Hsu Wei-Ling mengawali upayanya mengejar momen Olimpiadenya sendiri pada pekan ini dengan membukukan skor 2-under 69 pada putaran pertama kompetisi golf wanita Olimpiade Tokyo.

Hsu Wei-Ling sempat meneteskan air mata ketika rekan senegaranya, C.T. Pan meraih medali perunggu pada kompetisi golf pria hari Minggu (1/8) lalu. Lalu dengan rekan sekamarnya yang meraih medali perak bulutangkis, kini semangatnya terbakar untuk menciptakan kenangannya sendiri pada kompetisi golf wanita Olimpiade Tokyo 2020.

Bukan perkara mudah, terutama ketika putaran pertama tadi (4/8) ia harus bermain dalam kondisi yang panas dan lembab di Kasumigaseki Country Club. Demikian pun ia masih berhasil membukukan skor 2-under 69 untuk menjadi salah satu pemain yang berada di peringkat tujuh. Kini ia terpaut tiga stroke dari pegolf Swedia Madalene Sagstrom, yang bermain luar biasa dan menorehkan skor 66.

Hsu memang terpaksa mencatatkan bogey di hole terakhir, namun hasil tersebut tak cukup meredam semangatnya. Bisa bertanding di panggung Olimpiade untuk pertama kalinya sudah membuatnya merasakan pengalaman yang luar biasa. ”Sungguh berbeda. Saya sudah ada di sini sejak hari Selasa minggu lalu dan sudah berkeliling di permukiman atlet. Rasanya semua atlet, mereka sangat besar, dan kuat, dan sangat penuh otot. Saya sangat berbeda dari mereka. (Bagaimanapun juga) ini pengalaman yang menyenangkan,” ujar Hsu, yang hanya berpostur 1,57 meter.

Gelar perdana yang ia raih pada LPGA Tour bulan Mei lalu menandakan kehadirannya di panggung besar. Ia sendiri mulai menggeluti golf sejak berusia 7 tahun. Ia menyebut sang ibu sebagai sosok yang memperkenalkan olahraga ini. Dan ketika China Taipei kini meraih prestasi terbaiknya pada kancah Olimpiade berkat raihan dua emas, empat perak, dan lima perunggu, Hsu berhasrat untuk menyumbangkan koleksi medali bagi tim negaranya.

Dengan menyaksikan langsung bagaimana Pan meraih medali perunggu berkat kemenangannya mengatasi enam pemain tangguh lain, seperti Rory McIlroy, Paul Casey, Hideki Matsuyama, dan Collin Morikawa, Hsu berharap bisa mengikuti prestasi Pan pekan ini.

”Sungguh luar biasa melihat apa yang C.T. lakukan. Ia terus membuat birdie dan pada babak play-off, saya bisa berada di sana menyaksikannya dan mendapati seseorang dari China Taipei bisa meraih medali perunggu di depan saya.” — Hsu Wei-Ling.

”Sungguh luar biasa melihat apa yang C.T. lakukan. Ia terus membuat birdie dan pada babak play-off, saya bisa berada di sana menyaksikannya dan mendapati seseorang dari China Taipei bisa meraih medali perunggu di depan saya. Saya menyaksikan seremoninya dan meneteskan air mata. Saya sangat tersentuh. Sungguh luar biasa. Saking menyentuhnya, sampai tiap kali ada yang meraih medali, menjadi inspirasi bagi saya,” tutur Hsu.

”Saya berbagi kamar dengan pemain bulutangkis kami yang mendapat medali perak, jadi saya sampai berkata kepadanya, ’Boleh saya lihat?’ Saya sampai kagum, medalinya berat dan tebal. Astaga, saya memegang dengan tangan saya. Dan saya ingin memilikinya juga. Saya sangat ingin memenangkannya. Kalau bisa berada di podium memegang medali itu, teman-teman dan keluarga saya akan bangga. Sudah tentu saya pun akan bangga pada diri sendiri.”

Meskipun sempat gugup di tee pertama, Hsu mengawali debut Olimpiadenya dengan menciptakan lima birdie di enam hole pertamanya. Ia sempat melakukan tiga putt untuk bogey di hole 7 dan mencatatkan tiga bogey lagi dengan satu birdie tambahan di sembilan hole terakhirnya.

”Saya agak sedikit gugup, tapi masih bisa memasukkan putt jarak jauh di hole pertama dan berkata pada diri sendiri, oke, permainan sudha dimulai. Saya merasa pekan ini berbeda daripada turnamen Tour biasa. Secara keseluruhan, pukulan saya cukup bagus. Saya senang bisa bermain under karena skor under selalu bagus, tapi agak kecewa dengan permainan di hole-hole terakhir,” ujarnya lagi.

Dengan suhu mencapai 36 derajat Celsius pada siang hari, Hsu menyebut kondisi cuaca ini akan memberi tantangan tambahan bagi para atlet yang bersaing meraih medali. ”Rasanya jantung dan kepala saya berdenyut, terutama setelah hole 13. Kondisinya menjadi sangat, sangat panas. Saya takkan bisa langsung latihan lagi setelah ini. Kami harus sering berteduh dan menggunakan payung sesering mungkin. Banyak minum juga dan tidak terlalu banyak memikirkan soal panas. (Fokusnya) sekadar bermain golf,” tandas Hsu.