Ian Andrew akhirnya berhasil mempertahankan gelarnya dengan kembali memenangkan ajang Indonesian Golf Tour presented by OB Golf & Ancora Sports (IGT) di Padang Golf Modern kemarin (Kamis, 31/3). Pegolf asal Bali ini menunjukkan kualitas permainan yang luar biasa pada putaran ketiga tadi dengan bermain 7-under 65. Catatan kemenangannya kali ini diwarnai dengan raihan double eagle atau albatros yang ia raih di hole 5.

Bermain 3 stroke di belakang Jordan Surya Irawan dan I Ketut Sugiarta, Ian mengawali upayanya untuk mempertahankan gelar yang ia raih tahun lalu ini dengan birdie di hole 2. Dan di hole 5, ia mencatatkan skor langka dalam permainan golf, yaitu albatros atau double eagle ketika pukulan keduanya akhirnya masuk. Birdie di hole 9 membawanya mengimbangi permainan pegolf tuan rumah I Ketut Sugiarta.

Ketut Sugiarta sendiri hanya bermain 1-under dalam sembilan hole pertamanya sehingga keunggulan 3 stroke di awal putaran akhir harus sirna. Dan untuk pertama kalinya pula ia akhirnya tertinggal setelah Ian memasukkan birdie yang ke-4 di hole 13.

Bermain tanpa bogey pada putaran kedua, Ian hampir mengulangi prestasi tersebut sampai akhirnya mendapat bogey pertama dan satu-satunya di hole 17. Pukulan tee-nya gagal mencapai green sehingga ia mesti melakukan chip dari epron. Celakanya, upaya putting untuk mengamankan par harus gagal. Tepat pada saat itulah ia mengetahui pesaingnya, Ketut Sugiarta, malah balik memberi tekanan dengan birdie di hole 16.

Apa yang terjadi di hole 18 mengingatkan kita pada play-off Ian dengan Joshua Andrew Wirawan tahun lalu di Emeralda Golf Club. Sadar bahwa peluangnya untuk menjadi juara sangat ditentukan di hole terakhir, Ian memutuskan untuk menggeber pukulannya. Pukulan keduanya sempat melewati green, tapi chip-nya berhasil mengantarkan bola mendekati hole untuk memudahkannya memastikan birdie.

Memasuki hole penentuan, Ketut Sugiarta tidak sadar kalau Ian telah mematok total skor 10-under 206 sehingga akhirnya memainkan hole terakhir dengan strategi yang kurang maksimal. “Saya kira Ian masih 9-under karena sempat bogey di hole 17. Ternyata saat saya mau melakukan pukulan kedua, dia sudah 10-under,” ujar Ketut.

Ia masih berpeluang memaksakan play-off kalau saja putt-nya dari jarak sekitar 8 meter dari hole berhasil ia masukkan. Sayangnya, putt tersebut hanya mengantarkan bola lebih dekat ke hole sehingga ia harus merelakan gelar juara dipertahankan oleh Ian, yang sebelum turnamen ini berlangsung harus istirahat selama dua pekan lantaran sempat terkena gejala demam berdarah.

“Saya baru mulai melihat kesempatan ketika memasuki putaran kedua. Jarak skor saya hanya terpaut tiga poin, jadi saya berpikir masih ada kemungkinan nih,” ungkap Ian. “Saya mulai mendapatkan momentum setelah mendapat albatros di hole 5 itu. Saya merasa ini mungkin harinya saya sehingga saya menjadi lebih semangat lagi.”

Kemenangan kali ini menjadikan Ian Andrew menjadi satu-satunya pemain yang berhasil mengoleksi lima gelar IGT. Sebelumnya, ia telah menjuarai PGP Classic 2014, dan tahun lalu menjuarai Seri II, Seri VII, dan Grand Final.

Sementara itu dari kelas amatir, putra I Ketut Sugiarta berhasil menjadi pemain amatir terbaik. Selama tiga hari, Kadek Adi Aksama Putra berhasil mencatatkan total skor 3-over 219.

“Benar-benar nggak nyangka tiga hari ini. Pada hari pertama, saya pikir nggak bakal menang [untuk kelas amatir]. Hari ketiga ini saya mungkin bermain aman, tapi nyatanya saya mendapatkan eagle (di hole 14) dan menjadi semangat lagi,” tutur Kadek sambil tersenyum puas.

Sang ayah sendiri, meskipun belum berhasil menjadi juara di rumah sendiri, mengaku gembira akan keberhasilan putranya yang saat ini masih duduk di kelas 1 SMK ini. “Sangat bersyukur ya. Memang sebelum turnamen ini [latihannya] kita godok terus. Jadi, pulang sekolah langsung latihan,” ungkap Ketut.

IGT kali ini berhasil memikat banyak pemain amatir. Dengan total 45 pemain amatir yang berpartisipasi, tingkat persaingan dan kualitas para pemain pun bisa diharapkan akan terdongkrak, terlebih ketika mereka harus bersaing dengan para pemain profesional.

Pemain wanita terbaik kali ini, Nadya Rosiana, mengaku, “Saya mendapatkan pengalaman yang banyak dari IGT. Ke depannya saya ingin berpartisipasi di turnamen-turnamen IGT. Main disini (IGT) feel-nya beda, benar-benar terasa turnamen profesional.”