Brooks Koepka akhirnya resmi mencapai status pegolf nomor satu di dunia menurut Official World Golf Ranking. Kemenangannya di Jeju, Korea pada hari Minggu, 21 Oktober 2018 itu tak hanya memberinya awal yang meyakinkan pada musim 2018-2019, tapi juga memberinya mahkota yang menjadi salah satu impian para pegolf profesional di seluruh dunia.

“Jelas menyenangkan sekali (bisa menjadi No.1 Dunia). Posisi itu merupakan sesuatu yang selalu ingin saya dapatkan, saya selalu ingin menjadi No.1 Dunia pada pekan ketika saya bermain,” aku Koepka ketika ia menempati posisi ideal pada akhir putaran ketiga THE CJ CUP @ NINE BRIDGES. Kala itu ia telah memiliki keunggulan empat stroke dan 18 hole tersisa untuk mewujudkan impian tersebut.

“Saya pikir saya bisa benar-benar meraihnya, bukan dengan tidak bermain lalu tiba-tiba mendapatkan status tersebut. Tidak, bakal lebih istimewa lagi jika bisa mewujudkannya, dan melakukan di sini (di Korea) akan lebih bagus lagi dan semoga saya bisa menjadi No.1 Dunia dan memastikannya dengan kemenangan. Saya pikir tak ada cara lain yang lebih baik daripada melakukan hal tersebut.”

Koepka menampilkan performa yang menegangkan, sekaligus cukup dramatis pada hari Minggu kemarin untuk mewujudkan harapannya tersebut. Kita seolah diajak untuk menyaksikan sebuah tayangan penuh aksi, sebuah film aksi, di mana sang protagonisnya harus mengalami tekanan demi menciptakan antiklimaks yang ideal.

“Saya memulai turnamen pro pertama saya di Swiss dan saya pikir saat itu saya tak bakalan bilang kalau enam tahun kemudian saya akan menjadi pegolf No.1 Dunia.”

Bak sutradara handal yang paham bagaimana memuaskan para penonton, Koepka seakan membuka pintu bagi Sang Faktor X untuk memberi ketegangan yang dibutuhkan, meski hal itu jelas tidak ia maksudkan secara sengaja. Dan Sang Faktor X pada hari Minggu itu salah satunya bernama Gary Woodland. Woodland sempat memberikan tekanan kepada Koepka setelah ia bermain enam birdie, sementara Koepka hanya bermain 1-under.

Tapi Koepka menunjukkan kekuatan mental dan kemampuannya untuk mewujudkan apa yang ia harapkan sejak turnamen yang diadakan di The Club @ Nine Bridges itu dimulai. Enam birdie dan sebuah eagle untuk menutup hole 18, dan Koepka tak hanya menjadi juara, meneruskan tradisi Justin Thomas sebagai PGA TOUR Player of the Year yang memenangkan THE CJ CUP @ NINE BRIDGES.

Kemenangannya di Korea itu menjadi satu bagian dari perjalanan profesional yang relatif unik dan cukup panjang dari seorang Amerika. Koepka mengasah kemampuannya dari kasta terbawah, ketika ia mulai berkompetisi pada European Challenge Tour. Ia masih ingat persis turnamen pertama yang ia mainkan di Swiss kala itu.

“Saya memulai turnamen pro pertama saya di Swiss dan saya pikir saat itu saya tak bakalan bilang kalau enam tahun kemudian saya akan menjadi pegolf No.1 Dunia. Dari semua tempat, di mana saya meraih kemenangan, kami melihat statistiknya kemarin di mana saya berhasil menembus peringkat 1000 besar, 500 besar, 400, 300, dan seterusnya, dan saya pikir saya menembus 10 besar di Amerika Serikat, sementara yang lain saya lakukan di negara lain, jadi rasanya sangat tepat jika bisa melakukannya (meraih No.1 Dunia) di Korea,” ujar Koepka.

Brooks Koepka (kanan) berjalan bersama sesama atlet Nike, Jason Day. Nike mengambil keputusan tepat mengontrak Koepka pada awal 2016. Foto: Rolex/Chris Turvey.

Sejak beralih profesional pada 2012, Koepka mengasah dan mengembangkan permainannya di Eropa. Ia bahkan meraih gelar profesional pertamanya di Benua Biru tersebut, tepatnya di Spanyol, ketika memenangkan Challenge de Catalunya. Tahun berikutnya, ia menjuarai tiga turnamen di kompetisi batu loncatan itu, Montecchia Golf Open, Fred Olsen Challenge de Espana, di mana ia memecahkan rekor skor kemenangan terbesar dalam 25 tahun European Challenge Tour, dan Scottish Hydro Challenge, untuk memastikan kartu European Tour pada tahun ketiga karier profesionalnya.

“Eropa merupakan kunci penting bagi keberhasilan Brooks,” ujar Bob Koepka, sang ayah, sebagaimana dikutip dari ESPN. “Eropa membuatnya tangguh dan membuatnya fokus. Dia belajar bagaimana bermain di berbagai negara, dengan berbagai elemen. Ia menang di Skotlandia dalam kondisi hujan dan angin. Ia menjadi pemain yang lebih baik ketimbang bermain di lapangan yang dirawat, dengan kondisi yang sempurna seperti di Amerika sini.”

Pada level European Tour, ia berhasil menjuarai Turkish Airlines Open 2014 dan baru menorehkan prestasi di Amerika pada tahun 2015 ketika ia menjuarai Waste Management Phoenix Open, yang memberinya minimal satu kemenangan pada tiap tahun sejak ia beralih profesional. Lalu pada periode 2016 dan 2017 ia menaklukkan Jepang dengan menjuarai Dunlop Phoenix Tournament dua tahun berturut-turut, yang sekaligus memberikan warna istimewa dalam perjalanan kariernya.

Tidak banyak yang mengenal Koepka di Amerika karena perjalanan kariernya tersebut. Tapi sebenarnya, potensi tersebut setidaknya berhasil ditangkap oleh Nike, ketika raksasa olahraga itu mengontrak Koepka. Dan jika Nike sudah mengikat kontrak dengan seorang atlet, itu berarti sesuatu yang serius. Dalam perjalanan sejarah, kita melihat ketajaman keputusan Nike tersebut ketika mereka memilih Tiger Woods.

Potensi Brooks Koepka turut ditangkap oleh Rolex, yang menahbiskan Koepka sebagai salah satu Rolex Testimonee. Rolex sendiri telah berpartisipasi mendukung golf lebih dari setengah abad. Foto: Rolex/Chris Turvey.

Baiklah, memang tak selalu sehegemoni itu. Beberapa nama, seperti Noh Seung-yul, misalnya, ternyata tidak terlalu sukses menjalani kariernya pada PGA TOUR usai menjadi pegolf termuda yang menjuarai Order of Merit Asian Tour. Dan bahwa kemudian Nike tidak lagi memproduksi perangkat golf dan hanya berfokus pada apparel, sesuatu yang masih melekat di tubuh Koepka ketika meraih tiga kemenangan Major-nya, adalah hal yang lain, tapi kita harus akui bahwa Nike cenderung jeli melihat seorang atlet.

Lalu jangan lupakan pula nama besar Rolex. Perusahaan arloji papan atas asal Swiss ini juga melihat Koepka sebagai pemain potensial sehingga menyertakannya sebagai salah satu Rolex Testimonee. Bersama para pemain muda lainnya, seperti Justin Thomas, Jordan Spieth, Rickie Fowler, Jason Day, Hideki Matsuyama, Jon Rahm, dan Thomas Pieters, Koepka menjadi bagian dari barisan Rolex New Guard, generasi golf baru yang telah menunjukkan kapasitas mereka di panggung dunia.

Pertengahan tahun 2017, penilaian para sponsor tersebut terbukti. Koepka membuka mata publik golf Amerika ketika pada Juni 2017 ia menjuarai U.S. Open di Erin Hills dengan skor 16-under 272, mengalahkan Brian Harman dan Hideki Matsuyama. Catatan skornya kala itu menyamai rekor 16-under yang dibukukan Rory McIlroy pada 2011, sebagai skor terendah pada U.S. Open.

“Itu permainan terbaik yang pernah saya mainkan,” ujarnya usai membukukan 5-under 67 pada hari terakhir kala itu. “Pukulan saya luar biasa, kontrol kecepatan saya juga hebat, dan saya (bisa) menerbangkan bola (dengan baik).”

Tapi U.S. Open tersebut menjadi satu-satunya turnamen yang ia menangkan pada tahun 2017. Ia sempat finis T6, posisi terbaik yang pernah ia bukukan pada The Open Championship, lalu T13 pada U.S. PGA Championship.

“Saya punya rasa percaya diri yang berlimpah untuk memenangkan ajang Major, di mana tiap kali mulai bermain, saya merasa saya benar-benar punya peluang bagus untuk menang, entah saya memiliki permainan terbaik saya atau tidak.”

Cedera pergelangan tangan pada awal tahun ini membuat Koepka harus absen setidaknya selama sepuluh pekan. Rentang waktu itu cukup untuk memaksanya absen untuk kembali tampil di Augusta. Tapi cedera tersebut seakan mempersiapkan Koepka untuk mencatat sejarah baru. Persis seperti ungkapan, “Mundur selangkah, untuk maju dua langkah.”

Tahun ini terbukti menjadi tahun terbaik bagi karier profesionalnya. Sepanjang musim 2017-2018, Koepka berhasil menembus putaran akhir pekan sebanyak 15 dari 17 turnamen yang ia ikuti. Ia bahkan memulai musim tersebut dengan finis di tempat kedua di belakang Justin Rose pada World Golf Championships-HSBC Champions. Lalu ia juga sukses mempertahankan gelar U.S. Open, sekaligus menjadi pemain pertama sejak Curtis Strange (1988, 1989) yang berhasil melakukan hal tersebut. Lalu ia juga memenangkan U.S. PGA Championship untuk menjadi pegolf pertama sejak Jordan Spieth (musim 2014-2015) yang berhasil memenangkan dua gelar Major dalam satu musim.

Prestasinya tersebut pun berhasil menempatkannya di sepuluh besar klasemen FedExCup untuk kedua kalinya, setelah pada musim sebelumnya finis di peringkat 10. Tak hanya itu, ia pun mendapat pengakuan dari rekan-rekan profesionalnya, yang memilihnya sebagai PGA TOUR Player of the Year 2018, persis setelah ia meraih penghargaan PGA Player of the Year dari PGA of America.

Kemenangannya pada ajang U.S. PGA Championship di Bellerive Golf Course, Missouri, juga menjadi kemenangan yang istimewa. Kemenangan yang ia raih di tengah kebangkitan Tiger Woods, sesuatu yang tekanannya sangat terasa. Kemenangan yang menunjukkan kekuatan mental, kemampuan yang tangguh, persis pada ajang PGA TOUR ke-100 yang ia mainkan.

“Anda bisa mendengar sorakan penonton tiap 30 detik, jadi Anda tahu apa yang sedang terjadi. Sorakan itu cukup jelas ketika Tiger mendapat birdie,” ujar Koepka untuk menggambarkan bagaimana Tiger dan Tiger Mania, yang bangkit kembali, memberi tekanan luar biasa bagi siapa pun yang tengah memimpin.

Koepka mungkin telah menjuarai tiga Major dan mencapai No.1 Dunia, tapi sebagai pegolf profesional, ia masih memiliki banyak hal yang belum ia raih dan hal itu membuat perjalanan kariernya akan tetap menarik untuk diikuti. Foto: Rolex/Chris Turvey.

Dan, seperti yang Anda semua ketahui, Koepka bak batu karang yang menjulang tegak menghadapi ombak massa dan Tiger Woods: kukuh di puncak klasemen untuk memenangkan Major ketiganya. Kemenangan yang mungkin layak membuatnya menjadi Spesialis Major, mengingat dari lima gelar PGA TOUR yang ia raih, tiga di antaranya adalah turnamen Major.

“Saya merasa permainan saya disiapkan untuk hal tersebut (ajang Major). Saya punya rasa percaya diri yang berlimpah untuk memenangkan ajang Major di mana tiap kali saya mulai bermain, saya merasa saya benar-benar punya peluang bagus untuk menang, entah saya memiliki permainan terbaik saya atau tidak,” ujar Koepka suatu saat.

Mungkin tak banyak juga yang mengetahui bahwa posisi Koepka saat ini sekadar mewujudkan prediksi yang ia cetuskan sendiri kepada sang ayah ketika masih SMP, bahwa suatu saat nanti ia akan menjadi pemain bintang PGA TOUR. Visi itu telah menjadi kenyataan.

Koepka mungkin hanya memegang status No.1 Dunia dalam beberapa pekan saja usai ia meraih peringkat prestisius tersebut. Posisinya itu sempat digeser oleh Justin Rose setelah pegolf Inggris tersebut menjuarai turnamen yang Koepka menangkan pada 2014 lalu, Turkish Airlines Open. Tapi kita masih belum sampai pada penghujung tahun ini, yang berarti Koepka masih berpeluang menutup tahun 2018 dengan berada di No.1 dunia.

Bagaimanapun juga, Koepka mendapati bahwa perjalanan yang ia tempuh merupakan perjalanan yang panjang dan berliku. Lagi pula, masih ada banyak hal yang belum diwujudkan olehnya. Dan itu berarti kisah perjalanan Koepka masih akan terus berlanjut.

 

Gelar PGA TOUR
2018 THE CJ CUP @ NINE BRIDGES, U.S. Open, U.S PGA Championship
2017 U.S. Open U.S. Open
2015 Waste Management Phoenix Open

Gelar Internasional
2017
Dunlop Phoenix Tournament (Japan Golf Tour)
2016 Dunlop Phoenix Tournament (Japan Golf Tour)
2014 Turkish Airlines Open
2013 Scottish Hydro Challenge, Fred Olesen Challenge de Espana, Montecchia Golf Open (ketiganya European Challenge Tour)

Leave a comment