Jon Rahm meraih status No.1 Dunia dengan prosesi kemenangan yang mengingatkan pada permainan idolanya, Seve Ballesteros.

Oleh Ben Everill, PGATOUR.COM

Perjalanan Jon Rahm dalam putaran final untuk memastikan kemenangan pada Memorial Tournament presented by Nationwide adalah perjalanan yang turun-naik. Pegolf Spanyol ini menunjukkan permainan yang benar-benar bergaya Spanyol dan melakukan berbagai pukulan short game yang sulit, mengalami penalti dua stroke, dan melihat bagaimana keunggulan besar yang ia miliki menguap.

Meski demikian, Seve Ballesteros, sosok idolanya, pasti akan bangga melihat permainan Rahm. Dan percaya atau tidak, meskipun permainannya membuat deg-degan, Rahm takkan meraih kemenangan ini dengan cara yang berbeda.

Ia memang berkesempatan untuk mempertahankan keunggulan delapan stroke atas Ryan Palmer, yang juga merupakan rekannya ketika bertanding pada ajang Zurich Classic of New Orleans, di sembilan hole terakhir di Muirfield Village itu. Dengan demikian, dia bisa melenggang kangkung untuk meraih kemenangan. Tapi apa serunya bermain seperti itu?

Ballesteros terkenal sebagai seorang maestro ketika permainan menjadi makin sulit. Ia kerap menemukan cara untuk keluar dari problem di lapangan. Dan Rahm membutuhkan sihir yang kurang lebih sama pada hari Minggu nan brutal itu, yang memaksa para pemain harus bertanding di tengah embusan angin yang kencang.

Pegolf berusia 25 tahu itu pun harus mendapati keunggulan delapan stroke itu menjadi hanya tiga stroke ketika ia dan Palmer berdiri di tee hole 15. Kondisinya berantakan, momentumnya tampaknya pun hilang. Jelas ia tak mungkin membiarkan kesempatan ini lepas … tapi faktanya ia telah mengalami hal tersebut dalam dua kesempatan sebelumnya, ketika ia telah memimpin dalam 54 hole.

 

 

Tapi meskipun akurasi pukulan approach-nya tak kunjung kembali, Rahm tetap fokus. Ia menolak untuk menyerah pada keadaan dan melakukan up-and-down untuk mencatatkan par di hole 15, 17, dan 18. Dan pukulan chip-in yang awalnya ia kira birdie di hole 16 itu kemudian menyebabkan ia terkena penalti dua stroke.

Saat itu, Rahm tak sengaja membuat bola bergerak ketika ia melakukan address. Celakanya, ia tidak mengembalikan bola ke posisi semula sehingga ia harus mencatatkan bogey. Untunglah perkara ini tidak cukup berarti. Sihirnya masih berlaku cukup lama untuk memberinya keunggulan tiga stroke dan gelar PGA TOUR keempat dalam kariernya. Teristimewa lagi, kemenangan ini ikut membawanya ke puncak dunia, sebagai pegolf No.1 Dunia. Rahm menjadi pegolf Spanyol kedua setelah Ballesteros yang meraih status ini.

”Ini salah satu performa terbaik dalam hidup saya,” ujar Rahm setelah memastikan kemenangan. ”Putara ketiga kemarin mungkin merupakan putaran terbaik dalam hidup saya dan bisa finis hari ini dengan sejumlah up-and-down. Dan sebagai seorang Spanyol, saya senang bisa menang dengan cara seperti ini. Tiap pukulan menjadi sangat berarti, dan saya mencoba semua pukulan dan berhasil melakukan up-and-down di dua hole terakhir, seperti layaknya seorang Spanyol sejati.

”Short game saya benar-benar sulit dipercaya sepanjang pekan ini. Semuanya berjalan dengan baik, dan saya nyaris beberapa kali melakukan chip-in. Anda mungkin sering mendengar ungkapan bahwa seorang juara akan menciptakan kesempatannya, dan pada titik ini, saya berhasil mewujudkannya.”

Meski demikian, Rahm mengakui hal serupa mungkin takkan terjadi sebelumnya. Emosi memainkan peranan besar dalam olahraga ini dan pada beberapa kesempatan sebelumnya, emosi itulah yang menggagalkannya. Tapi kini, meskipun ia bakal merayakan kemenangan ini dengan menyaksikan film anak-anak bersama sang istri, Rahm mengaku lebih dewasa. Ia telah menemukan cara untuk tumbuh dewasa dan menyalurkan emosinya untuk hal yang positif.

”Saya tipe orang yang, sayangnya, sangat sadar kalau saya belajar dari kesalahan. Saya melakukan sesuatu, secara konyol ataupun tidak. Saya akan melakukan sesuatu dan belajar dari hasilnya, baik ataupun buruk,” jelasnya.

”… segala sesuatu terkait golf yang saya lakukan ialah untuk menjadi No.1 Dunia dan menjadi pegolf terbaik sebisa mungkin. Sulit dipercaya target itu tercapai secepat ini ….” — Jon Rahm.

”Untungnya, saya cukup mampu untuk belajar dari kesalahan dan acap kali bisa menjadi lebih baik dan hari ini menjadi bukti yang nyata. Saya bisa saja kalah dalam banyak kesempatan. Mungkin saya yang sebelumnya akan kalah, tapi tidak untuk kali ini. Saya terus berjuang. Saya tahu perlu ada perjuangan ekstra, dan sungguh menjadi kehormatan tersendiri untuk bisa menjadi juara ajang Memorial Tournament presented by Nationwide dan menjadi bagian dari warisan Jack (Nicklaus).”

Rahm juga turut melambungkan posisinya ke peringkat delapan FedExCup. Tapi ia justru mengaku masih kaget dengan fakta bahwa ia kini berada di peringkat teratas dunia. Dia tak pernah segan-segan mengungkapkan bahwa No.1 Dunia merupakan target besarnya. Padahal sebelumnya, ia juga mengaku ketika kesempatan tersebut ada di depannya, hal itu justru memengaruhi permainannya.

”Saya sudah membuat kesepakatan pada diri sendiri ketika masih sangat muda, mungkin ketika berusia 13 atau 14 tahun, untuk mengupayakan target ini. Dan segala sesuatu terkait golf yang saya lakukan ialah untuk menjadi No.1 Dunia dan menjadi pegolf terbaik sebisa mungkin,” ujar Rahm yang menggeser posisi Rory McIlroy.

”Sulit dipercaya target itu tercapai secepat ini, tak sampai sepuluh tahun. Berapa banyak orang yang bisa meraih impiannya dalam usia pertengahan 20-an? Ini luar biasa. Menjadi orang Spanyol, orang Spanyol kedua yang melakukannya, apalagi mengingat tak banyak pegolf Eropa yang bisa meraih posisi ini, memberikan sensasi yang unik, jadi saya akan menikmatinya untuk sementara waktu.”

Nikmatilah pencapaian yang Anda raih dengan gaya Spanyol ini, Rahm!