Jazz Janewattananond berniat memanfaatkan debutnya pada World Golf Championships-Mexico Championship untuk melambungkan posisinya di jajaran elite pegolf dunia.

Empat gelar di Asia pada musim 2019 telah berhasil membawa Jazz Janewattananond menembus jajaran 50 besar pada Official World Golf Ranking. Kini pegolf berusia 24 tahun ini bersiap untuk melangkah lebih jauh lagi. Bekalnya yang mumpuni itu turut ditambah dengan bimbingan pelatih swing kenamaan asal Inggris, Pete Cowen.

Jazz sadar bahwa ada banyak hal yang harus ia lakukan untuk bisa bersaing dengan para pegolf terbaik di dunia. Ia sudah mengalaminya sendiri pada sesi Asian Swing PGA TOUR bulan Oktober tahun 2019 lalu.

“Saya amat bersemangat bisa bermain dalam turnamen-turnamen besar ini. Saya selalu menyaksikan mereka di TV dan kini bisa bermain bersama mereka. Anda bermain menghadapi para pemain terbaik di dunia dan menempatkan diri sendiri di antara mereka. Saya hanya ingin melihat seberapa jauh perbedaan saya dengan mereka untuk mengetahui seberapa banyak peningkatan yang harus saya lakukan,” tutur Jazz, kini No.39 di dunia.

Setelah finis di jajaran bawah, baik pada ajang THE CJ CUP @ NINE BRIDGES di Korea dan ZOZO CHAMPIONSHIP di Jepang, Jazz seakan diingatkan kembali akan perbedaan kemampuannya dengan para pemain terbaik dari PGA TOUR. Pete Cowen kemudian menjadi tempat baginya untuk mendapatkan saran dan bimbingan untuk melangkah lebih jauh.

“Mereka benar-benar tangguh. Set-up lapangannya sudah susah, tapi mereka bisa mengatasinya. Saya hampir berada di peringkat paling bawah pada THE CJ CUP. Makanya saya langsung mencari Pete. Dia benar-benar apa adanya, meskipun tidak secara langsung. Ia mengingatkan saya agar tidak memikirkan hasil tersebut. Dia bilang bahwa saya datang untuk bersaing, jadi jangan melihat ini dan itu, tapi latihlah permainanmu. Anda datang untuk bermain … jangan jadi terkagum-kagum,” Jazz menuturkan percakapannya dengan sang pelatih.

 

Jazz Janewattananond memenangkan Indonesian Masters sebelum menjuarai Thailand Masters dan menembus ranking 50 besar dunia. Foto: Yongki Hermawan.

 

“Saya juga memberi tahu kalau mereka bisa melakukan sejumlah pukulan tertentu dan dia bilang kalau saya belum siap untuk melakukan pukulan-pukulan tersebut karena teknik saya masih belum cukup. Jadi, ia memberi sejumlah teknik untuk dilatih dan sejak itu saya sudah berlatih dengan keras.”

Dari finis T65 di Korea, Jazz kemudian finis di posisi T57 di Jepang sebelum akhirnya meraih posisi yang jauh lebih baik lagi, T14, pada ajang WGC-HSBC Champions di China. Turnamen di China itu sekaligus menjadi debutnya pada ajang World Golf Championships. Dan ketika kembali bermain pada ajang Asian Tour, ia memenangkan dua turnamen terakhir pada musim 2019 lalu dengan keunggulan lima stroke dan dua skor kemenangan 23-under. Dalam tiap turnamen itu, ia memainkan dua putaran final, masing-masing, 62-65 dan 60-65.

“Pete menjadi landasan sukses saya. Ia memberi banyak arahan, mengingatkan apa yang mesti saya lakukan, dan apa yang mesti saya latih. Sekarang ada arahan dan kami berkomitmen untuk melatihnya. Ada rencana untuk sebuah peningkatan,” ujar Jazz yang kini berstatus No.1 Asian Tour ini.

“Saya sadar kalau saya masih belum mencapai level yang dibutuhkan. Orang-orang mungkin bilang, ‘Oh Jazz, kamu sekarang sudah tangguh, No.1 Asian Tour,’ tapi untuk bisa bersaing tiap pekan dengan para pegolf terbaik dunia, saya mesti meningkatkan tiap bagian dari permainan saya. Saya belajar untuk menjadi lebih kuat secara mental, tapi saya belum berada di level yang cukup. Saat bermain dengan para pegolf dari Tour yang lain, levelnya pun berbeda.

“Saya pikir, ada rasa takut karena tidak mengetahui sesuatu. Tidak tahu apa yang bakal terjadi, tidak tahu berapa skor saya, atau bahkan tak tahu seperti apa pukulan pertama saya. Beberapa pemain tidak memiliki perasaan seperti itu. Kalau tak memiliki rasa takut itu, semuanya bisa menjadi lebih mudah. Anda tinggal memukul bola, lalu melakukan pukulan lainnya, dan memasukkan putt. Jika tak memasukkan putt birdie, mereka mendapatkan par. Hal inilah yang sedang saya latih. Saya masih belum mahir dan saat melihat para pemenang Major dan pemain top, mereka tak terlihat cemas ketika melangkah ke tee box. Tidak ada rasa takut dalam diri mereka.”

Terkadang ketika bermain dalam sebuah turnamen, ketika sepertinya tidak ada jalan keluar, Anda mesti melihat dari sudut yang berbeda … Pengalaman di biara itu menyiapkan saya untuk beberapa hal dalam hidup saya

Meski demikian, Jazz telah memulai tahun 2020 ini dengan sangat solid. Ia finis di jajaran lima besar pada ajang Hong Kong Open, bahkan berada di belakang Matt Kuchar, yang menjuarai SMBC Singapore Open, dan Justin Rose. Hari ini ia bakal tampil di Club de Golf Chapultepec, pada ajang yang menyediakan total hadiah US$10,5 juta, WGC-Mexico Championship, sebagai turnamen PGA TOUR pertamanya tahun ini. Dia juga bakal bermain pada Arnold Palmer Invitiational presented by Mastercard, THE PLAYERS Championship, dan WGC-Dell Technologies Match Play.

Dengan sejumlah kesempatan ini, plus ajang Major, ia juga berharap bisa menempuh jalur yang sama dengan Kiradech Aphibarnrat, yang telah meraih kartu PGA TOUR berkat kategori Non-Member pada tahun 2018.

“Saya berpeluang berada di sana tahun ini. Sekarang saya sudah punya beberapa poin di klasemen FedExCup. Kalau memang terwujud, pasti terwujud. Kalau tidak, ya sudah. Saatnya akan tiba juga nanti,” ujarnya.

Terlepas dari keinginannya untuk terus melambungkan kariernya, Jazz sadar bahwa ia harus tetap bersabar. Pengalamannya di lingkungan biara umat Buddha ia harapkan akan kembali membantunya.

“Di biara, Anda harus melangkah keluar dari kehidupan, dari golf, dari segalanya, dan melihat dengan perspektif yang lebih luas. Anda melihat gambaran yang lebih besar. Terkadang ketika bermain dalam sebuah turnamen, ketika sepertinya tidak ada jalan keluar, Anda mesti melihat dari sudut yang berbeda dan pengalaman di biara itu sangat membantu saya. Pengalaman itu menyiapkan saya untuk beberapa hal dalam hidup saya,” tandasnya.