan.

Ia menorehkan skor 63-66-69-69 untuk skor 21-under 267. Ini merupakan rekor skor terendah pada Farmers Insurance Open sejak South Course dibuat menjadi lebih sulit pada awal 2000-an. Skor itu dua stroke lebih baik daripada yang diraih Woods pada 2008.

Kemenangan ini berdampak besar dalam kariernya mengawali 2019. Ia pun membungkam banyak pihak yang meragukannya, membuktikan bahwa ia berhasil mengatasi tekanan tersebut.

”Semuanya berjalan dengan lebih baik daripada yang saya harapkan,” ujar Rose.

Saat ini posisinya sebagai No.1 Dunia memang telah digeser oleh Dustin Johnson. Namun, upaya Rose untuk meraih kemenangan-kemenangan, terutama pada level Major masih menjadi misinya. Ia tentu tidak akan puas hanya dengan meraih medali emas Olimpiade Rio 2016 dan U.S. Open 2013. Jelas kita masih bisa berharap banyak kepadanya pada tahun ini.

Leave a comment