Jazz Janewattananond menuntaskan misinya pada pekan ini. Bermain dengan skor 6-under 65 pada putaran final, ia berhasil menjuarai SMBC Singapore Open, sekaligus mengamankan tempat untuk bermain pada The Open Championship tahun ini.

Menjadi salah satu pemain unggulan sejak awal turnamen, Jazz membuktikan diri bahwa status tersebut memang tepat. Dan meskipun sejumlah nama top, seperti Sergio Garcia, Paul Casey, Davis Love III, dan Matthew Fitzpatrick ikut meramaikan persaingan, pegolf berusia 23 tahun ini seolah tidak merasakan tekanan berarti.

Keinginan untuk kembali bermain pada ajang Major tertua di dunia itu menjadi motivasi utama bagi Jazz ketika memainkan putaran final tadi (19/1). Ia menyebutkan debutnya pada The Open tahun lalu sebagai prestasi terbesar yang pernah ia raih, dan hal itu memperkuat hasratnya untuk bisa kembali.

Paul Casey, yang memulai putaran final dengan satu stroke di belakang Jazz dan bermain lebih awal berusaha untuk meningkatkan tekanan terhadap pegolf Thailand tersebut dengan mencatatkan empat birdie di sembilan hole pertama. Namun, Jazz masih mempertahankan keunggulan setelah bermain 5-under di sembilan hole pertamanya.

Meski sempat mendapat bogey di hole 13, Jazz menambah perolehan birdie-nya di hole 16 dan 18, sekaligus memastikan gelar Asian Tour ketiga baginya, dan menembus 100 besar dunia untuk pertama kali dalam karier profesionalnya. Skor total 18-under 266 sudah lebih dari cukup untuk memenangkan turnamen ini.

Fujimoto, yang juga berniat mengakhiri puasa gelarnya selama lima tahun terakhir, berusaha untuk menambah tekanan bagi Jazz. Namun, pegolf yang terakhir menjuarai Toshin Golf Tournament pada 2013 lalu ini hanya berhasil menambah tiga birdie di sembilan hole terakhirnya. Meskipun ia juga membukukan birdie di hole 18, ia harus finis di tempat kedua lantaran berada dua stroke di belakang Jazz. Posisi ini juga memberinya hak bermain pada The Open.

“Sebenarnya, saya tidak berharap bisa menang. Saya berniat untuk meraih tiket The Open. Saya mulai merasakan tekanan ketika memainkan sembilan hole terakhir. Dan saya malah mendapat bogey yang konyol di hole 13, yang hampir saja membuang keunggulan saya,” tutur Jazz.

Ia menambahkan, setelah bogey tersebut, ia mulai merasa gugup. Beruntung ia kemudian berhasil mengamankan par di dua hole berikutnya dan membantunya menemukan momentum untuk kembali mendapat birdie di hole 16.

“Saya tidak yakin menang sampai berada di hole 18,” tutur Jazz yang kini berlatih dengan pelatih kenamaan Inggris, Pete Cowen.

“Saya akan pulang dan merayakan kemenangan ini dengan keluarga saya. Ayah saya baru saja sukses menjalani operasi dan saya sangat ingin menjumpai dia dan membagikan trofi ini dengannya.”

Kemenangan ini praktis menjadikannya sebagai pegolf Thailand ketiga yang sukses menjuarai turnamen ini. Ia mengikuti jejak dua seniornya, Thaworn Wiratchant (2001) dan Prayad Marksaeng (2017).

Selain Jazz dan Fujimoto, dua tempat di Royal Portrush berhasil diraih oleh rekan senegaranya, Prom Meesawat dan pegolf Korea Mun Doyeob. Bagi Mun, The Open tahun ini akan menjadi debutnya pada ajang Major. Sementara Prom akan tampil untuk kedua kalinya, setelah pada 2011 sempat bermain di Royal St George.

Sementara itu Davis Love III harus memupus harapannya untuk bisa bermain pada ajang The Open lantaran hanya finis T9 dengan skor total 7-under 277.

Leave a comment