Perayaan 45 tahun Indonesia Open tahun ini kembali didukung oleh Bank BRI sebagai sponsor utama.

Kepastian bakal kembalinya penyelenggaraan Indonesia Open pada 31 Agustus hingga 1 September 2019 di Pondok Indah Golf Course menjadi suatu pernyataan komitmen yang sangat tegas dari Persatuan Golf Indonesia bahwa kejuaraan tahunan ini merupakan salah satu ajang penting bagi golf di Indonesia.

Kembalinya Indonesia Open ke Pondok Indah Golf Course juga menandakan kali ketujuh turnamen ini digelar di lapangan papan atas tersebut. Sebelumnya, Indonesia Open digelar di lapangan ini pada 1981, 1984, 1985, dan 2016 hingga 2019 tahun ini.

“Turnamen ini merupakan turnamen golf kebanggan kita bersama. Sebagai turnamen bertaraf internasional, ada banyak pemain hebat yang sudah mengikuti turnamen ini dan melambungkan karier mereka berkat kemenangan di sini. Jadi, kami ingin agar atlet-atlet kita semakin termotivasi untuk mencapai prestasi yang lebih tinggi dengan kembali diselenggarakannya Indonesia Open tahun ini,” ujar Ketua Umum Persatuan Golf Indonesia (PGI) Murdaya Widyawimarta mengungkapkan.

Kembalinya Indonesia Open pada tahun ini juga menjadi kesempatan yang ideal bagi sejumlah atlet amatir Indonesia. Sekretaris Jenderal PGI Anthony Chandra menambahkan bahwa tahun ini sepuluh pemain amatir akan mendapat tempat untuk bertanding sekaligus mengasah kemampuan mereka.

Dua tempat pertama telah diberikan kepada dua atlet amatir terbaik Indonesia saat ini, Naraajie Emerald Ramadhan Putra dan Almay Rayhan Yagutah. Sementara delapan tempat lainnya akan diperebutkan melalui pertandingan kualifikasi yang akan segera diadakan oleh PGI.

Waktu penyelenggaraan tahun ini juga terbilang mengambil momen yang sangat tepat, mengingat sejumlah atlet amatir Indonesia tengah berada pada kondisi terbaik untuk berkompetisi. Naraajie, misalnya, telah meraih gelar internasional pertama ketika menjuarai Saujana Amateur Championship, salah satu kejuaraan amatir bergengsi di Malaysia.

Selain itu, atlet muda berbakat lainnya, Alfred Raja Sitohang, meraih kemenangan pada tur Amerikanya saat memenangkan Eagle Crest Junior Championship, sebuah turnamen pada American Junior Golf Association.

Justin Harding dari Afrika Selatan memenangkan edisi tahun 2018 lalu. Sayangnya, tahun ini ia tak dapat kembali ke Jakarta karena berfokus mengejar kartu PGA TOUR. Foto: Golfin’STYLE.

Sementara itu, Kentaro Nanayama, juga telah mengukir sejumlah prestasi, di antaranya dengan menjuarai ATI Ciputra Golfpreneur Junior World presented by AKI sekaligus menempati posisi runner up pada Order of Merit Junior Golf Tour Asia (JGTA) tahun ini.

Prestasi-prestasi tersebut menjadi buah dari program jangka panjang yang mulai diterapkan PGI sejak Murdaya Widyawimarta memimpin asosiasi olahraga golf ini. Kehadiran dua pelatih Australia David Milne dan Lawrie Montague untuk program pelatihan nasional ini juga tak hanya memberi dampak bagi para pemain amatir, tapi juga pemain profesional, mengingat beberapa di antaranya juga kerap berkonsultasi dengan duo pelatih nasional ini.

Komitmen PGI untuk menggelar Indonesia Open tahun ini kembali disambut oleh Bank BRI untuk kembali berperan sebagai sponsor utama. Ini menjadi partisipasi yang kelima kalinya secara berturut-turut bagi Bank BRI pada turnamen paling bersejarah ini. Dengan dukungan penuh dari Bank BRI, turnamen ini pun resmi disebut sebagai Bank BRI Indonesia Open dan akan memperebutkan total hadiah senilai US$500.000, dan menjadi salah satu ajang Asian Tour untuk musim ini.

Executive Vice President Corporate Funding Bank BRI Achmad Purwakajaya mengungkapkan, “Sebagai bank BUMN, kami terpanggil untuk ikut meningkatkan prestasi melalui turnamen bergengsi ini. Turnamen ini turut memberi kesempatan bagi para pemain amatir agar bisa lebih meningkatkan prestasinya. Bank BRI sendiri turut aktif mendukung berbagai cabang olahraga lainnya dan khusus pada saat ini, kami gembira dan berbangga bisa kembali menjadi sponsor utama.”

Peringatan 30 Tahun Kemenangan Putra Indonesia
Indonesia Open tahun ini juga layak dianggap sebagai gelaran istimewa. Pertama, ini merupakan kali kelima bagi Bank BRI mensponsori turnamen ini. Status bank plat merah sebagai bank tertua di Indonesia menempatkannya sebagai sponsor yang paling ideal untuk mendukung Indonesia Open, yang merupakan turnamen golf dengan sejarah terpanjang di Indonesia.

Selain itu, Indonesia Open tahun ini sekaligus menjadi peringkatan 30 tahun sejak satu-satunya putra bangsa menjuarai turnamen golf bergengsi ini. Pegolf asal Surabaya, Jawa Timur, Kasiadi menjadi satu-satunya pegolf Indonesia yang memenangkan kejuaraan ini pada tahun 1989 ketika Indonesia Open diselenggarakan di Jakarta Golf Club, Rawamangun, Jakarta.

Dalam Indonesia Open edisi ke-16 tersebut, Kasiadi mencatatkan salah satu permainan terbaiknya di Jakarta Golf Club. Memulai putaran final dari posisi 12, Kasiadi mencatatkan tujuh birdie berturut-turut di sembilan hole pertamanya, sesuatu yang ia sebut sebagai sebuah keberuntungan. Meskipun harus mendapat double bogey di hole terakhir, ia masih bisa mempertahankan keunggulannya dan menjadi satu-satunya pegolf Indonesia yang pernah menjuarai Indonesia Open, setidaknya hingga saat ini.

Bank BRI Indonesia Open tahun ini menjadi tahun yang istimewa karena menjadi peringatan 30 tahun kemenangan Kasiadi, sebagai satu-satunya pegolf Indonesia yang bisa memenangkan turnamen bergengsi ini. Terakhir ia tampil pada Indonesia Open 2012, kala itu di bawah naungan OneAsia. Foto: Taufik Dwilesmana.

Setelah 1989, Indonesia baru bisa meraih prestasi di level regional ketika George Gandranata menjuarai PGM LADA Langkawi Championship, 27 tahun sejak kemenangan Kasiadi.

Momen istimewa tahun ini pun mendorong Bank BRI dan PGI untuk berkomitmen untuk mengundang Kasiadi. Sayangnya, masih belum bisa dipastikan apakah undangan ini berarti bahwa Kasiadi bakal bisa kembali bertanding atau tidak.

Pada edisi 2016 lalu, juara Indonesia Open 1985 asal China Taipei, Lu Chien-soon juga sempat kembali tampil. Sayangnya, ia gagal menembus dua putaran terakhir lantaran skor totalnya kurang satu stroke dari batas cut off yang ditentukan.

Meskipun mendapat tempat yang istimewa dalam sejarah golf di Indonesia, sayangnya kelemahan dalam pengarsipan menimbulkan kendala tersendiri. Dalam rilis yang disampaikan kepada media massa pada hari Rabu (14/8) lalu, PGI menyampaikan bahwa tahun ini merupakan tahun ke-39 bagi turnamen ini.

Salah satu sumber kami menyebutkan bahwa sejak digelar pada 1974, ada tiga periode ketika Indonesia Open tidak diselenggarakan. Pertama, pada tahun 1992. Periode kedua ialah pada tahun 1998-2004. Dan terakhir ialah pada tahun 2015. Seandainya Indonesia Open diselenggarakan pada tiga periode tersebut, tahun ini menjadi edisi ke-46. Dengan tiga periode absennya turnamen ini dari blantika golf nasional, penyelenggaraan Indonesia Open tahun ini menjadi penyelenggaraan yang ke-37.

Ketua Panitia Bank BRI Indonesia Open 2019 Agus Suhartono, yang juga menjabat Wakil Ketua Umum PGI, mengungkapkan bahwa tahun ini pihaknya telah mengirimkan undangan kepada sekolah-sekolah yang ada di sekitar Pondok Indah Golf Course. Kehadiran anak-anak sekolah ini dimaksudkan untuk meramaikan turnamen kali ini, sekaligus memperkenalkan golf kepada anak-anak sekolah.

Jelas hal ini dimaksudkan untuk mencoba memperkenalkan golf sekaligus menumbuhkan ketertarikan terhadap olahraga ini. Sayangnya, PGI tidak menyebutkan program-program apa saja yang bakal mereka gagas untuk memikat publik luas agar mau datang ke Pondok Indah Golf Course pada 29 Agustus hingga 1 September 2019 mendatang.

Leave a comment