Im Sungjae masih mempertahankan peluangnya untuk menorehkan sejarah dalam debutnya pada Masters Tournament.

Im Sungjae masih ingat masa kecilnya dulu. Pada pekan Masters Tournament, ia akan bangun pada tengah malam untuk menyaksikan ajang Major ini. Matanya pun terpaku pada Tiger Woods saat melakukan chip-in yang terkenal di hole 16, yang kemudian membantunya meraih kemenangan pada tahun 2005. Namun, kali ini justru Imlah yang akan membuat para penggemar golf di Korea terjaga pada tengah malam untuk menyaksikan dirinya. Memasuki putaran final di Augusta National malam ini, pegolf berusia 22 tahun ini akan berusaha untuk mencatatkan sejarah baru.

Performa pegolf asal Jeju ini memang mengagumkan. Setelah serangkaian performa yang jauh dari meyakinkan pada ajang PGA TOUR, ia mendadak seperti menemukan kembali bentuk permainan yang selama ini menjadi karakternya. Total 19 birdie yang ia bukukan selama tiga putaran dalam penampilan pertamanya di Augusta telah membawanya ke peringkat kedua klasemen sementara. Bersama Abraham Ancer asal Meksiko dan Cameron Smith dari Australia—keduanya merupakan rekan Im ketika mewakili Tim Internasional pada ajang Presidents Cup 2019—Im mengumpulkan skor total 12-under 204 dan berjarak empat stroke dari Juara FedExCup 2020, yang sekaligus pegolf No.1 Dunia Dustin Johnson.

Sejauh ini belum pernah ada pegolf Asia yang menjuarai Masters Tournament. Melihat posisi Im saat ini, para penggemar berat golf di Korea jelas akan mengingat bagaimana prestasi terbaik yang pernah dibukukan wakil mereka tercipta pada tahun 2004. Kala itu legenda Korea bernama K.J. Choi sempat finis di peringkat ketiga. Dan Im tak hanya berpeluang untuk memperbaiki catatan tersebut, tapi juga berpeluang menjadi salah satu legenda di Augusta.

Sepanjang tiga putaran ini, Im terlihat seperti bermain di rumah sendiri, meskipun ini merupakan debutnya pada ajang Masters Tournament. Ia memastikan haknya bermain pada ajang prestisius ini setelah meraih gelar PGA TOUR pertamanya, The Honda Classic, pada bulan Maret 2020 lalu. Sepertinya, salah satu rahasia performanya yang cemerlang dalam tiga hari terakhir ini ialah frekuensinya menyaksikan Masters Tournament selama bertahun-tahun. Tayangan tersebut melekat begitu kuat dalam benaknya sampai-sampai ia bisa membayangkan dengan baik bagaimana mesti bermain di sana.

 

 

”Ketika melihat ke fairway dari tee box, secara visual saya bisa melihat ke mana saya harus memukul bola dan bagian mana yang harus saya hindari. Itu sebabnya saya merasa nyaman bermain di sini. Saya tumbuh dengan menonton Masters berkali-kali, jadi rasanya saya terbiasa bermain di sini meskipun baru kali ini saya bermain di sini. Lapangannya tak hanya cocok buat saya, tapi para pemain Korea juga. Dan saya kira itu juga alasan mengapa saya bisa mempertahankan performa saya. Saya ingin tetap tenang dan mempertahankan rencana permainan, serta meminimalisasi kesalahan sebanyak mungkin sehingga bisa finis di posisi yang bagus,” papar Im lagi.

Jelas bukan hanya karena itu. Im juga mendapat dorongan dari sang legenda sendiri. Sebagai pionir, sosok K.J. Choi tak pernah segan untuk membantu para pegolf yang lebih muda untuk berkembang bahkan melampaui prestasinya. Sejauh ini, dengan delapan gelar PGA TOUR, termasuk THE PLAYERS Championship 2011, Choi menjadi pegolf Korea tersukses dalam sejarah PGA TOUR. Dan ia kini ikut mendorong pertumbuhan prestasi para pemain, seperti Im.

”Permainan saya itu terdiri dari pukulan yang lurus dan sedikit fade. Saya mengobrol dengan K.J. yang telah meraih banyak sukses di sini, dan dia bilang kalau jenis pukulan saya akan sangat cocok untuk Augusta National,” ujar Im

Putaran final pada hari Minggu (15/11) ini akan menjadi sangat menarik, mengingat Im akan bermain bersama Johnson dan rekan Tim Internasional pada ajang Presidents Cup, Abraham Ancer asal Meksiko. Ancer sendiri menorehkan skor 69 untuk sama-sama berada di tempat kedua. Anggota Tim Internasional lainnya asal Australia, Cameron Smith, juga menempati peringkat kedua.

Meskipun Johnson kini unggul empat stroke darinya, Im tidak berniat untuk mengubah permainannya pada putaran final nanti. Ia berniat untuk mempertahankan rencana permainannya dan berharap bisa memberi kejutan dan menjadi legenda baru pada ajang Masters ini. Sejauh ini Im seakan bermain di rumah sendiri, mengingat sejauh ini ia berhasil menorehkan 19 birdie. Johnson, yang menjadi target Im, telah menjuarai 23 gelar PGA TOUR, termasuk satu gela Major, ia telah 21 kali memimpin atau berbagi tempat teratas setelah 54 hole dalam 21 ajang PGA TOUR. Dari kesempatan sebanyak itu, sepuluh di antaranya berhasil ia menangkan, namun belum sekalipun Johnson melakukannya pada ajang Major.

”Saya tahu akan ada banyak orang di Korea yang akan tetap bangun dan tidak tidur untuk menonton Masters dan melihat penampilan saya.” — Im Sungjae.

”Saya tahu akan ada banyak orang di Korea yang akan tetap bangun dan tidak tidur untuk menonton Masters dan melihat penampilan saya. Saya ingin tetap tenang dan memastikan bisa finis dengan baik supaya semua orang bisa senang,” tuturnya lagi.

Sementara itu, rekan senegara Im, Kim Siwoo untuk sementara berada di peringkat T36 setelah bermain 1-over 73. Adapun Juara Indonesian Masters 2019 Jazz Janewattananond mencatatkan skor 75 dan harus memulai putaran final dari posisi T44. Kang Sung juga berada di peringkat yang sama dengan Jazz setelah mencatatkan skor 1-under 71.

Adapun pegolf berusia 29 tahun, C.T. Pan tak dapat menyembunyikan kekecewaannya. Pegolf China Taipei yang juga melakoni debutnya di Augusta National ini merasa kecewa lantaran gagal memaksimalkan beberapa peluang birdie untuk lebih menempel ke jajaran atas. Malahan ia harus mengakhiri putaran ketiga dengan dua bogey dan tanpa birdie sama sekali.

”Hari ini saya sangat senang bisa bermain pada akhir pekan pada Masters pertama saya. Namun, performa hari ini sangat tidak memuaskan. Ajang ini merupakan kesempatan untuk membuktikan diri sendiri, tapi beberapa kali saya kurang beruntung dan saya akan mencobanya sekali lagi besok (hari ini, 15/11). Ini tempat yang indah dan saya akan mempersiapkan diri dan melakukan sejumlah penyesuaian,” ujar pegolf China Taipei pertama yang tampil pada ajang Major ini sejak 2009.

Juara bertahan Tiger Woods tampaknya harus melepas gelarnya setelah hanya mencatatkan even par 72. Ia kini ada di posisi T20, yang di antaranya juga dihuni oleh Pan, dan berjarak 11 stroke dari Johnson.