Pegolf muda asal Thailand Jazz Janewattananond melakukan terobosan besar dalam karier profesionalnya setelah meraih gelar Asian Tour perdana dalam kariernya akhir pekan lalu (4/2). Torehan 4-under 67 yang ia bukukan membuatnya unggul empat pukulan dari pesaing terdekatnya dan membawanya berhasil meraih gelar Bashundhara Bangladesh Open.

Pegolf berusia 21 tahun ini tampil prima dalam empat putaran dengan tak sekali pun menanggalkan posisi teratas. Ia memulai dengan torehan 7-under 64 pada hari pertama dan bermain dengan skor 67 pada hari kedua, yang membuatnya menjadi pimpinan sementara pada putaran kedua.

Laju permainannya sempat menurun pada putaran ketiga. Ia hanya sanggup membukukan dua birdie dan dua bogey di sembilan hole pertamanya. Namun, dua birdie yang ia dapatkan di hole 14 dan 17 membuatnya tetap berada di posisi teratas.

”Putaran ini tak begitu bagus. Saya hanya bisa bermain 2-under. Saya berjuang keras sepanjang putaran ketiga, tapi saya masih mendapatkan akhir yang baik. Pukulan saya tak banyak mendekati hole dan saya tak bisa berbuat banyak. Dan tampaknya rekan main saya pun tak main dengan bagus juga

Pegolf asal India Shubhankar Sharma yang menempelnya sejak putaran pertama juga mengalami kendala yang sama dengan Jazz. Setelah sebelumnya tertinggal hanya satu angka, putaran ketiga yang buruk—ia bermain 1-over 72—membuatnya harus berjuang empat angka.

Sebagai putaran yang penting, pada hari ketiga tersebut pegolf tuan rumah meramaikan persaingan papan atas setelah bermain total 205 dan bersiap untuk habis-habisan memainkan putaran final.

Jazz yang menjalani putaran akhir dengan kondisi kurang tidur, memang tak menunjukkan permainan super seperti ketika membukukan 7-under 64 pada hari pertama. Namun, skor 4-under 67 membuatnya tak mungkin disalib oleh siapa pun juga. Tidak juga oleh Siddikur yang bermain 5-under 66. Sementara Shubhankar Sharma akhirnya harus puas berada di peringkat keempat bersama rekan senegaranya, Chiragh Kumar dan duo Thailand, Panuphol Pittayarat dan Rattanon Wannasrichan.

”Banyak hal yang ada dalam benak saya saat memainkan hole 18. Sudah beberapa kali saya menjadi pimpinan klasemen, tapi tak kunjung berhasil menuntaskannya dengan baik. Saya puas kini saya bisa melakukannya,” kata Jazz.

”Saya kira, inilah hole 18 terpanjang yang saya mainkan seumur hidup saya. Saya gembira bisa menuntaskannya. Saya sudah menunggu kemenangan perdana ini sejak berusia 14 tahun!”

Jazz memang menjadi pegolf termuda dalam sejarah Asian Tour yang berhasil lolos cut ketika ia bermain pada Asian Tour International di Bangkok. Saat itu ia berusia 14 tahun dan 71 hari. Tak heran jika penantian selama 7 tahun ini memberinya kebanggaan.

Sementara itu, tiga pegolf Indonesia yang berpartisipasi ikut bermain di Kurmitola Golf Club mendapati hasil yang beragam. Rory Hie berada di posisi yang lebih baik dengan berada di posisi T47 setelah menorehkan 4-over 288 setelah bermain 72-71-71-74 selama empat putaran.

George Gandranata, satu-satunya juara Asian Development Tour asal Indonesia, berada satu pukulan di belakang Rory dengan torehan skor 289 dan finis di peringkat T53. Skor terbaik ia bukukan pada putaran kedua setelah bermain 2-under 69 sekaligus membuatnya berhasil masuk dua putaran final.

Adapun Danny Masrin harus puas berada di posisi T65. Danny mencatatkan skor 69-75-77-73 untuk ajang Asian Tour pertamanya tahun ini.